Fondasi dari cara berpikir yang sehat agar kita dapat bertahan di lingkungan yang toxic adalah apa yang selalu ibu saya ingatkan kepada saya:
“Kamu tidak dapat mencegah burung terbang di atas kepalamu, tapi kamu dapat mencegahnya bersarang di atas kepalamu.”
(Love you, mom)
Kita bisa saja hidup di tengah-tengah lingkungan hidup, keluarga ataupun pekerjaan yang toxic, atau dengan kata lain sangat berpengaruh buruk terhadap kepribadian maupun kesehatan mental kita, tetapi pertanyan besarnya justru: apakah kita membiarkannya bersarang di kepala kita?
Pada artikel ini saya akan mengemukakan beberapa cara agar kita dapat bertahan hidup di tengah-tengah lingkungan yang toxic.
What do you do as soon as you wake up?
Saya betul-betul percaya bahwa cara pandang Anda akan kehidupan Anda di satu hari tertentu berhubungan erat dengan apa yang Anda lakukan di 30 menit pertama setelah Anda bangun di pagi hari.
Jika Anda memulainya dengan suatu sikap/membaca/mendengar hal yang positif, maka sudut pandang Anda dalam menjalani hari tersebut akan menjadi lebih optimistis, bernapas terasa lebih ringan, masalah-masalah tidak terasa terlalu berat, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, jika Anda memulainya dengan suatu sikap/membaca/mendengar hal yang negatif, maka cara Anda melihat hari tersebut pun akan menjadi lebih pesimistis, napas terasa lebih berat, masalah-masalah terasa seperti akhir dunia, dan seterusnya.
Masalah utama yang berkaitan dengan hal ini, yang sudah saya ungkapkan di beberapa artikel sebelumnya, adalah kecanduan manusia terhadap smartphone-nya. Sehingga most likely, barang pertama yang Anda sentuh di pagi hari mungkin bahkan bukan wajah Anda, tetapi smartphone Anda.
Then what happens?
Cek notifikasi Whatsapp.
Cek Instagram dan Twitter apakah ada likes/comments/reply baru, dilanjutkan dengan melihat feed dari akun-akun yang kita follow – kira-kira apa yang Anda lewatkan semalam selagi Anda tidur?
Cek Line Today.
Cek situs berita online favorit (percayalah, mayoritas beritanya adalah berita buruk, because those are the ones that sell).
Sehingga tanpa Anda sadari, di pagi hari pada saat pikiran Anda “sudah dikosongkan” dan sudah merasa refreshed setelah istirahat semalam langsung Anda banjiri dengan informasi-informasi yang tidak penting (baca: sampah).
Believe me: start your day with garbage information, and the rest of your day would also be garbage.
Jadi apa yang seharusnya kita lakukan?
Langkah awalnya yang termudah adalah dengan tidak menjadikan smartphone sebagai barang pertama yang Anda pegang di pagi hari. It can wait. Kalau penting, Anda pasti sudah dibangunkan oleh panggilan telepon di malam hari.
Next step: find GRATITUDE (rasa mengucap syukur)
- Napas yang masih bisa Anda hirup (apalagi di era pandemi Covid-19 seperti ini).
- Suami/istri/ayah/ibu/anak-anak yang masih tidur terlelap.
- Hari yang cerah, suara burung yang berkicau (seriously, try to listen).
- Kulkas/lemari yang masih ada isinya (walaupun sedikit).
- Pekerjaan yang masih Anda bisa lakukan hari itu, dan dibayar karenanya
- …dan lain sebagainya.
Langkah selanjutnya: isi kepala Anda dengan membaca hal-hal yang positif (HINT: definitely not the news or social media). Dapat berbentuk bacaan Kitab Suci ataupun renungan, buku-buku apapun yang bernuansa positif yang sedang Anda baca, kartu-kartu ucapan lama yang ditujukan untuk Anda, atau apapun yang bisa Anda pikirkan.
Close it with prayers.
(If you can’t pray for some reason, just say: “I don’t know what to say, but I do hope today’s going to be a good day, for me and my friends and family.”)
And you’re done. Kalau menggunakan istilah yang digunakan oleh Tony Robbins: you’re PRIMED. Anda sudah mengkondisikan pikiran (state of mind) Anda dalam kondisi prima, sehingga seluruh sel di dalam tubuh Anda pun akan mengikuti.
Gary Vaynerchuk menggunakan cara kontras namun serupa: membayangkan situasi pengandaian dimana seluruh keluarganya terbunuh, agar beliau dapat menyadari betapa berharganya hari tersebut.
