Pentingnya Perilaku dalam Berinvestasi

Sama seperti perilaku sebagai mahasiswa kedokteran

Sepanjang pendidikan kedokteran, telinga kita sudah kenyang dengan ajaran bahwa nilai bukanlah yang terpenting di dalam pembelajaran untuk menjadi seorang dokter. Ini bukanlah sebuah excuse untuk memiliki nilai yang biasa-biasa saja seperti saya selama pendidikan kedokteran. Namun, saya percaya bahwa mengejar nilai bagus di dalam studi kedokteran tidak akan membawa Anda kemana-mana selain kepada stres yang, sorry to say: Anda ciptakan sendiri. Yang terpenting adalah attitude (sikap) dan perilaku seorang calon dokter di dalam berinteraksi dengan lingkungan belajarnya, pun di waktu menghadapi tekanan-tekanan.

Hal yang sama berlaku juga di dalam berinvestasi: bukan instrumen investasinya yang menjadi kunci utama, tetapi perilaku Anda yang akan menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan investasi Anda.

Bukankah investasi itu mengenai uang dan compound interest? Apa urusannya perilaku saya dalam berinvestasi?

Psikologi keuangan

Jika di dunia kedokteran kita mengenal spesialisasi neurology dan neurosurgery yang cukup terkenal njelimet, jangan lupakan bahwa ada juga ranah neuropsychiatry yang tidak kalah njelimet, dan kesemuanya itu harus berjalan dalam suatu kesinambungan yang bersinergi untuk mendapatkan luaran yang optimal. Begitu juga di dalam ilmu finance, selain dari hal-hal mengenai bagaimana ekonomi bekerja secara umum, instrumen-instrumen keuangan, dsb ternyata psikologi dalam hal keuangan juga memiliki ranah sendiri yang tidak kalah penting dan bahkan sangat mendalam jika kita gali lebih lanjut.

Bukan hanya banyak sekali hubungannya, tetapi perilaku Anda dalam mengatur investasi Anda merupakan dasar dari segalanya. Karena percuma Anda memilih instrumen investasi terbaik apabila saat terjadi suatu guncangan pasar dan instrumen Anda mengalami penurunan signifikan, dan karena Anda panik, kemudian Anda menjualnya. Contoh saja apa yang terjadi pada pasar saham Indonesia memasuki bulan Maret 2020 kemarin menjelang dimulainya pembatasan sosial berskala besar (PSBB): indeks harga saham gabungan (IHSG) terjun bebas. Sehandal apapun Anda sebagai investor, sejago apapun Anda memilih emiten saham, seprofesional apapun Anda sebagai seorang trader, apabila Anda panik saat porfolio Anda menyentuh minus >50%, semua akal sehat Anda akan loncat keluar jendela.

Kurang-lebih mirip seperti apa yang kita ketahui sebagai seorang dokter: dokter tidak pernah disarankan untuk merawat dan menatalaksana anggota keluarganya sendiri, karena biasanya akan menjadi sangat rancu/biased dalam pengambilan keputusan. Karena keputusan yang diambil saat seseorang berada di bawah tekanan itu tidak akan pernah objektif. Jadi sadarilah bahwa hal yang sama berlaku juga mengenai personal finance dan investasi.

Mudah dimengerti tetapi sulit untuk dijalani

Mengapa kita sering sekali membaca mengenai apa saja yang harus dilakukan dengan uang kita agar dapat mengelolanya dengan bijak, tetapi tetap saja sulit sekali untuk melakukannya? (Saya yakin meskipun saya sudah berkali-kali menekankan pentingnya budgeting dan bahkan membuat video tutorialnya, pasti masih lebih banyak persentase sejawat yang tidak benar-benar melakukannya)

Jadi, mismatch tentang pengetahuan dan perilaku seseorang mengenai uang memang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor: selain latar belakang pendidikan, salah satu hal yang terpenting adalah pandangan yang diberikan oleh orangtua terhadap anaknya mengenai uang dan cara mengelolanya. Pernahkah sejawat memiliki teman yang terus-menerus berutang dan sama sekali tidak memiliki niat baik untuk mengembalikannya? Apakah itu karena pengajaran di sekolah? I don’t think so. Pasti ada sesuatu yang salah di dalam pengaturan keuangan keluarganya yang perlahan-lahan membangun mentalitas tersebut pada karakter si anak.

Hal ini berlanjut terus sampai seseorang lulus sekolah/kuliah dan mendapatkan pekerjaan dan gaji. Tanpa pembelajaran tentang pengaturan keuangan yang cukup dan dengan merasa bahwa apa yang dilakukan oleh orangtuanya perihal uang adalah the only way to go, berangkatlah seseorang dalam perjalananan finansialnya yang tidak memiliki fondasi yang benar dan tanpa tujuan.

Manusia pada dasarnya serakah

Poin penting berikutnya adalah mengenai keserakahan. Agar Anda dapat mengerti apa yang saya maksud mengenai keserakahan, saya akan memulai dengan sebuah kalimat singkat:

Apabila Anda menemukan selembar uang 20 ribu IDR di lantai mall, dan merasa itu milik Anda karena Anda yang menemukannya, you’re already a novice corruptor.

