Understanding “The Big Short”

Photo by Morning Brew on Unsplash

Belajar sambil menonton

Kalau Anda sudah menonton film “The Big Short” dan tidak mengerti apa yang terjadi, you’re not alone. Saya sendiri harus menontonnya 3 kali (sambil mempelajari istilah-istilahnya) sampai akhirnya baru bisa mengerti film tersebut menceritakan tentang apa.

Tapi menurut saya ini adalah salah satu film yang wajib Anda tonton kalau Anda mau mulai belajar dan memahami dunia finance. Karena melalui film ini, Anda dapat mempelajari mengenai:

  • Bagaimana pasar saham bekerja secara umum
  • Apa itu obligasi atau surat utang (bonds)
  • Apa yang disebut dengan “buih” atau bubble dalam dunia ekonomi
  • Perbedaan antara membeli posisi long atau short dalam pasar saham
  • Sisi gelap dari dunia finance
  • …dsb.

Tidak terlalu masalah apabila Anda membaca artikel ini sebelum menonton filmnya, karena setelah itu pasti Anda harus menontonnya lagi beberapa kali sebelum dapat memahami esensi film tersebut secara keseluruhan.

And I will try my best to walk you through it.

Apa itu buih ekonomi?

Apakah Anda pernah bermain meniup bola-bola sabun? Pastinya sewaktu kecil kita pernah bermain meniup bubble ini dan berusaha pelan-pelan meniupnya agar kita bisa menghasilkan bola sabun yang besar, sebelum akhirnya pecah. Prinsip inilah yang mendasari mengapa ada juga fenomena yang dikenal sebagai bubble dalam dunia ekonomi: saat suatu barang/instrumen yang memiliki nilai tukar mengalami kenaikan harga yang perlahan namun berlangsung dalam periode waktu tertentu, sebelum akhirnya pecah dan harga barang/instrumen tersebut turun drastis atau bahkan menjadi tidak berharga sama sekali.

Beberapa contoh buih ekonomi yang terkenal di sejarah ekonomi antara lain adalah:

  • Tulip mania – sebuah fenomena buih di Belanda pada tahun 1600-an dimana terjadi kenaikan benih bunga tulip yang diikuti dengan kemerosotan harga yang drastis.
  • dot-com bubble – sebuah krisis yang mengikuti setelah booming-nya internet atau world wide web selama periode tahun 1993-99, sebelum akhirnya meletus pada tahun 2000 dan terus menerus turun sampai tahun 2002 (krisis ini juga diperburuk oleh terjadinya tragedi World Trade Center pada tahun 2001).
  • 1997 Asian financial crisis – apabila Anda adalah seseorang dari grup usia millenials, mungkin ini adalah satu-satunya krisis yang Anda kenali, karena krisis ini sangat berdampak kepada Indonesia, dimana nilai tukar USD terhadap IDR naik dari harga 2.000 IDR per dolarnya hingga akhirnya mencapai puncaknya di harga 16.800 IDR per dolarnya.
  • Cryptocurrency bubble – termasuk di dalam salah satu buih yang berjenis spekulatif, karena kenaikan harganya didasari oleh reaksi berantai yang menganggap bahwa cryptocurrency seperti Bitcoin akan mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi, sebelum akhirnya pecah dan turun 65% dalam 1 bulan.

Subprime mortgage crisis

“The Big Short” juga merupakah sebuah film yang bercerita tentang sebuah buih ekonomi. Film tersebut didasari akan kisah nyata mengenai krisis ekonomi dunia yang terjadi pada tahun 2008. Dan hal ini menurut saya cukup relevan untuk kita pelajari, karena ini adalah sebuah krisis yang terjadi tidak terlalu lama dari masa sekarang.

Jika sebuah obligasi atau bonds adalah surat utang yang dapat diterbitkan oleh bank untuk dibeli oleh para investor, maka di Amerika Serikat (AS) terdapat sebuah jenis obligasi khusus yang dinamakan mortgage-backed security, dimana pada dasarnya jika ada sebuah bank yang memberikan uang untuk kredit pemilikan rumah (KPR) kepada nasabah, maka sekumpulan utang KPR ini akan dikumpulkan dan dijadikan sebuah instrumen obligasi yang dapat dibeli oleh para investor. Maka itu namanya adalah mortgage-backed: sebuah obligasi yang ditopang (backed) oleh pembayaran cicilan KPR dari nasabah bank.

