Kesalahan Terbesar Dokter Spesialis

Photo by NeONBRAND on Unsplash

Mimpi umum mahasiswa kedokteran

Apabila Anda adalah seorang atau pernah merasakan menjadi mahasiswa kedokteran, maka Anda dapat memahami bahwa sebuah mimpi yang umumnya dimiliki oleh seorang mahasiswa kedokteran adalah menjadi dokter spesialis.

Bagaimana tidak? Ketika kita sebagai mahasiswa preklinik/co-ass dengan segala keterbatasan ilmu kedokteran, tiba-tiba melihat sosok dokter-dokter spesialis yang sangat mengagumkan, dengan kepiawaiannya dalam menangani pasien dan kepercayaan diri dalam menentukan diagnosis dan tatalaksana pasien, sementara kita untuk melakukan anamnesis saja masih bingung mau diarahkan ke mana.

Belum lagi ketika melihat gaya hidup/lifestyle dari para dokter spesialis yang membuat kita menginginkan kehidupan semacam itu di kemudian hari: mobil mewah yang punya spot parkir khusus di depan lobi, iPhone (bisa lebih dari satu), tablet, atau laptop jenis terbaru, tas branded, dsb.

Dan kemudian kita pun berpikir:

They must be doing really well money-wise, right?

Well, after reading so much on finance, I wouldn’t trust what’s laid out before my eyes anymore.

Mengejar kereta yang sudah berangkat

Seperti yang sudah saya kemukakan berapa kali sebelumnya, permasalahan utama dokter dalam pengaturan keuangan pribadi dan berinvestasi adalah keterlambatan untuk memulai. Rata-rata seorang dokter spesialis akan ketinggalan minimal 10 tahun dalam hal mendapat gaji rutin yang layak dan dalam memulai menabung jika dibandingkan dengan teman seangkatannya yang memiliki profesi lain.

Sehingga apa yang seringkali terjadi setelah seseorang lulus sebagai dokter spesialis? Kita akan kemudian memandang kembali teman-teman lama kita yang ternyata sudah tinggal di rumah sendiri dengan kredit pemilikan rumah (KPR) yang cicilannya tinggal 5 tahun lagi, sudah memiliki mobil mewah, sudah rutin travelling ke sana-sini setiap tahunnya, dll. Belum lagi jika sudah mulai berpraktik maka kita akan mulai melihat dokter-dokter spesialis di sekeliling kita: mobil dan smartphone apa yang mereka gunakan, rumah mewah yang mereka miliki yang dekat dengan RS, membership di country club atau gym elit, dsb.

Imbasnya, terjadilah suatu fenomena yang dikenal dengan istilah lifestyle creep. Ini merupakan suatu fenomena dimana karena terjadi lonjakan yang tiba-tiba terhadap income seseorang, maka hal-hal yang sebelumnya merupakan kebutuhan tersier/luxury menjadi sesuatu yang (seakan-akan) menjadi kebutuhan. Smartphone generasi terbaru padahal smartphone sebelumnya masih berfungsi, furniture dan kitchen set baru padahal yang sebelumnya masih bagus, mulai cicilan mobil model terbaru padahal yang lama masih bisa menggelinding, you name it!

Seringkali semua ini disembunyikan di balik premis “Saya kan sudah sekian tahun tidak punya pendapatan tetap, sekarang waktunya saya menikmatinya.” Memang tidak mudah untuk seorang dokter spesialis lulusan baru seperti saya untuk menahan diri dari membeli PlayStation 4 misalnya. Masakan seorang dokter spesialis tidak sanggup membeli gaming console yang selama ini diimpikan?

Yang terlupakan adalah bahwa semua hal yang kita lihat di sekeliling kita itu adalah kereta-kereta yang sudah berangkat sepuluh tahun yang lalu. Sementara kereta perjalanan finansial kita baru saja dimulai. Mereka mungkin sudah memiliki jumlah tabungan dan investasi yang sudah berjalan selama 10 tahun. Apakah seorang dokter spesialis yang baru lulus memiliki uang sejumlah demikian juga? I don’t think that’s the case for most of us.

So, are you sure you can buy all those stuff right away?

Apakah menurut Anda adalah sesuatu yang masuk akal untuk mengejar kereta yang sudah berangkat 10 tahun yang lalu?

Lanjutkan hidup melarat 5 tahun lagi

Sebuah konsep sederhana yang dapat dilakukan untuk mulai membangun kekayaan segera setelah lulus sebagai dokter spesialis diungkapkan dengan sangat baik oleh physician finance blogger favorit saya: Jim Dahle, MD (The White Coat Investor) yang mengatakan bahwa rahasianya adalah:

LIVE LIKE A RESIDENT for 5-10 more years.

Sangat counter-culture, bukan?

Which is exactly one of the reasons why I love the concept. Namun anehnya, tidak ada satupun dokter spesialis yang pernah memberikan arahan ini ke saya. Apakah artinya semua dokter spesialis tenggelam dalam kultur “mengejar ketertinggalan kereta” tadi di atas? Beats me.

Saya akan jabarkan mengapa saya memercayai betul konsep tersebut.

Tentu hidup Anda sebagai dokter spesialis akan sangat “nyaman” dan terlihat mewah di mata peer group jika Anda dapat membeli semua kebutuhan tersier yang Anda inginkan selama sekolah spesialis. Turun di depan lobi RS dengan mobil Eropa dan duduk di kursi belakang karena memiliki sopir pribadi, who doesn’t want this kind of life, right?

But things are way simpler for me.

Setiap 10 juta yang tidak saya keluarkan di masa sekarang mungkin akan menjadi 10 juta (plus interest) yang tidak perlu saya minta ke anak saya pada masa pensiun saya nanti.

Setiap 100 juta yang tidak saya belanjakan di masa sekarang mungkin nantinya (plus interest) dapat menjadi biaya kuliah anak saya pada saat ia ingin kuliah di luar negeri di masa depan.

It’s not about being stingy.

It’s about setting your priorities in life.

Me?

I think I can manage living like a resident for 5 more years.


Apakah Anda juga merasa sedang mengejar kereta yang sudah berangkat?
Apakah Anda juga pernah merasakan terjebak dalam jebakan lifestyle?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah atau melalui ikon chat di sudut kanan bawah.

12 thoughts on “Kesalahan Terbesar Dokter Spesialis”

  1. Betul dok admin .. fenomena ini sangatlab melekat dan NYATA , beberapa orang mungkin akan sulit mencerna karena sibuk liat kanan kiri maunya ngejer gerbong itu, demi bisa masuk ke peer group dan di akui .. demi gengsi . Marah kita melek finansial , tentukan prioritas !! Primer, sekunder , tersier,, siapkan fundamental budgeting disiplin, bentuk dana darurat, lengkapi asuransi , investasi rutin.. nah boleh lirik deh “keinginan” .. “hobi” ..

    Reply
  2. well said and 100 % agree. saya ga sengaja mampir ke blog the white coat investor saat browsing ttg diminishing marginal utility of money. bagus jg kalau bahas ini jg dok.

    Reply
  3. live like a resident, nice thought..
    saya rasa tidak ada salahnya bila memiliki gaya hidup sederhana seperti saat residen,,yang penting kan bukan residen lagi…>,<

    Reply

Leave a Comment