7 Kebiasaan Dokter yang Sukses

Photo by Razvan Chisu on Unsplash

Kenyataan pahit

Mari bicara kenyataan dan berhenti berpura-pura sejenak.

Tidak semua dokter adalah dokter yang sukses.

Kaya? Ya, mungkin mayoritas dokter bisa dibilang “kaya,” namun jika bicara mengenai kesuksesan, menurut saya itu adalah hal yang sama sekali berbeda.

Coba ingat-ingat lagi masa-masa di saat anda masih menjadi co-ass dan mengikuti kegiatan konsulen di poliklinik. Saya percaya anda bisa mengingat dengan jelas masa-masa tersebut, dan bahkan dapat membuat sebuah list nama-nama dokter konsulen yang dulu menurut anda adalah konsulen-konsulen yang “hebat” dan “sukses” dalam hal penanganan pasien. Sangat jelas terlihat dari sikapnya menangani pasien, dan bahkan tercermin juga dari sikap pasien terhadap dokter tersebut. Bahkan pada saat pasien masuk ke ruangan dan melihat wajah konsulen tersebut, langsung terlihat secercah kelegaan di mata pasien dan keluarganya.

Setelah melewati satu dekade lebih masa pendidikan kedokteran, saya mengamati dan saya mencapai sebuah kesimpulan, bahwa berikut inilah ciri-ciri dokter yang menurut saya sukses dalam hal penanganan pasien:

1. Tepat waktu

Ups. Terlalu tepat sasaran?

Semua manusia mendapat jatah 24 jam dalam sehari. Pun sang dokter, pun sang pasien. Jadi apakah ada alasan untuk seorang dokter menganggap bahwa waktunya lebih berharga dari waktu pasien? Saya kira tidak.

Bagi dokter yang merasa keterlambatan itu adalah suatu kewajaran, mungkin belum pernah disuruh menunggu sebagai pasien. Sepanjang sejarah saya berobat ke RS sebagai pasien, bahkan di RS swasta ternama sekalipun, tidak pernah sekalipun saya berhasil bertemu muka dengan dokter yang saya tuju dalam kurun waktu 1 jam sejak saya tiba di RS. Can relate?

Mungkin ada yang pernah berobat di negara tetangga kita yang terkenal disiplin? Pada saat mendaftar via telepon atau online, anda akan diberikan jam spesifik untuk datang (contoh: 3.15 PM), dan pada pelaksanaannya hanya berdeviasi +/- 5 menit (Yes, I’ve tried. They’re THAT punctual). Then us doctors complain as to why our patients keep flying abroad to pursue medical treatment. Nope. It’s our own fault, docs.

Baru selesai visit. Baru selesai operasi. Baru selesai praktik dari RS lain. Semuanya tidak lain dan tidak bukan hanyalah cermin dari manajemen waktu yang buruk dari seorang dokter.

Mengapa tidak visit lebih pagi? Karena baru selesai operasi lewat tengah malam.

Mengapa tidak menjadwalkan operasinya sore saja? Karena ada praktik di RS lain.

Mengapa harus praktik di RS lain? Karena……….

THIS is why this blog is specifically talking about personal finance for physicians.

2. Bersalaman dengan/memberi salam untuk pasien

Ya, hal yang sangat remeh (cekeremeteme) bukan?

Tapi hal ini sangatlah berarti. Seorang senior yang sangat saya hormati pernah memberi pesan yang saya ingat hingga sekarang: A small good deed goes a long way. Kebaikan yang kecil dalam hidup justru memiliki arti dalam jangka panjangnya.

Sebuah jabatan tangan atau tangkupan tangan yang memberi salam, memberi pesan kepada pasien bahwa mereka dihargai, bahkan sebelum mereka bercerita tentang keluhan utamanya. Bagi saya jabatan tangan itu seperti menerjemahkan kepada pasien bahwa “Saya menghargai anda yang sudah duduk di luar sana dan menunggu untuk mendapatkan pendapat saya mengenai keluhan atau penyakit anda.”

3. Mengingat hal-hal kecil mengenai pasien

Sebuah lagu yang sangat terkenal saat saya masih duduk di bangku SMP menggambarkan dengan jelas apa yang saya maksud:

All the small things. True care, truth brings.

