Parenting Pearls from The Queen’s Gambit

Photo by Shirly Niv Marton on Unsplash

Selalu ada waktu untuk belajar

Daripada menonton sebuah film serial hanya untuk mendapatkan ceritanya, menurut saya lebih baik jika kita betul-betul mencatat dan mempelajari: pelajaran apa mengenai kehidupan yang dapat kita pelajari daripadanya? Kesalahan-kesalahan apa yang dilakukan oleh pemeran-pemerannya dan mungkin bisa saya hindari di masa mendatang kehidupan saya? Dan seterusnya..

In my case, I’m lucky I have a blog, hence I can actually develop my notes to be an article and share it to you all. Seperti yang selalu saya bilang, membuat blog itu tidak selalu artinya Anda harus menulis tentang hal-hal yang spektakuler. Tumpahkan saja apa yang ada di kepala Anda dan bagikan itu ke orang lain apa adanya.

CATATAN: artikel ini hanya mengandung sedikit materi tentang finance, lebih banyak mengenai psikologi manusia dan hubungannya dengan parenting.

So all parents, assemble!

SPOILER ALERT!

Kecuali Anda memang tidak ada minat untuk menontonnya, maka sebaiknya Anda menyelesaikan dulu menonton limited-series dari Netflix ini.

Monkey see, monkey do

Banyak sekali artikel maupun video-video di YouTube yang menafsirkan bahwa film serial ini adalah mengenai derita menjadi seorang anak jenius. I completely disagree. To me, that’s not even the main point of the series. Sangat banyak unsur-unsur psikologis dalam hubungannya dengan perkembangan karakter seorang anak (dalam cerita ini seorang anak perempuan) yang berharga untuk hidup kita atau untuk anak-anak kita.

Pada awal cerita, film ini menceritakan tentang bagaimana seorang anak perempuan bernama Beth Harmon mengalami kecelakaan mobil dimana ibunya meninggal di tempat. Setelah itu maka Beth pun harus tinggal dan bersekolah di sebuah panti asuhan. Pada episode terakhir serial ini baru kita mengetahui bahwa ternyata Beth sebelumnya memang hanya tinggal dengan ibu kandungnya yang tersinyalir lahir dari kehamilan di luar nikah, dan ayah kandungnya sudah memiliki keluarga dan tidak menginginkan keberadaan Beth dan ibunya di dalam hidupnya.

Di film ini digambarkan bahwa Beth melihat peristiwa ibunya ditolak oleh ayahnya dari dalam mobil, baru kemudian setelah itu ibunya mengambil keputusan untuk bunuh diri bersama Beth dengan sengaja menabrakkan mobil mereka ke truk yang melaju berlawanan arah, dengan sebelumnya menginstruksikan kepada Beth untuk menutup matanya.

What’s the point here?

Anak-anak merekam dengan detil apa saja yang mereka lihat di dalam hidupnya, dan inilah yang akan secara tidak sadar akan terpatri menjadi kepribadian mereka. Di dalam hidupnya, Beth selalu merasa bahwa dirinya tertolak dan kesulitan membuka dirinya terhadap kehadiran orang lain di dalam kehidupannya.

Jadi jangan pernah menganggap remeh mengenai hal-hal apa yang Anda biarkan anak-anak Anda lihat. Pertengkaran di depan umum, kebohongan, perilaku kasar terhadap satu sama lain, bicara kasar terhadap asisten rumah tangga/pramusaji, memandang rendah orang lain, bergosip, hal-hal ini akan direkam oleh anak-anak kita dan suatu hari akan menjadi bagian dari kepribadian mereka. Orang-orang terlalu sering menyalahkan genetik dalam hal ini: karena ayah saya pemarah, maka saya memang dari sananya sifatnya pemarah. I personally believe that it is purely observational.

We are EXACTLY what we see in our parents.

Broken people attract one another

Pada cerita ini digambarkan bahwa Beth memiliki hubungan yang cukup dekat dengan ibu tirinya. Namun, ibu tirinya pun ternyata juga memiliki masalah relasi, yaitu keretakan hubungan dengan suaminya. Imbas dari retaknya hubungan ini adalah ketergantungan sang ibu tiri terhadap rokok dan minuman keras.