Jadi menurut saya terlalu banyak orang yang merasa mengerti dan paham mengenai keserakahan serta merasa “anti korupsi,” namun hal-hal yang dilakukannya sehari-hari sebetulnya tidak ada bedanya dengan korupsi. Perlu contoh lebih banyak?

  • Mencantumkan “biaya tak terduga” di dalam laporan keuangan acara pentas seni/seminar
  • Mengadakan pesta “pembubaran panitia” sesudah selesai menyelenggarakan sebuah acara yang diselenggarakan dengan meminta donatur
  • Meminjam ballpoint adik kelas atau perawat dan tidak mengembalikannya
  • Dititipkan membeli sesuatu oleh seseorang dan tidak mengembalikan kembaliannya karena hanya beberapa ratus perak
  • Menerima uang dari vendor obat atau alat kesehatan karena sudah menggunakan produk mereka

Lalu melihat berita mengenai korupsi pejabat negara dan mencibir.

Wake up.

Manusia pada dasarnya memang dilahirkan dengan keserakahan. Inilah mengapa saat Anda memiliki seorang anak, Anda perlu mengajarkan kepadanya tentang kebaikan, namun tidak perlu mengajarkannya mengenai bagaimana caranya untuk jadi jahat. Coba saja letakkan dua anak dan satu buah mainan di tempat main yang sama.

The first step in managing a problem is acknowledging that there is, in fact, a problem. Jadi sadarilah dulu bahwa masalah utamanya adalah kita semua serakah. Baru kemudian kita pelajari apa saja hal-hal yang dapat memicu keserakahan kita di dalam berinvestasi sehingga kita dapat menghindarinya.

Mengontrol keserakahan Anda adalah bentuk mitigasi risiko yang paling penting dalam berinvestasi.

Serakah = masuk jurang spekulasi

Masalah paling utama dari ketidakmampuan Anda mengontrol keserakahan adalah Anda rentan untuk mengambil opsi-opsi yang menurut Anda merupakan investasi, namun sebenarnya merupakan spekulasi. Contohnya:

  • Melakukan trading saham
  • Melakukan trading valuta asing/forex
  • Terjun taruh uang di Bitcoin atau cryptocurrency lain
  • Trading di perdagangan berjangka (komoditas)
  • Lebih parah lagi: menitipkan uang untuk dilakukan trading oleh orang lain atau robo

Semuanya dilakukan dengan dalih “investasi” atau “toh hasil dari spekulasi ini akan saya masukkan ke dalam instrumen investasi yang benar juga.”

No, dude. You’re just greedy.

You just can’t accept the fact that you are.

Kesabaran akan mengantarkan Anda ke tujuan

Padahal sebenarnya, untuk apa berspekulasi dan mengambil risiko lebih di saat ada opsi lain dimana kita tidak perlu mengambil risiko lebih, tetapi dapat mengantarkan kita kepada tujuan investasi kita? Beberapa waktu yang lalu ada seorang sejawat yang menanyakan kepada saya: apa pentingnya memiliki tujuan investasi? Mengapa tidak cari saja untung sebanyak-banyaknya?

Permasalahan paling utama mengenai “cari cuan sebanyak-banyaknya” adalah karena kita jadi tidak dapat menghitung berapa yang harus kita tabung (investasikan) setiap bulannya. Contohnya seperti yang sudah pernah saya tuliskan dalam sebuah artikel mengenai dana pensiun, bahwa kita dapat menghitung berapa yang harus kita tabung setiap bulan agar dana pensiun kita bisa tercapai. Sekarang, bagaimana cara kita menghitungnya apabila hasil dari rumusnya adalah infinity? Kita lihat rumus sebenarnya dari compound interest berikut ini:

Apabila A = ∞, maka agar rumusnya dapat bekerja, semuanya harus dibagi dengan angka 0. Bagaimana cara mengaplikasikan rumus tersebut ke dalam investasi? Instrumen apa yang bisa dipilih? Berapa lama waktu yang diperlukan?

The math just fails. Everything crumbles into a whole bit of nothing-ness.

Just like your investment strategy when you aim for infinite returns. What will be left of that intention is, well, NOTHING.

Apabila Anda sudah berhasil mengesampingkan keserakahan, dan sudah bisa menyadari bahwa return yang “secukupnya” melalui cara berinvestasi secara pasif di dalam reksa dana indeks sudah cukup untuk mengantarkan Anda ke tujuan investasi Anda, barulah Anda bisa menyadari what personal finance and investing is really about.

It’s about you taking control of your money, and flying high above greed.


Bagiamana dengan Anda? Apakah menurut Anda perilaku itu penting di dalam berinvestasi?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

1 thought on “Pentingnya Perilaku dalam Berinvestasi”

  1. Betul dok memiliki level perasaan “ sudah cukup nih” .. susah banget, krn toxic dari lingkungan, rasa iri , arus media sosial, atau dari lingkungan keluarga sendiri .. semoga kita bisa perlahan lahan mengendalikan “ keserakahan”

    Reply

Leave a Comment