Personal Branding untuk Dokter

Photo by Austin Chan on UnsplashΒ 

Kaum tertinggal di industri 4.0

Sudah terlalu lama dunia kedokteran menutup mata akan pentingnya personal branding untuk dokter. Mungkin tidak di semua tempat, tetapi yang jelas sepanjang saya menjalani pendidikan kedokteran, entah mengapa personal branding itu dianggap seperti sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Para mahasiswa calon dokter dianggap “tidak berkonsentrasi terhadap pendidikan kedokterannya” apabila terlalu aktif di media sosial ataupun memiliki side gig yang tidak ada hubungannya dengan dunia kedokteran.

Lebih parahnya, terkadang hal ini dijadikan penilaian yang berkonotasi negatif. Seorang lulusan dokter yang aktif di media sosial dan hendak melanjutkan studinya di pendidikan lanjut terkadang dinilai negatif oleh para seniornya: “untuk apa dia melanjutkan pendidikan spesialis? Lebih baik dia jadi artis saja atau lanjut saja dengan bisnisnya.”

Hal ini berlangsung terus-menerus, sehingga kreativitas yang sudah sekian lama tertekan selama studi di fakultas kedokteran akan semakin tertekan dan seorang lulusan dokter akan merasa bahwa “memang seorang dokter itu hanya boleh melakukan praktik sesuai dengan apa yang telah dia pelajari dan jangan sentuh-sentuh bidang yang lain.”

I really don’t think so.

Dulu saya tidak bisa, sekarang kamu juga tidak boleh bisa

Menurut saya pribadi, salah satu masalah terutama dari mandeknya kreativitas dan keengganan berpetualang seorang dokter terimbas dari kebiasaan generasi di atas generasi millenials. Mereka dulu harus menjalani sulitnya hidup dan belajar kedokteran tanpa bantuan internet, sehingga menurut mereka mahasiswanya pun harus seperti itu.

Saya masih ingat sekali dulu di grup diskusi yang diadakan setiap minggu untuk mahasiswa pra-klinik, mahasiswa akan dipandang rendah oleh fasilitatornya apabila mengambil sebuah sumber dari internet dan bukan dari textbook. Sementara, fast forward ke masa kini, justru apabila kita mengambil informasi dari textbook, kemungkinan besar sudah outdated dan sudah ada jurnal-jurnal terbaru (yang adanya di internet) yang berisi panduan-panduan dan penemuan-penemuan terbaru. Konten-konten yang berisi tentang pengajaran-pengajaran kedokteran pun sudah semakin banyak, dan dibuat oleh dokter-dokter yang sangat ahli di bidangnya, sehingga bukan merupakan “ilmu gelap” dari internet yang tidak jelas.

Jadi suka atau tidak suka, memang masanya sudah berubah. Mungkin dokter-dokter dari generasi baby boomers masih kesulitan menerima kenyataan ini, tapi dokter-dokter dari generasi millenials yang merupakan generasi di masa transisi sebelum ke generasi Z yang sudah paham internet sejak di taman kanak-kanak, kita betul-betul harus siap untuk perubahan-perubahan yang menanti kita di depan.

Percepatan yang dibawa oleh pandemi COVID-19

Salah satu hal paling penting yang “diantarkan” oleh pandemi COVID-19 ke dunia ini adalah percepatan berjalannya industri 4.0. Industri 4.0 sendiri digambarkan sebagai:

The current trend of automation and data exchange in manufacturing technologies, including cyber-physical systems, the Internet of things, cloud computing and cognitive computing and creating the smart factory.

Sederhananya, industri 4.0 adalah sebuah revolusi untuk “meng-internetkan segalanya/internet of things (IOT).” Pandemi COVID-19 mempercepat tibanya era ini di masa sekarang. Sudah sejawat alami sendiri, di saat kontak fisik tidak memungkinkan, maka segala sesuatu harus berlangsung di “awan (cloud)” atau di internet.

Bukan tidak mungkin suatu saat praktik kedokteran akan bergeser ke arah telekonsultasi, pemeriksaan fisik melalui virtual reality, bahkan operasi menggunakan remote robotic surgery. Sesuatu yang mungkin menakutkan, tetapi mungkin daripada kita berpikir terlalu idealis dan menolak kedatangan seluruh teknologi ini, lebih baik kita membuka mata, menyambutnya dan mencoba untuk membantu menyempurnakannya.