Singkat cerita, ibu tirinya menyadari kejeniusan Beth dalam hal bermain catur dan akhirnya bertindak selaku manajernya. Sepanjang serial pendek ini digambarkan kedekatan antara Beth dengan ibu tirinya. Namun, kedekatan di antara mereka jika dilihat lebih dekat lagi bukanlah layaknya seorang ibu dan anak, tapi seperti dua orang yang sedang bersama-sama mencari jalan keluar dari permasalahan hidup.

Sounds great, right?

Orang-orang sering sekali memuja hal-hal yang seperti ini dimana ibu dan anak bisa berlaku selayaknya seorang teman.

I personally think it is wrong on so many levels.

Ini hanya menunjukkan fakta bahwa orang yang “terluka” di dalam kehidupan pribadinya cenderung mencari orang dengan luka yang sama, dan mereka sebenarnya sedang bersama-sama berjalan menuju keputusasaan yang tak berujung. Kalau kita menghadapi sebuah masalah yang sangat pelik, yang dapat membantu kita adalah apabila kita dibantu oleh orang-orang yang sudah berhasil keluar dari masalah tersebut, bukan oleh orang-orang yang masih berada dalam masalah yang sama. Maka dari itu di luar negeri banyak sekali support groups, dimana orang-orang yang kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang, dll dapat mencontoh orang yang sudah berhasil mengalahkan kecanduan tersebut, dan dapat memiliki mentor yang dikenal dengan istilah menjadi “sponsor” mereka.

I know it is comfortable to be around people who share the same pain, but trust me: it doesn’t work.

You need to surround yourself with positive people who will get you out of the pit, not with those who are comfortable being inside.

All they need is support

Dalam film serial ini digambarkan pula di awal-awal bahwa Beth memiliki kemampuan yang lebih dari rata-rata dalam bermain catur karena obat penenang yang setiap hari diberikan kepadanya selama di panti asuhan, sehingga dia dapat membayangkan permainan catur di plafon dan berlatih dengan itu setiap malam. Cerita kemudian bergulir dan menuntun penonton ke pemikiran bahwa kejeniusan Beth ada semata-mata karena efek dari obat penenang tersebut.

Orang pertama yang menyadari kecerdasan Beth dalam bermain catur adalah Shaibel, seorang pesuruh di panti asuhan tempat Beth berada yang seringkali bermain catur sendirian di basement. Shaibel juga merupakan orang pertama yang mendukung Beth secara penuh dalam ketertarikannya, dengan membiarkannya berlatih catur dengannya, memberikan buku sebagai bahan bacaan, dan bahkan (sesudah Beth diadopsi oleh orangtua tirinya) mengirimkan uang pertama untuk Beth mendaftar di kompetisi catur perdananya. 

Digambarkan sangat baik di dalam film ini bahwa satu-satunya momen Beth menangis dan runtuh benteng pertahanan psikisnya adalah pada saat Beth menghadiri pemakaman Shaibel, lalu kembali ke basement di panti asuhannya dulu. Dia menemukan kliping artikel-artikel tentang Beth selama ini, serta selembar foto yang diambil bersama Shaibel dulu. It was then that she realized that Shaibel was the father figure she thought she never had

Jolene, teman baik Beth semenjak di panti asuhan pun akhirnya bertemu kembali dengan Beth menjelang akhir-akhir cerita di serial ini, dan sangat menarik digambarkan bahwa pada saat itu Beth mempertanyakan mengapa Jolene masih mau bertemu dan mendukungnya meskipun sudah lama tidak bertemu. Jolene menjawab dengan sangat menohok bahwa memang inilah yang akan dilakukan oleh anggota keluarga jika anggota keluarga lain menghadapi kesulitan, dan bahwa selama ini mereka sudah menjalani hidup selayaknya sepasang kakak-adik kandung. So at this point in time, Beth already realized that she had a parent figure (Shaibel) and a sister (Jolene). It doesn’t stop here.

