Pentingnya Fasih Berbahasa Inggris

Photo by Ivan Shilov on Unsplash

Bukan “yang penting bisa”

Pada saat saya menuliskan kata “fasih” di judul, artinya saya memberikan penekanan bahwa “asal bisa” saja berbahasa Inggris tidaklah cukup. Apalagi untuk seorang dokter/calon dokter. Kefasihan dalam berbahasa Inggris sangatlah penting dan akan memberikan perubahan yang sangat bermakna di dalam hidup Anda.

Yang saya maksud dengan “fasih” artinya Anda memiliki kemampuan untuk mendengarkan (listening), membaca (reading) dan menulis (writing). Dalam hal menulis pun tidak sekedar bisa menulis dalam berbahasa Inggris, tetapi penulisan bahasa Inggris secara akademis.

Saya menuliskan hal ini bukan semata-mata mentang-mentang saya cukup fasih dalam berbahasa Inggris. Waktu ayah saya mengharuskan saya untuk mengambil kursus bahasa Inggris pun itu merupakan suatu hal yang sangat menyebalkan untuk saya.

Zaman sudah berubah

Saya dulu mulai mengambil kursus bahasa Inggris (karena dipaksa oleh ayah saya) saat duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama (SMP). Saya selesai kursus bahasa Inggris saat di kelas 3 sekolah menengah atas (SMA). Selama enam tahun tersebut, saya harus duduk di kelas kursus setiap hari Selasa dan Kamis (setiap 2 minggu sekali ada hari Jumat juga) jam 16.00-19.00 sore. Ini belum termasuk perjalanan saya ke dan dari sana naik angkutan umum (waktu SMP) dan menyetir (waktu SMA) kurang-lebih 30 menit setiap kalinya.

This was wayyy before smartphones and YouTube.

Sekarang, siapapun bisa belajar bahasa Inggris hanya dari 1-2 jam lihat YouTube setiap hari. Jika memiliki dana lebih, bisa kemudian ambil les privat dan bahkan sekarang ini tidak perlu ke mana-mana lagi, hanya tinggal buka laptop/smartphone di rumah dan kursus via Zoom meeting.

Lihat perubahannya? Berapa banyak waktu ataupun uang yang dapat Anda hemat untuk mendapatkan keterampilan berbahasa?

Sehingga menurut saya jika di era revolusi industri 4.0 ini kita masih juga tidak memiliki keterampilan berbahasa lain, masalahnya bukan di orang lain/situasi, tetapi di diri kita sendiri.

Membuka pintu wawasan tak terbatas

Bayangkan kemampuan berbahasa itu seperti naik level di sebuah permainan, sehingga kita bisa memiliki kunci untuk membuka pintu-pintu wawasan yang tidak dapat kita buka di level sebelumnya.

Bilanglah kalau hanya bisa berbahasa Indonesia, artinya saya hanya punya “akses” ke 270 juta orang (sesuai populasi) untuk mendapatkan wawasan baru.

Begitu saya memiliki kefasihan dalam berbahasa Inggris, saya baru “naik level” dan memiliki kunci untuk membuka pintu akses wawasan ke 2 miliar orang baru.

Dua. Miliar. Orang.

Imagine how much new knowledge you may get.

Saat saya menjalani residensi dulu, kami seringkali diberi tanggung-jawab sebagai liaison officer/penanggung-jawab pembicara-pembicara seminar yang berasal dari luar negeri (yang biasanya artinya berkomunikasi hanya dengan bahasa Inggris).

Seorang residen yang “hanya” bisa sedikit-sedikit berbahasa Inggris biasanya akan malu-malu dan hanya akan menjawab jika ditanya oleh tamu asing tersebut. Kontrasnya, seorang residen yang fasih berbahasa Inggris bisa dengan luwesnya bercakap-cakap dengan tamu asing tersebut, sampai mungkin bisa bertanya: “Apabila saya sudah lulus suatu hari dan memiliki kesempatan untuk belajar lagi, apakah boleh saya mengontak Anda untuk bicara mengenai kemungkinan fellowship subspesialis?”

See how much difference it makes?

Belajar finance lebih mendalam

Hal terakhir yang menurut saya membuat penguasaan bahasa Inggris menjadi sebuah keharusan berhubungan dengan dunia finance, dan menurut saya merupakan salah satu alasan mengapa literasi keuangan masyarakat Indonesia begitu terbelakang dibanding negara-negara Asia tetangga lain.

Buku-buku finance terbaik yang pernah saya baca hampir semua tidak diterjemahkan menjadi buku berbahasa Indonesia. Menurut saya, hanya ada 2 kemungkinan alasan mengapa buku-buku yang sangat bagus ini tidak diterjemahkan:

  • Beberapa konsep perihal perekonomian di luar negeri tidak bisa diaplikasikan di Indonesia, seperti kebijakan pajak, tabungan wajib dana pensiun seperti 401(k), instrumen-instrumen derivatif, dsb.
  • Memang sengaja tidak diterjemahkan supaya tidak banyak orang yang mengetahuinya. Sehingga yang kaya akan semakin kaya, dan yang menengah dan menengah ke bawah akan tetap di stratanya.

Maybe the latter point seems too negative, but I can’t help but think so.

Some of these finance books written in English were just so good and so practical, I cannot believe they are not being translated to Indonesian.

Jadi, kembali ke poin saya mengenai wawasan di atas:

Wawasan Anda di dalam dunia finance menjadi sangat terbatas apabila Anda tidak menguasai bahasa Inggris.


Apakah menurut Anda kefasihan berbahasa Inggris sudah menjadi sebuah keharusan?
Atau masih hanya “yang penting bisa?”
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

2 thoughts on “Pentingnya Fasih Berbahasa Inggris”

  1. Setuju dok. Yang belajar bahasa inggris dari kecil pun (for casual conversations), saat baca buku-buku berat/jurnal kedokteran kalau belum terbiasa saja rasanya masih kesulitan. Memang belajar ga akan ada hentinya. We’re truly a lifelong learner, aren’t we?

    Reply

Leave a Comment