qi-bin-IIzny_Qgw-g-unsplash
Dissecting Money

Dissecting Money

Filosofi Bawa Bekal

Photo by qi bin on Unsplash

Tidak suka bawa bekal

Semenjak duduk di sekolah dasar (SD), saya selalu dibawakan bekal oleh orangtua saya untuk makan siang di sekolah. Hal ini dulu bukanlah menjadi suatu hal yang menyenangkan, justru sebaliknya saya sangat tidak suka fakta bahwa saya harus bawa bekal. Apa sih untungnya membawa bekal?

Saya lebih senang jajan di sekolah karena bisa memilih apapun yang saya mau di hari itu, sehingga terkadang bekal yang dibawakan pun tidak saya makan. Sayangnya, waktu itu, jika bekalnya dibawa pulang lagi maka saya akan diomeli oleh orangtua saya. Bahkan suatu hari, agar tidak dikira tidak menghabiskan bekal, setelah turun dari mobil jemputan saya membuang bekal saya di got depan rumah. Stupid me, bukannya membuangnya di got yang sedikit lebih jauh dari rumah, akhirnya ketahuan juga oleh orangtua saya dan saya kena omel (lagi).

Pada saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) saya sudah tidak diharuskan untuk bawa bekal lagi (kecuali di kelas 1 SMA karena kami tidak berani jajan di kantin). Saya pun sebal dengan teman-teman SMP dan SMA yang masih membawa bekal ke sekolah. Pemikiran saya dulu, mereka itu either keluarganya pelit sekali atau memang kesulitan keuangan sehingga tidak bisa memberikan uang jajan ke anaknya.

To be honest, I used to despise and bully those who brought their lunch to school.

The joke’s on me.

Fast forward to the present, sekarang saya merupakan seorang dokter spesialis dan justru saya merasa bahwa sangat banyak filosofi hidup yang dapat kita pelajari dari hal sesederhana membiasakan diri membawa bekal ke tempat kita bekerja.

Melatih untuk selalu mempersiapkan diri untuk masa depan

Hal pertama yang dapat kita pelajari mengenai filosofi membawa bekal adalah mengenai persiapan. Satu hal yang dapat diketahui dengan pasti oleh semua orang adalah bahwa esok hari, apapun yang terjadi, pasti kita akan lapar dan membutuhkan makan siang. Jadi, mempersiapkan bekal (siapapun yang menyiapkannya) sebenarnya sedang melatih kita untuk mempersiapkan diri akan apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Pada saat kita kecil mungkin kita tidak menyadarinya, sehingga bawa bekal dirasa hanya merupakan sebuah kewajiban, dan bukan sesuatu yang akan mengubah hidup kita. Padahal, sebenarnya orangtua kita sedang mempersiapkan kita dengan sesuatu yang pasti akan kita butuhkan, yaitu makanan di saat kita lapar.

Sehingga dari sudut pandang orangtua pun sebaiknya lebih menekankan ke konsep persiapan pemenuhan kebutuhan ini ke anak, dan tidak sekedar menjadikan bekal sebagai “sesuatu yang harus dihabiskan sebelum kamu pulang,” tetapi lebih ke “kami menyediakan bekal ini supaya kamu tidak kesulitan mencari makan saat kamu kelaparan.”

Anak Anda secara tidak sadar akan mulai belajar sebuah konsep hidup yang sederhana, yaitu bahwa kita akan menjalani hidup kita lebih baik apabila kita mempersiapkan diri untuk hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.

A simple shift in way of thinking, but it will make a huge difference to your kids’ lives.

Melatih hidup sesuai jadwal

Kalau ada satu hal yang saya sadari dari orang-orang yang sukses selain gemar membaca buku adalah mereka semua memiliki jadwal yang rutin setiap hari. Hal ini mungkin dikarenakan mereka sangat menghargai waktu yang mereka miliki, sehingga dengan memiliki jadwal keseharian yang rutin mereka memastikan bahwa waktu mereka tidak akan ada yang terbuang.

Dengan membawa bekal ke sekolah/tempat kerja, biasanya ini berarti bahwa Anda sudah memiliki gambaran atau rencana setiap harinya jam berapa dan di mana Anda akan makan siang. Jika siang itu Anda di poliklinik, maka Anda berarti akan makan siang di poliklinik, jika di kamar operasi maka bekalnya pun akan dibawa ke sana, dan lain sebagainya.

Bagi yang sudah menjalankan pekerjaan sebagai dokter umum maupun dokter spesialis maka pasti sudah mengetahui bahwa keseharian kita kadang-kadang sangat hectic dan banyak sekali yang harus dipikirkan dalam waktu bersamaan. Jadi sebenarnya dengan membawa bekal, that’s one thing you don’t need to think about anymore.

Apalagi sebagai seorang residen. Di tengah-tengah pendidikan yang kesehariannya sangat sulit ditebak, having your lunch ready wherever you go means a lot (goes a long way for your mental health, too)!

Melatih tanggung jawab

Apabila dilakukan dengan baik, maka mempersiapkan bekal bisa menjadi latihan tanggung jawab yang sangat baik. Meskipun yang menyiapkan bekal biasanya adalah orang lain (orangtua/suami/istri/asisten rumah tangga), biasakanlah untuk turut campur dalam persiapannya. Apa kira-kira menu yang diharapkan untuk besok, buah apa yang sedang ingin dimakan, dan lain sebagainya.