Dan apa yang saya maksud bukanlah mengingat nama belakang pasien, diagnosisnya, mengingat organ apa yang terkena, atau mengingat hasil x-ray atau CT scan pasien dengan sempurna. No, not all these. Namun ingatlah hal-hal yang kecil namun unik dari pasien.

Contoh:

  • Ingatlah seorang pasien mendapat fraktur klavikula saat menjalankan hobinya yaitu downhill mountain biking.
  • Ingatlah seorang pasien menderita frozen shoulder padahal memiliki hobi memancing.
  • Ingatlah pasien penderita carpal tunnel syndrome yang ternyata gemar membaca dan menulis.

Maka pada saat pasien kontrol, alih-alih langsung menanyakan tentang follow up keluhan pasien atau kondisi lukanya, anda dapat bertanya:

  • Apa kabar pak? Belum naik sepeda lagi kan?
  • Apa kabar pak? Kok tidak bawa ikan hasil pancingan untuk saya?
  • Bagaimana kabarnya bu? Sedang membaca buku apa minggu ini?

Sehingga pasien benar-benar merasa dipedulikan dan tidak sekedar merasa berada di antrian konsultasi dan pembayaran untuk jasa dokter.

TIPS: Status pasien bisa digunakan untuk mencatat mengenai hal-hal ini, tidak melulu yang harus dicatat adalah keluhan secara medis saja. Saya selalu mencatatnya di bagian paling atas, sehingga langsung terbaca saat membuka follow up terakhir.

4. Maintain eye contact

Apa yang anda pikirkan jika anda menjadi pasien dan sepanjang waktu konsultasi, sang dokter hanya melihat ke arah komputer dan mengetik, atau melihat ke lembar status sembari menulis? Itu namanya interogasi, bukan anamnesis.

Mungkin anda merasa sulit untuk berkonsentrasi bertanya sambil menulis/mengetik, jika memang demikian, berkonsentrasilah kepada jawaban pasien dulu sambil mempertahankan kontak mata, status pasien bisa diisi belakangan. Anda bahkan bisa dengan gamblang minta waktu kepada pasien untuk mengisi status, saya yakin mereka tidak akan keberatan.

Jika anda merasa canggung, inipun normal karena memang hal ini tidak diajarkan di sekolah kedokteran. Sebaliknya, dalam kursus-kursus public speaking, sekolah kepribadian, dsb hal ini adalah subjek wajib di dalam pembelajaran. Sehingga kebiasaan ini memang harus dipelajari, tidak semua orang bisa langsung mengerti dan mempraktikkannya.

TIPS: Jika anda adalah orang yang canggung, lihat saja dahi pasien di antara kedua matanya. Hal ini cukup untuk membuat seseorang merasa diperhatikan, dan membantu anda karena anda sebenarnya sedang mengalihkan kecanggungan anda.

5. Mendengarkan pasien dengan seksama

Bedakan antara mendengar, dan mendengarkan. Ini sebabnya kedua kata ini dalam bahasa Inggrisnya memiliki dua kata berbeda. Hear = mendengar. Listen = mendengarkan.

Okay, terkadang karena terlalu banyak hal yang kita tanyakan, terkadang kita lupa akan jawaban pasien dan harus menanyakan kembali pertanyaan yang sama. Hal ini cukup bisa dimengerti dan ditolerir, ucapkan saja dengan jujur: “Maaf saya lupa jawaban atas pertanyaan tadi.” Namun jika hal ini terulang 3x atau bahkan lebih, berarti anda hanya sedang mendengar dan tidak mendengarkan.

Dan percayalah, sebagian kecil dari pasien yang masuk ke klinik anda, tidak datang untuk obat ataupun tindakan dari anda. Mereka datang hanya dengan harapan ingin didengarkan oleh seseorang. Pernah merasakan hal yang sama? Then you know what I’m talking about. Jika belum pernah, mungkin anda adalah orang yang kurang sensitif perihal reading between the lines.

Terkadang bahkan curhat yang belakangan keluar di dalam cerita pasien memiliki makna yang lebih mendasari keluhannya dibandingkan keluhan utamanya. You’ll be surprised.