Sebuah studi dari Harvard University yang dilakukan oleh Amy J.C. Cuddy bahkan membuktikan hanya dengan memposisikan tubuh kita mengikuti “power pose,” yaitu berdiri tegap, kedua tangan di pinggang, busungkan dada, wajah menghadap ke depan selama 20 menit saja, akan memberikan perubahan-perubahan berikut ini:
- Hormon testosteron kita meningkat sebanyak 33%.
- Hormon kortisol (hormon stres) kita berkurang sebanyak 25%.
- Terbukti 33% lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Jika power pose saja menyebabkan perubahan demikian, apalagi jika Anda mempraktikkan hal-hal tersebut di atas SETIAP HARI?
Di dalam kondisi pikiran yang prima, Anda tidak akan terpengaruh banyak oleh seberapa toxic-nya lingkungan Anda.
Make your bed
“Habis mandi kutolong ibu merapikan tempat tidurku.”
Sebuah kutipan kalimat lagu yang kita hapal kalimatnya, tetapi tidak hapal cara melakukannya.
Percayalah, membereskan tempat tidur Anda di pagi hari adalah hal terindah yang dapat Anda lakukan untuk diri Anda sendiri.
Mengapa? Karena dengan membereskan tempat tidur Anda, yang tidak akan memakan waktu lebih dari 3 menit, Anda sudah sukses menyelesaikan satu tugas di hari Anda tersebut. Belum satu jam berlalu dari belasan jam Anda terbangun di hari itu, tetapi sudah ada satu hal yang Anda berhasil selesaikan.
Mungkin kedengaran sebagai suatu hal yang “receh,” but trust me, it makes a world of a difference.
It boosts your confidence to face the rest of the day.
Selain itu, tanpa Anda sadari Anda sudah memberi hadiah untuk diri Anda yang akan pulang dari sekolah/tempat bekerja nanti malam: tempat tidur yang sudah rapi. Karena tanpa Anda sadari, jika lingkungan sehari-hari Anda sudah toxic, dan Anda pulang ke tempat tidur yang berantakan, sama saja Anda sedang mempersiapkan mental dan pikiran Anda esok hari untuk jadi sama buruknya dengan hari ini.
How can you be kind to others when you’re not even kind to yourself?
Quit those Whatsapp groups
Anda dan saya sama-sama mengetahui dan menyadari (seberapa kuat pun Anda mau menyangkalnya) bahwa salah satu sumber konstan berita-berita maupun pemikiran negatif yang masuk ke pikiran kita adalah melalui grup-grup Whatsapp.
Grup alumni sekolah menengah atas (SMA) yang isinya hanya forward-an berita-berita negatif (atau dari pengalaman saya: isinya hanya kirim-mengirim video pornografi terbaru).
Grup teman-teman satu lingkungan pekerjaan yang isinya hanya keluhan-keluhan terhadap atasan, bagaimana si A dan si B merasa diperlakukan tidak adil.
Grup lain yang isinya hanya pertengkaran antara mereka yang memegang paham A melawan mereka yang memegang paham B.
Grup yang isinya hanya gosip terbaru (baik kenalan maupun selebritis).
Just. Leave. The. Group.
Kalau ditanyakan oleh administrator grup kenapa Anda meninggalkan grup tersebut, beritahu saja apa adanya: menurut saya isi grupnya terlalu toxic untuk otak saya, sedangkan saya sedang mau mencoba untuk memiliki mindset yang positif tentang hidup.
Karena tidak ada landasan hukum negara maupun perusahaan (dalam perjanjian kerja sama) yang mengharuskan Anda untuk menjadi anggota sebuah grup Whatsapp.
Takut ketinggalan berita/fear of missing out (FOMO)? Tenang saja, keberhasilan mendapatkan informasi seakurat dan sedini apapun tidak akan menambahkan sedetik pun masa Anda hidup di dunia ini. Kalau beritanya memang penting, cepat atau lambat pasti tetap akan sampai ke Anda.
Just do it.
Thank me later.
(By the way, ini berlaku juga di dalam kehidupan sebenarnya dan tidak hanya di grup Whatsapp: jika Anda masih hangout dengan mereka-mereka yang sangat negative-thinking, itu akan menggerogoti diri Anda perlahan-lahan)
Surround yourself with supportive people
Setelah mengeksklusi diri kita dari orang-orang yang mencoba menarik kita ke negativity, maka tentunya kita harus berusaha untuk mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang selalu bersifat suportif. Atas dasar inilah maka di luar negeri banyak dibuat grup alcoholic anonymous untuk mereka yang bersama-sama berjuang untuk lepas dari kecanduan alkohol, dan support group lain yang serupa untuk tiap masalah yang berbeda
Dan dengan kata “suportif,” yang saya maksud bukanlah mereka-mereka yang selalu mengatakan kepada Anda:
“Kamu bisa! Kamu pasti bisa!”