Begitu pun halnya sebagai orangtua, instead of hanya menyiapkan apapun makanan yang ada dan mewajibkan anak Anda untuk menghabiskannya (yang hanya akan memberikan beban kepada anak Anda dan tidak akan mengajarkan apa-apa), jika anak Anda dilibatkan di dalam persiapan bekal tersebut (semudah menanyakan besok rotinya mau pakai selai apa), maka anak Anda akan belajar banyak mengenai disiplin diri dan perencanaan hari depan.

Satu hal lagi mengenai pelajaran tanggung jawab dari membawa bekal, yang dulu, bahkan sampai sekarang masih jadi kelemahan saya adalah mengenai kotak makannya. Jika Anda membawa bekal, maka Anda sekaligus belajar untuk bertanggung jawab membawa kotak makan tersebut pulang ke rumah dan membersihkannya (atau minimal menaruhnya kembali ke tempat cucian piring). Saya sampai tidak bisa menghitung lagi berapa kotak makan atau botol minuman yang saya hilangkan karena ketinggalan di sekolah atau tempat kerja sebelumnya. Might seem like an easy task for someone else, but for me, it is really an exercise in responsibility.

Biasakan diri untuk bertanggung jawab dalam hal-hal kecil di dalam hidup, niscaya tanggung jawab besar lain pun akan dipercayakan kepada kita.

Be fulfilled with what we have

Salah satu hal yang menjadi batu sandungan terbesar di dalam kehidupan finansial seorang dokter bersangkutan dengan lifestyle. Kita cenderung terlalu peduli dengan “rumput tetangga” dan membandingkan apa kepunyaan kita dengan apa yang sejawat lain miliki tetapi tidak kita miliki. Saking besarnya masalah ini bahkan sampai membuat profesi dokter dikenal sering gagal mencapai kebutuhan dana pensiun di akhir karirnya oleh para financial planners. Padahal cara sederhana untuk mencapai dana pensiun yang perlu dilakukan hanyalah mengerem pengeluaran untuk lifestyle dan mengadopsi gaya hidup frugal.

One of the biggest problems in a doctor’s life is not feeling fulfilled with what we have.

Sangat mudah untuk kita melihat makanan di kantin atau croissant di etalase Starbucks sebagai makanan yang lebih cocok untuk makan siang kita. Namun, jika kita sudah membawa bekal maka kita “terpaksa” mengesampingkan apa yang kita inginkan dan mengutamakan untuk menghabiskan apa yang sudah kita bawa (walaupun in my case, terkadang ini berarti saya menghabiskan bekal dulu baru kemudian jajan yang lain). Nevertheless, ini akan melatih diri kita terus-menerus, hari demi hari, bahwa akan selalu lebih baik untuk kita berpuas diri dengan apa yang sudah kita miliki.

Membawa bekal merupakan sebuah latihan kedewasaaan agar kita bisa berhenti membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki.

Time and money efficiency

Bagi seorang anak SD dulu, makna terbesar dari membawa bekal ke sekolah biasanya adalah akumulasi uang jajan. Ini bisa menjadi pembeda antara seorang anak yang memiliki Bandai action figure Son Gohan dan yang tidak. Hal yang sama pun masih relevan sampai sekarang.

Membawa bekal artinya Anda sedang mengatur waktu dan uang dengan sangat efisien. Anda tidak perlu susah-susah mencari waktu dan berpikir lagi akan makan apa dan di mana, sehingga dari segi pengaturan waktu dalam sehari Anda sudah lebih efisien dibandingkan dengan orang lain yang masih harus mengalokasikan waktu dan tempat dari jadwalnya yang padat untuk makan siang.

Sehubungan dengan uang, mungkin sebagai penyegar akan saya ingatkan lagi apa yang dapat terjadi jika lunch money Anda ditabung dan diinvestasikan sehingga compound interest dapat bekerja, melalui sebuah contoh kasus:

Kita asumsikan seorang dokter spesialis biasanya makan siang setiap hari mengeluarkan 50 ribu IDR, dan bekerja 6 hari selama seminggu (Senin sampai Sabtu). Dokter spesialis tersebut membawa bekal terus selama 10 tahun pertama karirnya sejak lulus, sementara uang makan siang tersebut diinvestasikan dalam sebuah instrumen dengan return 10% per tahun (anggap saja sebagai asumsi rerata return IHSG per tahun). Berapa total uang yang dokter tersebut dapatkan setelah 10 tahun?

Total uang yang disimpan per bulan: 50 ribu IDR x 6 hari seminggu x 4 minggu = 1,2 juta IDR
Imbal hasil: 10% per tahun
Durasi: 10 tahun = 120 bulan

Tinggal masukkan angka-angka tersebut ke kalkulator bunga-berbunga, pilih bagian “investasi reguler setiap bulan,” pilih kolom “hitung target hasil investasi,” masukkan estimasi return per tahun, dan Anda akan mendapatkan angka:

247.862.424 IDR

Ternyata menabung uang jajan makan siang “saja” dalam 10 tahun bisa menjadi uang pangkal untuk anak Anda masuk kuliah (yang seringkali Anda tidak habis pikir bisa mendapatkan uangnya dari mana).

Sudah beli kotak makan?


Apakah Anda dibiasakan untuk membawa bekal sejak kecil?
Atau Anda seperti saya dulu yang seringkali menganggap remeh hal membawa bekal?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!