Yang terjadi pada saat itu di AS adalah terjadinya kegagalan pembayaran obligasi mortgage-backed ini secara menyeluruh. Untuk lebih mudahnya, kita sebut saja obligasi mortgage-backed ini sebagai “obligasi kepemilikan rumah.”

Karena bagian ini sangat njelimet, maka saya akan mencoba menyederhanakan jalan ceritanya untuk sejawat sekalian.

  • Seperti seseorang yang hendak mengambil KPR (mortgage) yang akan diperiksa riwayat pembayaran utangnya (credit score atau BI checking), di AS juga ada lembaga yang akan melakukan rating terhadap obligasi kepemilikan rumah yang dimiliki oleh bank. Jika kemungkinan gagal bayarnya sangat kecil, maka rating-nya akan jadi tinggi (AAA, AA, A) dan kalau skornya jelek dan sangat mungkin terjadi gagal bayar akan mendapat rating rendah (BBB, BB, B).
  • Ternyata, demi mendapat komisi dan lain sebagainya, lembaga rating ini memalsukan hasil rating mereka dan memadukan obligasi kepemilikan rumah dengan rating rendah dan dibuat menjadi instrumen baru yang seakan-akan rating-nya tinggi. Sehingga yang orang kira sebagai obligasi yang prima sebenarnya merupakan obligasi yang di bawah/sub-prima (subprime).
  • Seorang dokter yang sudah beralih profesi menjadi seorang manajer investasi (Michael J. Burry, MD) menyadari hal ini lebih dini karena pada suatu waktu beliau betul-betul melakukan pengecekan terhadap seluruh data pembayaran cicilan rumah yang ada dan menemukan bahwa sudah terlalu banyak nasabah yang tidak sanggup membayar cicilan rumahnya.
  • Michael Burry kemudian melakukan sebuah “pertaruhan” dengan cara bertaruh melawan obligasi kepemilikan rumah tersebut dengan cara melakukan teknik transaksi saham/sejenisnya di AS yang dikenal dengan nama shorting (maka itu judul filmnya adalah The Big SHORT).
  • Akan kita lanjutkan lagi ceritanya, namun mari kita telaah lagi apa itu shorting.

Apa yang dimaksud dengan shorting?

Sebelum Anda bingung, wajar jika Anda tidak mengetahuinya karena teknik transaksi macam ini tidak dikenal dan memang tidak diberlakukan di bursa saham Indonesia. Sementara di AS, karena bursa saham mereka sudah berusia jauh lebih tua dari bursa saham kita, maka banyak produk-produk atau instrumen-instrumen investasi turunan yang jauh lebih rumit dari sekedar jual-beli instrumen..

Mudahnya, di bursa saham AS dikenal 2 teknik besar cara bertransaksi saham yaitu dengan memegang posisi long (membeli sebuah saham dan memegangnya terus dengan harapan harganya akan naik) dan memegang posisi short (membeli sebuah saham karena kita memiliki firasat atau suatu alasan kuat bahwa harganya akan turun ke depannya).

Loh, bagaimana caranya seseorang bisa mendapatkan untung dari harga saham yang turun?

Nah, di sinilah rumitnya sebuah transaksi short, dan akan coba saya jelaskan dengan cara sederhana:

Bilanglah Dissecting Money (DM) adalah sebuah emiten saham dengan harga per lembarnya 1.000 IDR.

Saya memiliki firasat atau alasan kuat (seperti Michael Burry yang betul-betul mengecek performa pembayaran cicilan rumah) bahwa ke depannya harga saham DM akan menurun.

Saya kemudian “meminjam” selembar saham DM dari broker atau manajer investasi, dan langsung menjualnya dengan harga saat itu, yaitu 1.000 IDR. Uang hasil penjualan ini saya pegang dulu.

Ternyata betul satu minggu kemudian harga saham DM turun hingga ke harga 700 IDR.

Saya beli lagi selembar saham DM seharga 700 IDR.

Selembar saham tersebut saya kembalikan ke broker atau manajer investasi tadi (jadi mereka tidak rugi selembar saham pun).

Sisa 300 IDR saya simpan sebagai keuntungan saya.

Inilah yang disebut dengan SHORTING atau SHORT-SELLING.

