7 Alasan Saya Membenci Uang

Photo by Andre Hunter on Unsplash

Teman lama

Alkisah ada seorang dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi bernama Jeff yang memiliki teman lama yang bernama Uang. Mereka sudah berteman sejak di bangku sekolah dasar (SD). Kemungkinan besar Anda mengenal si Uang ini juga, karena beliau memang memiliki reputasi yang sangat dikenal orang. Ada yang berteman dekat dengannya, ada yang setengah mati bekerja untuk persahabatan ini, tetapi ada juga yang hubungan keluarganya pecah karenanya.

Jeff dulu merasa bahwa dia sudah sangat mengenal Uang, sampai mengorbankan 30 tahun dalam hidupnya untuk sekolah dan belajar agar dia bisa mempertahankan hubungannya dengan Uang. Namun, sesaat setelah menyelesaikan studi spesialisasinya di bidang orthopaedi dan traumatologi, Jeff mulai meluangkan waktu untuk mempelajari mengenai siapa sebenarnya Uang itu. Betapa terkejutnya Jeff ketika menyadari bahwa ternyata Uang ini bukanlah seseorang yang dia rasa dia kenal sebelumnya.

Singkat cerita, Jeff sampai membuat sebuah blog untuk membeberkan siapa Uang itu sebenarnya, agar siapapun orang yang mengenalnya dapat “membedah” dan mengetahui siapa sosok Uang yang sebenarnya.

Artikel ini berisi beberapa pernyataan-pernyataan yang saya rangkum dari Jeff mengapa dia bisa akhirnya menyadari bahwa Uang sebenarnya selama ini sedang memanipulasi pikiran Jeff. Coba sejawat baca pernyataan-pernyataan ini dan pikirkan baik-baik jika Anda pernah mengenal si Uang ini, apakah pernyataan-pernyataan ini sesuai dengan kenyataannya?

1. Uang melabeli orang

Entah bagaimana, manusia yang seharusnya sudah sangat bersyukur untuk bisa mengalami kehidupan di dunia ini, tiba-tiba dilabeli dan dibeda-bedakan oleh si Uang, sebagian diberi label “kaya,” sebagian dilabeli “miskin,” dan mereka yang tidak tergolong keduanya dilabeli “biasa-biasa saja.” Padahal sewaktu manusia lahir sebagai bayi yang menangis, tidak ada label apapun di dahinya.

2. Uang menciptakan ilusi tentang kebahagiaan

Jika saya sudah memiliki uang 100 miliar IDR, saat itu saya akan bahagia. Jika saya sudah memiliki mobil sport klasik tentunya saya akan bahagia. Kalau saya bisa berlibur ke luar negeri setiap 3 bulan pasti saya tidak akan stres lagi. But I now know that’s just not the case. It is merely an illusion. Semua ilusi ini dibuat dan didikte oleh si Uang.

3. Uang membuat kita berpikir bahwa hidup hanya tentang dia

Sedemikian manipulatifnya si Uang ini, sehingga dia seringkali dapat membuat saya berpikir bahwa semua hal dalam hidup ini adalah mengenai dia. Apa itu keamanan? Apa itu kesehatan? Apa itu rasa bersyukur? Menurut si Uang, hanya bersama dialah saya bisa memiliki semua itu.

4. Uang tidak bisa dimakan

Uang seringkali memberitahu saya bahwa dengan bersamanya, saya dapat membeli makanan apapun, kapanpun saya mau. Tapi sebenarnya, keberadaan Uang sendiri tidak ada maknanya untuk perut saya. Dia tidak bisa memelihara ternak, dia tidak bisa menumbuhkan tanaman, dia pun tidak bisa memasak. Saat saya sakit dan tidak memiliki nafsu makan, Uang juga tidak dapat berbuat apa-apa.

5. Uang mengeluarkan sifat terburuk dari dalam diri seseorang

Lihatlah seseorang yang meluangkan waktu banyak bersama dengan Uang dan memikirkan tentangnya setiap saat. Entah mengapa, sifat orang yang demikian selalu berubah dan cenderung mengeluarkan sifat terburuknya. Kurang lebih seperti Gollum saat terlalu lama memegang The One Ring.

6. Uang membuat saya menomorduakan keluarga

Si Uang seringkali berhasil membuat saya mengutamakan waktu untuknya. Pulang sedikit lebih malam, bekerja satu hari lebih banyak. Katanya, dengan lebih lama meluangkan waktu untuknya maka seharusnya keluarga saya pun akan ikut bahagia. Namun sejatinya, setiap menit yang saya luangkan untuk Uang biasanya adalah setiap menit yang saya lewatkan bersama keluarga saya. Saya bisa mencari dan bertemu lagi dengan Uang di hari-hari ke depan, tetapi sayangnya si Uang ini tidak pernah bisa membeli waktu yang sudah lewat.

7. Uang adalah budak yang menggunakan saya sebagai budaknya

Apa gunanya palu yang tidak mau digunakan untuk memaku? Apa gunanya bor tulang yang tidak mau dipakai untuk mengebor tulang? Apa gunanya budak yang tidak mau bekerja untuk tuannya? Sepertinya tidak ada dan lebih baik dibuang saja. Dilihat dari silsilahnya, Uang inipun sebenarnya merupakan budak yang awalnya ada untuk mempermudah hidup saya. Tapi dalam perjalanannya, dia lupa akan statusnya dan justru memperbudak dan mempersulit hidup saya. Lalu mengapa saya terus-menerus tidak menyadari ini dan terus tunduk dalam kuasa si Uang?


Apakah Anda memiliki pengalaman bersama Uang?
Apakah Anda merasa sudah mengetahui seluk-beluk Uang sebenarnya?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

4 thoughts on “7 Alasan Saya Membenci Uang”

  1. terima kasih atas pencerahanya dok,, dan marilah kita yang mengendalikan diri kita agar senatiasa bersyukur dengan apa yang kita punya,, dan mari kendalikan ketamakan atas uang,, dengan memahami literasi keuangan

    Reply
  2. betul dok. saya juga mearasa demikian, alasan saya bekerja hampir 24 jam adalah untuk emlunasi hutang, tapi setelah hutang itu lunas, saya jadi sangan mencintai uang dan juga bekerja. sampai2 saya baru sadar bahawa usia saya sudah tidak lagi muda, apalagi ketika melihat ayah dan ibu yang sudah mulai berkerut dan beruban. Subhanallah…waktu sungguh berharga, saya juga berpikir mungkin seharusnya saya menjadi spesialis supaya lebih banyak uang. tapi setelah era BPJS ini sepertinya itu bukan pilihan brilian lagi, terlebih lagi biaya dokter spesialis yang kadang di luar hitung2N saya, maklum saya anak PNS, saat sekolah ibu selalu transfer 1 digit, alhamdulillah selalu habis, jadi tabungan saya tidak pernah sampai 3 digit. subhanallah…akhirnya saya ambil BLUD di puskesmas, dengan gaji tetap dan alhamdulillah kadang ada lebihnya dari biasanya karena tergantung kapitasi BPJS. subahanallah…kadang saya menghitung, kapan saya beli mobil kalau begini, kapan saya punya rumah sendiri, kapan saya menikah, kapan saya punya tabungan untuk spesialis, dan seterusnya…bismillah

    Reply

Leave a Comment