Semalam sebelum pertandingan catur puncak Beth melawan grandmaster Vasily Borgov dilanjutkan setelah hari sebelumnya mengalami adjournment (dihentikan untuk dilanjutkan keesokan harinya), Beth dikejutkan oleh dering telepon yang ternyata merupakan sekelompok orang-orang yang pernah menjadi lawan terberat Beth di dalam perjalanannya bermain catur. Mereka menghabiskan waktu semalaman mempelajari kemungkinan langkah-langkah yang akan dilakukan dan bagaimana menanggulanginya. Di titik inilah Beth menyadari bahwa tanpa dia sadari, dia sebenarnya sudah memiliki teman-teman di dalam kehidupannya. At this point, she figures out that she actually has friends that care about her.

Parent? Checked.

Sister? Checked.

Friends? Checked.

Beth has everything she needs. Maka pada hari berikutnya pertandingan catur dilanjutkan, sebelum mengambil langkah terakhir, Beth memandang ke atas plafon dan papan catur khayalan yang biasa digunakannya untuk berlatih pun muncul lagi sehingga Beth dapat mensimulasikan langkah apa yang akan dilakukan. Ternyata selama ini Beth tidak memerlukan obat penenang untuk menjadi seorang jenius di dunia catur.

All she needed was a supportive environment.

Situasi menentukan prestasi

Di dalam buku “Outliers,” Malcolm Gladwell menjabarkan dengan baik mengapa kita tidak bisa mengesampingkan faktor lingkungan yang suportif terhadap kesuksesan seseorang. Dengan kata lain: bakat saja tidak akan cukup.

Bill Gates mungkin tidak akan menjadi sesukses sekarang jika tidak “kebetulan” dulu tempatnya bersekolah merupakan satu-satunya sekolah yang memiliki komputer.

Michael Phelps tidak akan memenangkan begitu banyak medali emas di olahraga renang jika tidak karena seorang pelatih renang menyadari bentuk anatomi tubuhnya yang “aneh” untuk hidup di darat ternyata menjadi sangat efektif untuk berenang.

Atta Halilintar memang seseorang yang sangat jenius dalam hal “online presence,” tetapi jangan lupakan kesuksesan kedua orangtua yang melahirkan Gen Halilintar dan membentuk lingkungan yang sangat suportif untuk anak-anaknya bebas berpetualang sebagai entrepreneurs.

Jadi, situasi yang mengelilingi seseorang tidak dapat dipungkiri akan menjadi faktor yang sangat menentukan untuk prestasi orang yang bersangkutan. Terlalu naif jika kita berpikir semuanya hanya sebuah “kebetulan” dan seorang jenius pun pasti bisa berhasil tanpa lingkungan yang suportif.

Now, ALL PARENTS must realize that it is within OUR responsibility to provide this supportive environment.

Karena hal ini dapat menentukan ke mana arah anak-anak kita akan berjalan, dan bagaimana sikap mereka dalam menjalaninya.

Situasi sangat menentukan prestasi, and this goes both ways:

Toxic environment in a toxic family will produce a toxic person.

Supportive environment in a supportive family will produce a supportive person that is well more than capable of helping himself and others.

Seorang anak yang secara akademis dianggap “bodoh” tetapi didukung penuh oleh keluarganya akan lebih mungkin mencapai kesuksesan yang lebih tinggi daripada seorang anak yang selalu memiliki nilai sempurna tetapi tertekan di dalam hubungan keluarga maupun pertemanannya.

Ada alasannya keluarga inti dikenal dengan istilah “nuclear family” dalam bahasa Inggris: because it is the nucleus! Keluarga merupakan inti sel, yang akan menentukan bagaimana sel tersebut akan bekerja di dalam lingkungannya.

Jadi, bagaimana situasi di dalam keluarga akan menentukan seseorang memiliki kepribadian seperti apa, dan pada akhirnya dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap kesuksesan orang tersebut di masa depan.

So, how are you shaping your own nucleus?


Apakah Anda tumbuh besar di dalam lingkungan yang suportif?
Apa yang akan Anda lakukan berbeda terhadap anak-anak Anda kelak?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

6 thoughts on “Parenting Pearls from The Queen’s Gambit”

Leave a Comment