patrick-hendry-w5hNCbJfX3w-unsplash
Dissecting Money

Dissecting Money

Bahagia Jika Tiba di Tujuan

Photo by Patrick Hendry on Unsplash

Kesalahan klasik

Salah satu kesalahan paling klasik di dalam upaya manusia untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup adalah memegang konsep jika-maka. Jika saya sudah mencapai tujuan saya, maka saya akan bahagia. Jika saya punya wajah yang glowing maka saya akan bahagia. Jika saya sudah punya uang 10 miliar IDR maka keluarga saya akan bahagia, dan seterusnya.

Saya pun dulu sering mengucapkan lelucon demikian: kalo gw berhasil macarin (isi di sini nama artis favorit Anda, biasanya saya isi dengan nama Agnes Monica), gw ga bakal minta apa-apa lagi deh!

But we all know that’s not true. Siapapun yang Anda pacari/nikahi, pasti daftar keinginan yang Anda miliki masih tidak terbatas. Maka itu, dalam artikel ini saya akan membahas mengapa sebenarnya ini merupakan sebuah ilusi belaka dan tidak seharusnya terucap oleh kita (selain sebagai lelucon).

Arrival fallacy

Seorang dosen psikologi dari Harvard University yang bernama Tal Ben-Shahar mengungkapkan ilusi ini dan memberinya istilah the arrival fallacy.

Arrival = the action or process of arriving.

Fallacy = a mistaken belief, especially one based on unsound argument.

Digabungkan menjadi sebuah istilah, beliau menjabarkan definisi dari arrival fallacy sebagai:

The false belief that reaching a valued destination can sustain happiness.

Ada beberapa frasa kunci yang menurut saya krusial untuk dipahami di sini:

  • False belief: menandakan bahwa orang-orang seringkali memegang erat hal ini sebagai suatu kepercayaan, padahal ini merupakan kepercayaan yang salah. Kita sendiri mengetahui bahwa kepercayaan itu sangat sulit untuk diubah.
  • Valued destinaton: artinya yang menjadi tujuan pun berbeda-beda antar individu, tergantung value/nilai yang dimiliki oleh orang tersebut. Untuk seseorang bisa jadi ini adalah kekayaan, untuk orang lain ketenaran, piala, dan lain sebagainya.
  • Can sustain happiness: perhatikan bahwa definisi ini tidak menyebut bahwa pencapaian tujuan tidak memberikan kebahagiaan, tetapi justru menekankan bahwa mencapai tujuan bukan berarti kebahagiaan itu akan bertahan lama atau bahkan menetap selamanya.

Contoh paling mudah mengenai ilusi ini pasti sudah pernah kita semua alami, yaitu semasa kita menjalani jenjang demi jenjang pendidikan. Pada saat lulus dari kelas 3 sekolah menengah atas (SMA), kita pasti merasa bahagia sekali dan untuk sejenak merasa bahwa kita sudah mencapai tujuan untuk apa kita disekolahkan oleh orangtua.

Boy, it sure didn’t last long before reality kicked in.

Ternyata kita harus dihadapkan kepada masalah-masalah hidup yang jauh lebih berat, apakah lanjut bekerja, atau menjalani lagi 3+ tahun masa perguruan tinggi? (Schucks, it was 6 years for me)

Jadi sudah jelas contohnya dan hampir pasti dialami oleh setiap orang bahwa mencapai tujuan tidak berarti living happily ever after seperti di dongeng. It just doesn’t exist.

Semua ini bukan soal tujuan

Yes, yes, I know.

Berkali-kali di dalam blog maupun podcast saya sering mengutarakan mengenai pentingnya memiliki tujuan di dalam hidup maupun di dalam berinvestasi. Adalah sangat penting untuk memiliki tujuan, tetapi sebenarnya ini semua bukanlah mengenai pencapaian tujuan itu sendiri. Misalnya, walaupun saya sudah menetapkan tujuan investasi untuk dana pensiun, pada saat dimana tujuan tersebut tercapai pastinya kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama jika saya tidak segera menetapkan tujuan-tujuan berikutnya.

Jadi, sebenarnya di dalam perjalanan kita dalam mencapai tujuan apapun, menurut saya ada 3 poin penting yang harus kita ingat terus-menerus:

  • Why you started in the first place
  • The progress, the growth (the journey itself)
  • How did it change me to become a better person

That’s it.

Jika 3 poin di atas sudah berhasil kita dapatkan, maka sebenarnya tidak masalah tujuan awalnya tercapai atau tidak. Surprisingly enough, biasanya justru orang-orang yang menyadari akan ketiga hal ini adalah justru mereka yang berhasil mencapai tujuan-tujuannya.

Those who admire progress are usually the achievers.

Dalam mencapai tujuan investasi pun demikian. Sure, it’s going to be awesome if we reach our investment goal(s), tetapi lihatlah “piala” sebenarnya dari perjalanan panjang itu, yaitu artinya kita telah mampu mengatur uang kita dengan baik, dan sudah menaklukkan cengkeraman uang atas diri kita.

I don’t know about you, but I sure am tired of money getting a grip on me.

And I love this progress of me letting it go.

An infinite game

Akan selalu ada dokter lain yang mobilnya lebih mewah dari saya.

Akan selalu ada dokter lain yang rumahnya lebih besar dari saya.

Akan selalu ada keluarga lain yang berliburnya lebih heboh dari keluarga saya.

It’s time to realize that this is actually an infinite game.

Anda bisa saja memiliki gaji 10 juta IDR dan memiliki hidup yang jauh lebih bahagia dari dokter lain yang memiliki gaji 100 juta IDR. Anda bisa saja hanya berpraktik di 1 rumah sakit dan tidak di 3 rumah sakit seperti kebanyakan dokter, tapi memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga Anda. Anda bisa saja hanya memiliki sepeda lipat seharga 3 juta IDR dan bukan yang seharga 80 juta IDR, tapi memiliki kesehatan yang jauh lebih baik.

Winning should not be the goal, it should be the theme in our life.

Make the most of what you have and stop comparing left and right.

And you just won life.


Apakah Anda pernah memiliki pemikiran/konsep arrival fallacy ini?
Apakah mencapai tujuan-tujuan membuat kebahagiaan Anda menetap?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!