7 Alasan Saya Membenci Uang

Alkisah ada seorang dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi bernama Jeff yang memiliki teman lama yang bernama Uang. Mereka sudah berteman sejak di bangku sekolah dasar (SD). Kemungkinan besar Anda mengenal si Uang ini juga, karena beliau memang memiliki reputasi yang sangat dikenal orang. Ada yang berteman dekat dengannya, ada yang setengah mati bekerja untuk persahabatan ini, tetapi ada juga yang hubungan keluarganya pecah karenanya.

Untuk Apa Anda Jadi Dokter?

Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang seringkali gagal dijawab oleh seorang investor: untuk apa Anda berinvestasi? Dan saya akan mengungkapkan hubungannya dengan alasan Anda menjadi seorang dokter.

Karena percayalah, walaupun blog ini bertajuk Dissecting Money, but it is NEVER about the money. Some of you get it, some of you don’t. Some of you will get it after reading this article.

Dokter pun Butuh Budget

Ada alasannya mengapa saya memulai blog ini dengan menawarkan video tutorial budgeting jika pembaca subscribe ke mailing list. Karena sangat jelas di dalam pembelajaran saya di dunia finance bahwa memiliki sebuah budget adalah fondasi utama di dalam pengaturan keuangan pribadi/personal finance seseorang. Tidak terkecuali seorang dokter. Jika tidak memiliki fondasi ini, maka segala sesuatu yang Anda coba lakukan akan ambyar.

Trading Saham Bukan untuk Dokter

Jadi apakah maksudnya dokter tidak boleh berinvestasi di saham? Justru sebaliknya, menurut saya komponen/kelas aset saham harus ada di dalam portofolio seorang dokter. Yang saya maksud dengan trading saham adalah jual-beli saham dengan harapan bisa membeli di harga rendah dan menjualnya di harga tinggi, atau yang sering dikenal dengan istilah market-timing.

Apakah Dokter Butuh Financial Planner?

Tentu saja sejawat sekalian sudah mendengar kabar mengenai sebuah perusahaan penyedia jasa perencana keuangan/financial planner yang terkena masalah hukum beberapa waktu ke belakang ini. Sangat disayangkan, karena sebetulnya perusahaan tersebut merupakan salah satu inspirasi saya di dalam mencoba untuk mengedukasi sejawat mengenai pentingnya literasi keuangan untuk masa depan kita, walau tentunya level pengetahuan dan sumber daya kami pasti berbeda jauh.

Pentingnya Perilaku dalam Berinvestasi

Saya percaya bahwa mengejar nilai bagus di dalam studi kedokteran tidak akan membawa Anda kemana-mana selain kepada stres yang, sorry to say: Anda ciptakan sendiri. Yang terpenting adalah attitude (sikap) dan perilaku seorang calon dokter di dalam berinteraksi dengan lingkungan belajarnya, pun di waktu menghadapi tekanan-tekanan.

Hal yang sama berlaku juga di dalam berinvestasi: bukan instrumen investasinya yang menjadi kunci utama, tetapi perilaku Anda yang akan menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan investasi Anda.

Belajar dari Itaewon Class

Saya sendiri bukanlah seorang penggemar drama Korea sebelumnya, karena saya pikir akan terlalu condong ke membahas masalah percintaannya. Itaewon Class adalah drama Korea pertama yang saya tonton dari awal hingga tamat, dan sepertinya cukup mengubah pandangan saya mengenai drama Korea secara keseluruhan, karena ternyata banyak sekali hal-hal dan nilai-nilai kehidupan di luar percintaan yang bisa kita pelajari.

Andai Saya Melek Finansial 10 Tahun Lalu

Sering sekali saya mendengar dari sejawat yang baru memulai perjalanan finansialnya di usia 30 tahun ke atas, bahwa mereka menyesal tidak mempelajarinya sejak waktu masih mahasiswa. Saya pun sering sekali memiliki pemikiran “andai saja” yang demikian.

Mengapa Investasi di Reksa Dana Indeks?

Bagi pembaca yang sudah mengetahui dan mengikuti apa yang saya tuliskan di artikel-artikel dalam blog ini ataupun melalui media sosial maupun grup Telegram, maka pasti sudah memahami bahwa gaya berinvestasi saya adalah dengan cara berinvestasi secara pasif melalui reksa dana (RD) indeks.