Ada satu fenomena yang selalu berulang di dunia investasi: orang-orang yang sangat pintar dan kritis di bidang pekerjaannya, tiba-tiba menjadi sangat tidak kritis, atau bahkan menjadi delusional dan gullible ketika berbicara soal uang.
Delusional = keyakinan palsu yang sangat kuat, tidak logis, dan bertentangan dengan realitas, namun dipertahankan teguh meskipun ada bukti faktual yang membantah.
Gullible = mudah tertipu.
Para dokter pun tidak lepas dari fenomena ini: mereka yang terbiasa membaca jurnal, menimbang-nimbang evidence, dan memahami bias penelitian—bisa begitu saja percaya pada klaim investasi hanya karena mendengar satu kalimat:
“Return-nya lebih besar, dok.”
Contoh Nyata: “Beli Saham US” yang Ternyata Bukan Saham
Beberapa waktu terakhir, sangat ramai bermunculan aplikasi yang mengklaim memungkinkan nasabah Indonesia membeli saham Amerika Serikat. Billboard di jalan tol pun bertebaran dan hampir setiap 3 bulan muncul aplikasi baru dengan janji-janji manis yang terpampang.
Orang-orang pun langsung bereaksi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya dan mengikuti, apalagi ketika diiming-imingi dengan tajuk “return bursa saham US jauh lebih baik dibandingkan dengan IDX30/IHSG.”
Namun, ketika dibedah lebih dalam—baik dari izin regulator, terms & conditions, maupun mekanisme produknya—yang dibeli bukanlah saham atau surat berharga perusahaan yang sebenarnya, melainkan hanya merupakan kontrak berjangka/instrumen derivatif: futures, contract for difference (CFD), atau sejenisnya.
Instrumen derivatif = produk keuangan yang nilai dan kinerjanya diturunkan (derived) dari aset lain yang menjadi acuan, yang disebut underlying asset.
Artinya:
• Investor BUKAN beneficial owner dari saham (contoh) Apple, Google, atau Microsoft yang dibelinya
• Tidak punya hak voting di rapat umum pemegang saham (RUPS)
• Tidak tercatat di registrar saham
• Tidak memiliki perlindungan hukum seperti pemegang saham sesungguhnya
Namun anehnya, klaim ini tetap dipercaya oleh banyak orang. Bahkan ketika bukti-bukti regulasi dan struktur produknya tersedia dan tersajikan di website masing-masing aplikasi tersebut.
Mengapa?
Jawabannya bukan soal keuangan.
Jawabannya adalah psikologi manusia.
Otak Kita Tidak Netral Saat Uang Terlibat
Dalam teori behavioral finance, manusia bukan makhluk rasional.
Kita adalah makhluk emosional yang berusaha terlihat rasional.
Saat bicara soal investasi, ada beberapa bias/perancu psikologis utama yang membuat orang menjadi mudah tertipu.
-
Greed Bias: Return Besar Mematikan Logika
Ketika seseorang melihat potensi return besar, otak limbik/amygdala (yang mengontrol emosi) mengambil alih dari korteks prefrontal (yang lebih berpikir logis).
Bingung apa itu amygdala dan korteks prefrontal? Saya akan mengambil contoh yang sangat terkait dengan kehidupan kita sehari-hari:
Saya dan istri saya sedang menyetir mobil di jalan tol yang sedang pamer paha (padat merayap parah habis) dan tiba-tiba ada mobil lain yang menyalip dan pindah jalur ke jalur kami secara tiba-tiba. Karena saya merasa tidak terima dengan gaya ugal-ugalan pengemudi tersebut, saya kemudian menginjak pedal gas, menyalip melalui jalur lain, dan memepet-mepet mobil tersebut sambil seraya membunyikan klakson mobil dengan harapan gendang telinga pengemudi mobil itu akan segera pecah. Ini adalah reaksi dari amygdala. Kemudian masuklah komentar istri saya yang berpikir dengan korteks prefrontalnya: “Ngapain kamu nyetir begitu-begitu? Kalau akhirnya nabrak juga kamu sendiri yang makin pusing kan? Memang kalau dia nyalip kamu rugi apa?”
It’s a hard truth to accept, but my wife is almost always right. (No, she was not behind me when I wrote this article)
Kembali ke konteks investasi:
Dalam kondisi seseorang yang ditawarkan sebuah cara/produk investasi dengan janji return yang besar:
• Pertanyaan berubah dari “apakah ini benar?”
• Menjadi “bagaimana kalau ini benar?”
Akibatnya:
• Risiko dikecilkan/diabaikan
• Kompleksitas dianggap sepele
• Red flags dianggap sebagai “detail teknis”
Selama grafik naik dan angka hijau besar, otak tidak merasa perlu berpikir lebih jauh.