Pusing? Boleh dibaca sekali lagi di atas mengenai shorting, lalu kita lanjutkan jalan ceritanya:

  • Michael Burry mencoba mengajukan pembuatan sebuah instrumen (credit-default swap/CDS) yang intinya melakukan shorting terhadap cicilan rumah, dan ditertawakan oleh semua bank yang dia datangi, karena menurut mereka sangat konyol untuk bertaruh melawan cicilan rumah – orang mana yang tidak mencoba untuk melunasi cicilan rumahnya??? Namun karena bank tidak akan menolak orang yang hendak “menyerahkan” uangnya secara cuma-cuma, maka mereka pun menyetujuinya.
  • Intinya, CDS ini menjamin (semacam asuransi) bahwa jika suatu saat Michael Burry benar dan terjadi kegagalan bayar akan obligasi kepemilikan rumah, meskipun bank yang mengeluarkan obligasi tersebut tidak dapat membayarnya, sebuah bank/perusahaan keuangan lain akan membayar berapapun keuntungan yang seharusnya dia dapatkan. Dengan disetujuinya CDS ini, lengkaplah strateginya tanpa ada yang bisa melarikan diri.
  • Berita ini bocor dan akhirnya ada beberapa manajer investasi yang menyadari hal ini dan ikut memborong instrumen baru yang dibuat oleh bank atas permintaan Michael Burry tersebut.
  • Singkat cerita, meletuslah bubble subprime mortgage tersebut dan menyebabkan krisis ekonomi global.
  • Perusahaan manajer investasi yang dikelola oleh Michael Burry meraup keuntungan bersih (di luar biaya dan komisi) sebesar 489,34% dari “the big short” tersebut.

Sisi gelap dunia finance

Jangan salah tangkap, saya menyarankan film ini bukan agar Anda mencoba seperti Michael Burry dan bertaruh melawan suatu hal di dunia ekonomi dan berharap mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pertaruhan tersebut.

Justru melalui film ini kita bisa belajar mengenai sisi gelap dunia finance yang tidak banyak dibahas oleh orang-orang di luar sana: pada akhirnya, seluruh penyedia jasa keuangan akan cenderung memikirkan keuntungan untuk diri/perusahaan mereka sendiri dan bukan mengenai apa yang sepantasnya dilakukan dari segi moral.

Kita berpraktik sebagai dokter setelah melalui studi yang panjang (5-6 tahun), dan setelah itu kita pun harus menjalankan praktik kedokteran kita dengan hukum-hukum maupun etika yang memagari kita dari melakukan praktik yang tidak benar. Konsekuensi dari melanggar hukum atau etika ini pun cukup besar.

Sementara, seorang agen yang menjual sebuah produk keuangan terkadang bahkan tidak ditanyakan apa gelar strata 1-nya, kemudian tinggal mengikuti pelatihan beberapa hari dan dinobatkan layak untuk menjual sebuah produk keuangan. Lalu apabila dia melakukan suatu hal yang tidak layak pun, tidak dapat dikekang karena hukum-hukum yang membatasi kegiatan di industri penyedia jasa keuangan banyak berada di zona abu-abu.

Apalagi jika mengingat bahwa kita sedang bicara mengenai industri jasa keuangan yang biasanya memiliki dana sebesar triliunan IDR. Akan sangat mudah untuk membungkam orang seperti saya yang cukup puas dengan uang sejumlah 50 miliar.

Kembali ke cerita di AS, karena subprime mortgage crisis ini, dana pensiun masyarakat AS yang hilang berjumlah 34.714 (tiga puluh empat ribu tujuh ratus empat belas) TRILIUN IDR.

Bayangkan seseorang yang sudah bekerja berpuluh-puluh tahun dan sudah mengambil ancang-ancang untuk pensiun sekitar tahun 2008 tersebut. Berjuta-juta keluarga kehilangan dana pensiunnya.

Berjuta-juta orang kehilangan pekerjaannya, kehilangan mimpinya untuk bisa memiliki rumah pertama. Diperkirakan terdapat 5.000 orang yang bunuh diri karena terdampak krisis ekonomi ini.

Dari sebuah kasus buih ekonomi yang meletus dan berpengaruh terhadap sekian banyak orang, apakah sejawat bisa menebak berapa banyak orang dari industri penyedia jasa keuangan yang masuk penjara karena hal ini?

Satu orang.

So, do watch the movie, and today might be a good day for you to start studying about economic history and why is it important if you want to understand finance as a whole.


Apakah Anda sudah menonton film “The Big Short?”
Apa pendapat Anda mengenai film tersebut?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

4 thoughts on “Understanding “The Big Short””

Leave a Comment