No. That’s such a cliche.
Yang Anda butuhkan adalah orang-orang yang akan selalu mengatakan kepada Anda:
“Lakukan saja yang terbaik. Berhasil ataupun tidak, kami akan selalu ada di belakangmu.”
Tentunya hal ini akan sangat sulit dilakukan apabila lingkungan toxic Anda adalah orang-orang yang lingkup pengaruhnya sangat dekat dengan Anda: keluarga, misalnya. Bukan artinya kemudian saya menganjurkan Anda untuk lari dan meninggalkan keluarga Anda begitu saja, tetapi Anda perlu mencari lingkup pengaruh lain yang lebih bisa memberi pandangan-pandangan positif di dalam hidup Anda.
Karena mencari lingkup pengaruh baru tentunya tidaklah mudah, Anda dapat memulai dengan membaca buku-buku self-help, mendengar episode-episode podcasts yang memotivasi Anda, dan lain sebagainya. Banjiri kepala Anda dengan asupan-asupan yang positif, yang mengarahkan Anda selalu kembali ke gratitude, agar Anda tidak tertelan lagi oleh negativity yang dilontarkan terus-menerus oleh lingkup pengaruh Anda.
It’s not about you
Yang terakhir ini merupakan cara untuk mengubah perspektif Anda di tengah-tengah lingkungan yang toxic agar tidak mempengaruhi karakter/kepribadian/sudut pandang Anda dalam melihat kehidupan Anda sehari-hari.
Kuncinya adalah untuk senantiasa menganggap bahwa setiap peristiwa buruk atau tidak mengenakkan yang terjadi kepada kita bukanlah mengenai kita. Jangan jadikan itu sesuatu yang personal, karena itulah yang akan menghancurkan diri kita sendiri.
Don’t take things personally, seperti dengan baik disampaikan oleh Frederik Imbo, seorang wasit profesional sepakbola di sebuah TEDx Talk.
- Pada saat Anda mengalami tekanan dari atasan Anda di tempat kerja, mungkin atasan Anda juga sedang mendapat tekanan dari atasannya untuk performa kerja unit yang kurang baik.
- Pada saat Anda “kena omel” oleh orang lain, mungkin di hari itu dia sedang memikirkan mengenai anaknya yang sedang sakit.
- Pada saat Anda diklakson dan dipepet terus oleh mobil di belakang Anda, mungkin dia sedang panik mengantarkan istrinya yang mau melahirkan.
- Pada saat Anda mendengar pasien yang berujar agak nyelekit, mungkin itu dikarenakan kekhawatirannya yang terlalu mendalam akan penyakitnya.
- Pada saat Anda membaca komentar pedas seseorang di media sosial, itu merupakan ekspresi satu-satunya yang bisa dia keluarkan akibat insecurities yang dia miliki.
It’s not about you.
The world does not revolve around you.
So, take it easy.
Peganglah teguh konsep ini, dan Anda akan menyadari langsung betapa banyak beban yang terlepas dari pundak Anda, karena ternyata selama ini Anda sendiri yang menaruhnya di pundak Anda, dimana hal itu sebenarnya bukanlah sebuah keharusan.
Mudah-mudahan apa yang saya tuliskan ini bisa menjadi penangkal untuk toksisitas yang sudah terlanjur masuk ke dalam hidup Anda.
Stay positive, disruptive doctors.
Apakah Anda merasa berada di tengah di lingkungan yang toxic?
Apa yang biasanya Anda lakukan untuk menetralisirnya?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah
Photo by Pablo Stanic on Unsplash
5 thoughts on “Bertahan di Lingkungan yang Toxic”
Tepat sekali.. kita yg memilih sajian kita.. asal tetap berada di koridor norma yg baik.. tetap isi hal positif, kesampingkan hal negatif
Stay positive, doc!
I do yoga as a morning routine since the beginning of pandemic and I guess it helps me much to focus, to be “in the present” and to stay sane (haha). So do make sure to add yoga or other exercises to your daily routine!
Yup, 100%. Exercise does magic to your brain.
Toxic nya agak ngeri. Ceritanya dokter bedah baru lulus tapi songong krn anaknya konsulen. Eh operasi selalu ditemenin krn ngga pede, sekalinya operasi besar jadi komplikasi. Dia ngga sadar ada mental health issue tapi selalu parno (paranoid) ada yg kirim santet. Bawaannya marah terus & fraud dimana mana, sampai praktek ngga pakai izin.
Mungkin kapok kalau beneran masuk penjara?
Kalau kasus ini, run for yourself. Jangan dekat², sebagaimana pun state of mind – orang dgn mental health issue spt ini tidak perlu di kasih kesempatan.