-
Authority Bias: “Katanya Legal, Ada Izinnya Kok”
Banyak produk investasi berlindung di balik kalimat:
• “Diawasi regulator”
• “Legal di Indonesia”
• “Sudah sesuai aturan”
Masalahnya:
Legal ≠ sesuai dengan persepsi investor.
Pialang berjangka boleh saja memenuhi semua legalitas, tetapi itu tidak otomatis berarti produk yang mereka jual adalah saham betulan.
Namun karena:
• Ada izin
• Ada kantor yang beralamat di jalan protokol Jakarta Pusat
• Ada customer service
• Ada influencer atau artis atau atlit yang terpampang di billboard jalan besar
Maka otak kita mengambil kesimpulan:
“Kalau ilegal, pasti tidak akan sampai launching.”
Ini adalah authority bias—kita meminjam otoritas eksternal untuk menggantikan usaha berpikir sendiri.
-
Complexity Aversion: Manusia Benci Hal yang Rumit
Struktur produk seperti:
- Beneficial ownership
- Kustodian
- Clearing
- Futures vs spot market
- CFD vs saham fisik
- Leverage
- Margin call
Semua ini terasa terlalu melelahkan untuk dicoba untuk mengerti.
Otak manusia cenderung berkata:
“Ah, ribet. Intinya cuan atau tidak?”
Padahal justru di kompleksitas itulah risiko terbesar bersembunyi.
The damned devil always hides in the smallest details.
Sayangnya, produk investasi yang benar-benar aman dan transparan:
- Memang lebih membosankan
- Return-nya tidak sensasional
- Tidak butuh promosi agresif
-
Confirmation Bias: Kita Hanya Mau Mendengar yang Kita Sukai
Begitu seseorang ingin percaya bahwa:
“Saya bisa beli saham US dengan mudah dan murah”
Maka yang terjadi:
• Dia hanya membaca konten yang mendukung keyakinan itu
• Mengabaikan penjelasan yang bertentangan
• Menganggap kritik sebagai “sirkel FOMO” atau “iri”
Ini sebabnya edukasi sering kalah dari marketing.
Karena edukasi tidak memberi dopamine cepat.
-
Overconfidence: “Saya Tahu Kok, Saya Sudah Cek”
Ironisnya, semakin cetek seseorang mengetahui tentang suatu hal, semakin besar rasa songong-nya.
Fenomena ini dikenal sebagai Dunning–Kruger Effect.
Ciri-cirinya:
• “Ini sama saja kok, saham atau futures”
• “Yang penting underlying-nya saham”
• “Saya ga pakai leverage, jadi aman”
Padahal secara struktur hukum dan risiko, perbedaannya sejauh timur dari barat.
Mengapa Ini Sangat Relevan untuk Dokter?
Sebagai dokter, kita terbiasa untuk:
• Tertunda dari mendapat gaji yang layak
• Menjalani proses panjang
• Berpikir probabilistik
Namun justru karena:
• Waktu terbatas
• Pendapatan tiba-tiba tinggi
• Lingkar pertemanan cenderung itu-itu saja
Banyak dokter ingin melalui shortcut/jalan pintas dalam investasi (maka itu hal ini menjadi tagline dari Dissecting Money)
Padahal prinsip dasar keuangan tidak berbeda dengan kedokteran:
Semakin menjanjikan hasil cepat, semakin besar kewajiban kita untuk skeptis.
Investasi Sehat Itu Membosankan
Investasi yang sehat biasanya:
• Tidak viral
• Tidak menjanjikan “akses eksklusif” atau “grup premium”
• Tidak perlu klaim bombastis
• Bisa dijelaskan dengan sederhana dan transparan
Kalau sebuah produk:
• Sulit dijelaskan
• Penuh jargon
• Mengandalkan janji return
• Dan membuat kita malas bertanya
Maka kemungkinan besar itu bukan investasi, tapi produk yang memanfaatkan psikologi manusia.
Penutup: Skeptis Adalah Bentuk Perlindungan Diri
Di dunia investasi:
• Skeptis bukan berarti negatif
• Bertanya bukan berarti bodoh
• Tidak ikut-ikutan bukan berarti tertinggal
Justru sebaliknya:
Orang yang paling bertahan lama adalah mereka yang mau meluangkan waktu untuk memahami, bukan sekadar berharap.
Karena pada akhirnya: uang yang kita kelola adalah hasil dari darah, keringat dan tangis kita sendiri.
Dan tidak ada janji return yang layak dibayar dengan rungkad.
Image by ChatGPT 5.2.