Kesalahan Fakultas Kedokteran

Photo by chuttersnap on Unsplash

Kemanusiaan vs kenyataan

Saya kira semua orang dapat menyetujui bahwa keputusan seseorang untuk mengambil sekolah kedokteran/kedokteran gigi biasanya hanya ada 2 kemungkinan: panggilan pribadi untuk kemanusiaan atau disuruh orangtua. Terlepas dari apapun yang terjadi kepada seseorang yang sekolah kedokteran karena alasan yang kedua, tetap saja pada akhirnya semua orang akan menyadari bahwa yang namanya menjadi seorang dokter itu erat hubungannya dengan hal-hal kemanusiaan. Kesalahan terbesar fakultas kedokteran adalah terlalu terkonsentrasi pada hal kemanusiaan dan tidak mempersiapkan seorang lulusan dokter baru untuk kenyataan hidup.

Jangan dilupakan bahwa pendidikan kedokteran pun sebenarnya sedang mempersiapkan seseorang untuk memiliki karir untuk menghidupi dirinya dan keluarganya di masa depan. Menghidupi diri dan keluarga artinya suatu hari seorang mahasiswa kedokteran pun akan bekerja untuk uang sebagai imbalannya. Ekspertise/keahlian yang didapatkan selama pendidikan kedokteran itulah yang akan menjadi value seorang dokter, yang kemudian akan menjadi fair-exchange untuk jasa (imbalan) seorang dokter dalam hal pelayanan pasien.

Jadi apakah merupakan suatu hal yang tabu bagi dokter untuk membicarakan keuangan karena bekerja di bidang kemanusiaan? I really don’t think so.

Literasi keuangan itu dibutuhkan semua orang

Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya sekitar 38% – artinya hanya 38% dari 270 juta jiwa. Data ini pun menurut saya terpengaruh akan selection bias, di mana saya yakin riset/surveinya hanya dilakukan di kota-kota besar pada masyarakat dengan taraf ekonomi menengah ke atas. Jika Anda tidak paham apa yang saya maksud, mungkin Anda belum pernah melakukan riset dengan kuesioner, karena menurut saya masyarakat Indonesia sangat buta kuesioner.

Artinya dengan asumsi saya tersebut, nilai riilnya seharusnya jauh lebih rendah daripada itu. Sementara, semua orang bekerja untuk mendapatkan uang. Jadi, bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah dipersiapkan untuk mengatur keuangan suatu hari tiba-tiba memiliki gaji dan harus mengaturnya untuk hidup sehari-hari, dan bahkan harus mulai memperhitungkan persiapan dana pensiun?

Sadly, that’s what graduating as a medical doctor is all about.

All your adult life you’ve been preparing to handle patients with all their worry, to be able to answer their questions, to be able to handle a surgical knife and treat someone’s disease, to do a complicated clinical trial to help mankind, yet not one person prepared you as to how you should handle your money.

Lulus langsung masuk jurang

Akibatnya di saat seorang dokter atau dokter spesialis lulus dari pendidikannya, yang terjadi adalah fenomena “mengejar ketinggalan kereta.” Karena pengalaman masa pendidikan yang memprihatinkan, maka seorang lulusan baru biasanya menganggap bahwa itulah waktunya untuk berfoya-foya dengan membeli apapun yang dia sanggup beli dengan gajinya, atau bahkan yang dia rasa sanggup untuk cicil selama beberapa bulan ke depan. Belum lagi apabila mereka melihat standar gaya hidup sejawat di sekitarnya, dan merasa bahwa itulah standar gaya hidup minimal yang harus mereka ikuti.

Fenomena ini terjadi terus-menerus, berulang setiap generasi lulusan dokter. Faktanya sudah jelas terlihat dan dapat dibaca di sumber manapun mengenai finance yang berkaitan dengan dunia kedokteran, sehingga profesi dokter dikenal sebagai mereka yang memiliki nominal gaji tinggi namun merupakan investor yang payah. Mengapa? Karena gaji tinggi tersebut habis hanya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan terkait lifestyle dan tidak ada yang dijadikan aset untuk jangka panjang.

And no one is doing anything about it.

Bukankah esensi dari sebuah pendidikan adalah untuk menjadikan generasi di bawah kita menjadi sama atau bahkan lebih baik dari kita?

Apabila kita memahami fenomena ini dan terus saja membiarkan adik-adik mahasiswa kedokteran dan tidak melakukan apa-apa, bukankah ini sama saja dengan membiarkan mereka perlahan berjalan menuju tepi jurang (lifestyle), dan kemudian kita menendang mereka masuk ke dalamnya?

Waktu untuk perubahan

Saya kira sudah terlalu lama hal ini menjadi sebuah masalah yang tidak teridentifikasi dan tidak ada seorangpun yang melakukan hal apa-apa. Dissecting Money hanyalah suatu media untuk membuka mata sejawat bahwa ini merupakan masalah besar dan kita tidak bisa terus-menerus menutup sebelah mata.

It is indeed a disruptive era, and we need to change, real soon.

Indonesia’s economy is on the rise, and it needs to be accompanied by proper financial literacy among its people.

Tentunya saya harapkan kenyataan ini bisa tersampaikan dan dapat dimengerti oleh sejawat yang berprofesi sebagai staf pengajar di fakultas kedokteran. Adik-adik kita sedang berteriak khawatir akan kebutuhan yang sangat nyata mereka butuhkan, tetapi tidak mereka dapatkan. Apakah kemudian kita membiarkan hal ini berlangsung terus hanya karena kita sendiri tidak mendapatkan pengajaran mengenai keuangan yang memadai?

I hope the answer to that question is “of course not.”

Jadi, kira-kira hal apa yang dapat Anda lakukan untuk mencoba mengubah kenyataan pahit ini?


Jika Anda adalah mahasiswa kedokteran, apakah Anda setuju bahwa literasi keuangan adalah suatu kebutuhan yang mendasar?
Jika Anda adalah staf pengajar, apakah Anda menyadari bahwa masalah tersebut nyata di dunia kedokteran?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

11 thoughts on “Kesalahan Fakultas Kedokteran”

  1. Baik dok.. mari kita berbagi pengalaman literasi keuangan kepada adik2 , rekan2 kita “ yang mau membuka hati “ hehehe .. memang sih rata2 memberi jawaban “ nanti deh kalo uangnha uda stabil/ banyak baru belajar2 literasi keuangan”

    Reply
  2. Setuju banget dokter, semoga perlahan tp melesat bisa membuka pikiran TS kita tentang literasi keuangan. Thanks for sharing doctor, keep inspiring !

    Reply
  3. Saya sebagai mahasiswa kedokteran sangat setuju, dok. Menurut saya mahasiswa kedokteran perlu melek finansial karena tidak bisa dipungkiri masih banyak kebutuhan finansial ke depannya yang harus direncanakan setelah menjadi dokter. Misalnya biaya pendidikan dan biaya hidup selama sekolah spesialis dan biaya untuk terus meng-update ilmu pengetahuan

    Reply
  4. Izin usul dokter untuk dibahas bagaimana menego gaji terhadap manajemen untuk kita yang baru lulus kadang bingung bagaimana standar sharusnya
    Apalagi dituliskan di sebaran info lamarannya
    “Gaji : nego”
    kan bingung kita gmna negonya …..
    Karena banyak juga yang timpang antara rs 1 dengan rs yang lain juga…

    Reply

Leave a Comment