Tukang ojek pangkalan dulu juga menolak dan tidak menyangka keberadaan ojek online akan semakin menutup eksistensi mereka. Pemilik toko-toko ritel juga mungkin dulu menertawakan toko online, karena merasa tidak mungkin seseorang mau membeli barang yang belum pernah dipegangnya secara langsung, tetapi kenyataannya dapat kita lihat sendiri sekarang bahwa toko ritel sudah sekarat.

Terlalu naif jika kita terus berpikir bahwa dunia kedokteran tidak akan terusik dengan berkembangnya teknologi dan internet.

Media sosial sudah menjadi televisi dan radio masa depan

Beberapa waktu lalu sedang marak diberitakan mengenai gugatan dari salah satu stasiun televisi nasional yang dulu sangat kita cintai terhadap seluruh aktivitas siaran langsung (live) dari YouTube atau Instagram seseorang, yang menurut mereka tidak mengantongi hak siar. Tentu saja mereka melakukan hal ini karena mereka sudah merasa sangat terancam, sudah berdiri di pinggir jurang, sehingga mereka berpikir lebih baik mencoba semuanya sebelum semuanya kandas. Kenyataannya adalah semua orang yang memegang smartphone dan memiliki paket data internet kemungkinan besar sudah tidak mau lagi harus menunggu jam tertentu untuk dapat menonton sesuatu yang mereka inginkan. They want it fast and on-the-go, just like what the internet is serving this world for: fast and accessible information, anytime, anywhere.

Pada saat pangsa pasarnya menginginkan sesuatu yang bisa diakses di mana saja dan kapan saja, sementara penyedia jasanya tidak mampu menyanggupi hal tersebut, maka mereka akan mencari sumber lain di mana hal tersebut bisa mereka dapatkan.

Maka apa yang terjadi di saat pasien-pasien menginginkan informasi mengenai dunia kedokteran, kesehatan, tips dan trik olahraga, di manapun dan kapanpun? Apakah mereka akan menunggu untuk mendapatkan cuti kerja, mendaftar ke praktik seorang dokter di rumah sakit, mengantri 1-2 jam, dan baru kemudian mendapatkan waktu sang dokter hanya sekitar 15-30 menit untuk menanyakan mengenai semua itu?

Think again. Think again REAL hard.

Online presence

Saya tetap sepenuhnya sadar bahwa banyak hal terkait hukum dan etika kedokteran yang membuat kehadiran teknologi belum tentu bisa meng-internetkan dunia kedokteran. Namun, yang mau saya tekankan adalah kita harus menyadari bahwa tanda-tanda pergeseran ke arah sana sudah sangat terlihat.

Artinya, bukannya berarti seorang dokter harus jor-joran mengiklankan praktiknya, memamerkan hasil pekerjaannya, dan lain sebagainya, karena tentunya banyak aturan-aturan yang harus diikuti. Namun, minimal milikilah online presence sebagai seorang dokter klinisi. Saya bahkan berpikir bahwa personal brand dari seorang dokter yang sangat bisa “menjual” untuk masyarakat di luar sana adalah apabila mereka bisa melihat kehidupan seorang dokter dari sudut pandang yang di luar dunia kedokteran. Mengapa? Karena dengan demikian mereka menyadari bahwa dokter pun manusia biasa, sehingga ada kecenderungan untuk dapat lebih nyaman berbicara dengan dokter mengenai kesehatan pribadi mereka.

Zaman dulu mungkin dokter dianggap seperti dewa yang begitu mengeluarkan sabda maka pasien hanya tinggal mengikutinya. Namun, di zaman sekarang, yang pasien butuhkan adalah komunikasi yang baik dari manusia ke manusia, bukan semata-mata sebuah instruksi dari dewa ke manusia.

Sebagai contoh:

  • Seorang pasien yang overweight/obese mungkin akan lebih nyaman menceritakan perjuangannya untuk bisa kurus ke seorang dokter spesialis gizi klinik yang pernah menceritakan perjalanannya mengurangi berat badan di media sosial.
  • Seorang pasien yang mengalami robekan anterior cruciate ligament (ACL) saat bermain basket akan lebih santai berdiskusi mengenai rencana operasi dengan seorang dokter orthopaedi yang juga aktif bermain basket.
  • Seorang pasien yang memiliki post-traumatic stress disorder akan lebih leluasa bercerita tentang isi kepalanya di depan seorang spesialis kedokteran jiwa yang pernah berbagi bahwa dia pun pernah mengalami gangguan cemas.
  • ….dsb.