THIS is what being a doctor is all about. Memberikan obat dan tindakan itu mudah, tidak perlu sekolah panjang selama 5 tahun (bahkan lebih).

TIPS: Tonton film “Patch Adams.”

6. Menjelaskan diagnosis banding

Pernahkah saudara menjelaskan secara rinci apa yang ada di dalam proses pikir anda ke pasien? Dari kemungkinan diagnosis lain, yang imbasnya berujung kepada beberapa pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding tersebut, dan kemungkinan opsi obat-obatan yang kemungkinan akan diberikan untuk masing-masing diagnosis?

Saya kira banyak dokter yang menganggap ini adalah sebuah kelemahan, karena seakan-akan tidak memiliki diagnosis yang pasti terhadap sebuah keluhan pasien. Sebaliknya, saya justru merasa bahwa ini adalah kekuatan utama seorang dokter di zaman sekarang ini.

Masyarakat saat ini sudah semakin kritis, bukan seperti zaman dulu lagi yang pasti akan mengangguk-angguk terhadap apapun instruksi seorang dokter. Generasi millenials dan di bawahnya pun sudah sangat terbiasa untuk kritis dan diajak berpikir logis. Sehingga menurut saya pasien-pasien di zaman sekarang justru akan lebih menghargai dokter yang bisa membagikan pola pikirnya dalam alur yang mudah dimengerti oleh pasien.

Stop being cryptic and authoritative, they just don’t sell these days.

7. Menganggap pasien sebagai klien

Ada satu hal yang sangat menarik yang saya dapatkan dari perbincangan dengan seorang teman saya (dari luar dunia kedokteran) saat saya baru mau memulai blog ini. Kami sedang membicarakan bagaimana prospek, pengembangan, dsb, saat tiba-tiba beliau berkata demikian: “Akan mudah sekali bagimu untuk mengembangkannya, karena dokter setiap hari bertemu dengan orang-orang yang sangat berpotensi untuk pengembangan networking pribadi.”

Setelah saya perhatikan pun baru saya menyadari bahwa salah seorang guru besar di lingkungan akademik saya pun mempraktikkan hal ini. Setiap saat beliau bertemu dengan tamu undangan dari luar negeri, beliau selalu langsung menanyakan bagaimana praktik kedokteran dan pengajaran kedokteran di negara asalnya, dan apa kolaborasi yang kira-kira bisa dihasilkan melalui pertemanan mereka. Our networking doors as doctors are opened wide. We just never realized it.

Sehingga mulai saat itu saya selalu menanyakan apa pekerjaan/profesi dari pasien yang masuk ke klinik saya (selain karena memang hal itu tidak boleh lupa ditanyakan untuk kemungkinan occupation-related disease). Tidak harus selalu mengenai pekerjaan, tapi biasakanlah untuk membahas hal-hal pada diri pasien yang tidak berhubungan dengan kondisi medisnya, dan selalu tunjukkan bahwa anda genuinely tertarik untuk tahu. It is seriously fun when you can talk about books, parenting, games, hobbies with your patients. Give it a try!


Jadi itulah kira-kira 7 kebiasaan dari dokter yang sukses yang saya bisa amati.

Mudah-mudahan bermanfaat bagi pengembangan diri dan praktik anda, dan silakan share ke sejawat yang lain agar kita semua bisa bersama-sama menjadi dokter yang sukses dalam menangani masyarakat.

Bagaimana pendapat Anda?
Apa kira-kira rahasia kesuksesan seorang dokter menurut Anda?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

10 thoughts on “7 Kebiasaan Dokter yang Sukses”

  1. duhh, betul skali dok. it’s the small things that matters.
    i’m so glad someone put it out there. we have to make time to talk about the small things with our patient.
    trus, poin 6, my personal fave! nda usah diagnosis banding dok, kadang ada pasien yang belum jelas malah diagnosanya apa, padahal udah oprasi, baru keluar rs…
    i repeatedly asked a patient this ; “sudah mengerti sakitnya, pak, bu…?” “kalau belum ayo ditanya…”
    thankyou for this article dok. sukses selalu. God bless

    Reply

Leave a Comment