Pertanyaan-pertanyaan untuk Kita Jawab di Masa Sulit Ini

1. Apakah selama ini kita sudah memberikan cukup waktu untuk keluarga?

Pada masa ini dimana setiap hari baru kita masih bernapas menjadi sangat berarti dan merupakan berkat yang luar biasa, maka sudah sepatutnya kita mengambil waktu untuk berdiam diri dan berpikir sejenak:

Berapa banyak waktu yang selama ini terbuang tidak saya gunakan untuk menikmati keberadaan keluarga saya?

Berapa pagi saya berangkat sebelum anak saya bangun, dan berapa malam saya pulang setelah anak saya sudah tertidur?

Berapa kali saya mengurungkan niat untuk berangkat dan mampir ke rumah orangtua saya?

Of course, pembelaan kita biasanya karena kita harus membanting tulang untuk mencari uang. Untuk kelangsungan hidup, untuk masa depan anak, untuk membantu orangtua hidup di masa pensiun.

I’m not saying that it’s wrong. Namun di hari-hari ini, fakta bahwa kita bisa duduk di sofa rumah, dikelilingi oleh orang-orang yang kita sayangi dan mengambil waktu untuk menghargai semua itu, membuat kita jadi berpikir: Where the heck have I been all this time?

Dan ini bahkan terlepas dari harmonis atau tidak hubungan dalam keluarga Anda. Dig deeper, and you’ll find just how much they mean to you.

2. Apakah selama ini kita sudah cukup berolahraga?

Di saat kesehatan tubuh yang prima menjadi senjata utama seperti sekarang ini, maka sudah waktunya kita melihat kembali apakah selama ini kita sudah memberikan perhatian yang cukup ke tubuh kita?

Lagi-lagi, pembelaan yang biasanya diungkapkan adalah karena tidak adanya waktu karena sibuk dengan pekerjaan.

Bagaimana dengan sekarang? Di saat hampir semua orang “terpaksa” untuk memiliki banyak waktu luang di rumah?

Apakah menjadi semakin sulit karena tidak bisa ke gym? Saya kira justru sebaliknya, orang-orang yang rutin berolahraga di gym justru sekarang menjadi orang-orang yang paling aktif mencari cara baru untuk bisa berolahraga di rumah.

Hanya butuh yoga mat untuk bisa mulai berolahraga di rumah. Untuk yang baru pertama kali mau memulai berolahraga di rumah, saya berikan sedikit resep olahraga untuk pemula:

Jumping jacks 50x

Istirahat 20 detik

Burpees 10x

Istirahat 20 detik

Mountain climbers 1 menit

Done. Enjoy the sweats, you earned it!

(Yang bingung gerakannya seperti apa, tinggal google saja atau cari di YouTube, are you really that lazy?)

Mau beralasan apa lagi?

3. Untuk apa kita bekerja selama ini?

Untuk menghidupi diri kita dan keluarga kita? Pastinya jawaban klisenya seperti itu.

Apakah untuk uang?

Apakah karena kita mau membantu orang lain?

Bagi dokter di masa-masa sekarang ini, mungkin tidak terlalu tampak bedanya. Jika kita bekerja untuk uang, maka kita pasti masih berpraktik. Jika kita bekerja karena mau membantu orang lain, maka kita pasti masih berpraktik.

But ask yourself the question anyway.

4. Bagaimana pandangan kita mengenai uang selama ini?

Tentunya uang adalah hal yang menjadi pemikiran utama di saat-saat seperti ini. Pada saat income dokter terpaksa berkurang karena jumlah pasien berkurang, ataupun malah karena tidak bisa berpraktik sama sekali, pasti sempat terpintas di kepala kita: Apa yang selama ini saya lakukan saat uang yang saya miliki berlebih?

Belum lagi mengenai pemikiran mengenai orang-orang yang lebih membutuhkan di sekitar kita. Pada saat kondisi keuangan kita berlebih mungkin mudah untuk bisa memberi, tapi pada saat kondisi keuangan kita terpukul oleh situasi, apakah kita masih bisa memberi?

And obviously, now we can really see that money can’t buy you happiness. It can buy you a stay in the nice hotel where everything is served in sterile packaging, but it can never buy you the touch you’re longing to feel from other people. Even things as simple as a handshake or a hug. 

Kalau kita ditawarkan sebuah opsi khayalan dimana kita dapat menukarkan seluruh uang yang kita miliki, agar dapat kembali setiap hari bisa membawa anak-anak kita berlari di taman tanpa sedikit pun kekuatiran akan kehadiran orang lain di sekitar kita, saya kira kita tidak akan berpikir panjang.

Uang dapat dicari dan diusahakan. Sedihnya, baru sekarang kita menyadari bahwa hal-hal yang kita anggap “biasa” terjadi di keseharian kita justru ternyata tidak dapat kita beli.

5. Apa yang kita anggap berarti di hidup kita?

Too philosophical? Saya kira tidak apa-apa sesekali.

Sebagai contoh kecil ambillah seseorang yang berpikir bahwa “to live is to travel.” Saat kondisi tidak memungkinkan untuk kita travelling dalam periode yang tidak jelas sampai kapan, does that mean that we’re not living dan sedang mati suri? Tentunya tidak. Jadi untuk apa kita masih bangun dan bernapas setiap hari?

Then we start posting old holiday pictures on Instagram, to sustain self existence, to gain more likes and comments to trigger interaction with other people.

You really call that living?

Apakah hidup artinya membanting tulang dan bekerja setiap hari, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar dapat mewariskan kepada anak-cucu kita suatu standar kehidupan yang baik?

My last thought-stimulating words for you are these: Don’t get me wrong. Dissecting Money ada bukan agar Anda dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, but rather so that we can gain control over money. And by not making it the most worrisome thing in our day, only then we can pay attention to other things in life that are worth much more than money.

So. What do you actually live for?


Apakah Anda mempunyai pemikiran-pemikiran yang mendalam juga di masa-masa sulit ini? Bagikan di kolom komentar di bawah.

Leave a Comment