Zaman dahulu, di mana praktik pribadi dokter masih sangat menjamur, maka sang dokter harus memasang plang praktik yang berisi nama dokter, hari dan jam praktik, dan lain sebagainya. Zaman sekarang tidak ada lagi pengemudi mobil/motor yang melihat ke luar dan membaca plang dokter. They all look it up on the internet! Bagaimana caranya mereka akan menemukan nama Anda jika Anda tidak memiliki online presence? Jadi anggaplah online presence ini seperti plang praktik dokter yang memberitahukan ke masyarakat bahwa Anda ada dan siap melayani masyarakat apabila mereka membutuhkan pelayanan kesehatan.

Rumus personal brand seorang dokter

Sekali lagi, bukan artinya kemudian seorang dokter yang memiliki online presence lalu mengiklankan jam praktiknya, posting foto di depan plang rumah sakit, memamerkan hasil pekerjaannya, dan lain-lain. Personal branding yang saya maksud sama sekali bukan seperti itu.

Saya memiliki sebuah rumus yang menurut saya bisa menjadi pegangan untuk Anda memiliki sebuah personal brand sebagai seorang dokter:

Figur dokter + minat di bidang non-kedokteran = PERSONAL BRAND.

Rumus ini berdasar kepada hipotesa saya di mana ke depannya mungkin masyarakat tidak akan tertarik hanya dengan figur dokter sebagai seorang klinisi di bidangnya. Orang-orang di luar sana, 10-20 tahun ke depan akan lebih tertarik pada seorang dokter yang aktif di bidang-bidang non-kedokteran juga.

Sebagai contoh, saya adalah seorang dokter spesialis orthopaedi yang masih aktif berpraktik, tetapi online presence dan konten-konten yang saya buat adalah tentang finance. Secara tidak langsung, saya sedang perlahan-lahan mengklaim pasar 10-20 tahun ke depan bahwa kalau ada pasien yang juga memiliki ketertarikan di bidang finance, mereka akan menemukan nama saya ketika mereka mencarinya di Google.

Pasien yang memiliki hobi memasak akan lebih tertarik untuk menemui dan berkonsultasi dengan dokter yang juga memiliki YouTube channel tentang memasak. Pasien yang senang olahraga diving akan lebih mencari dokter yang juga sering menulis blog tentang diving. Dan seterusnya, you get the idea, right?

The personal growth you get from personal branding: priceless

Mungkin saja semua yang saya ungkapkan di atas salah, dan kemungkinan 10-20 tahun lagi ternyata arahnya bukan ke sana. Meskipun demikian, dengan sudah mencoba untuk melakukan hal-hal tersebut, maka sebenarnya personal growth yang Anda dapatkan dari pengalaman tersebut akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk kehidupan Anda sebagai dokter ke depannya.

Even I myself was surprised how much I’ve learned just from starting a blog.

Beberapa pengalaman/skillset yang saya dapatkan:

  • Cara web design sederhana
  • Analytics (statistik) dari sebuah konten di internet
  • Digital marketing
  • Market research/cara menganalisa pasar
  • Video editing sederhana
  • Audio editing
  • Kontak dengan orang-orang yang mungkin saya tidak akan pernah kontak dengan mereka jika saya tidak memiliki blog ini

Semuanya ini, bahkan jika suatu saat blog ini berhenti dan tidak mampu saya lanjutkan lagi, sudah akan menjadi value/nilai tambah yang tidak ternilai untuk perkembangan saya sebagai dokter klinisi. So it matters less whether your personal brand will “sell” or not, it’s about personal growth. Suatu hal yang mungkin sulit dikuantifikasi dengan nilai uang, tetapi sesuatu yang mungkin suatu hari pada saat saya berusia 120 tahun saya akan melihat ke belakang dan berpikir “boy, am I glad I tried that..

So, are you ready to disrupt your old self, future disruptive doctors?


Apakah Anda setuju dengan pandangan saya mengenai pentingnya personal branding untuk dokter?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

9 thoughts on “Personal Branding untuk Dokter”

  1. “So it matters less whether your personal brand will β€œsell” or not, it’s about personal growth.”
    Mantap banget dok! Saya suka banget kalimat itu, seakan memberikan jawaban atas pertanyaan saya selama ini πŸ‘πŸ‘

    Reply

Leave a Comment