Mengapa Dokter Perlu Literasi Keuangan

“Financial literacy is the ability to make informed judgments and to make effective decisions regarding the use and management of money.”


National Foundation for Educational Research,
United Kingdom

Cerita bahagia yang menyedihkan

Singkatnya, saya merasa ketidakmengertian akan keuangan dapat mengubah memori bahagia menjadi sesuatu yang memilukan.

Pada waktu saya kecil, saya seringkali dititipkan oleh orangtua saya di rumah opa dan oma saya karena mereka harus bekerja. Hal ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuk saya, karena saya sering sekali diajak jalan-jalan oleh opa dan oma, ke pasar swalayan, ke pasar tradisional, beli makanan di restoran, dsb. Namun seringkali saya hanya diajak jalan oleh oma, karena opa senang bekerja di rumah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Opa saya adalah pensiunan pejabat Dirjen Pajak dan oma adalah seorang ibu rumah tangga. Suatu hari yang cerah, saya diajak pergi oleh oma saya, dan ternyata opa saya ikut pergi. Bukan main senangnya saya pada saat itu karena opa sudah jarang ingin diajak bepergian. 

Kami pergi naik bus kota (oh, what a sweet memory) dan turun di tengah kota, dan masuk ke restoran MM Juice. Betapa senangnya saya sebagai seorang anak kecil diajak masuk ke restoran, jenis kebahagiaan yang sangat langka bisa kita dapatkan sesudah kita dewasa. Setelah kami duduk di dalam, kami memesan makanan dan minuman. Saya tidak ingat apa yang saya pesan, namun saya ingat dengan jelas hingga detik ini, sampai posisi duduk kami dan bentuk gelasnya pada saat itu, opa saya memesan segelas jus alpukat, dan baru belakangan saya mengetahui bahwa jus alpukat memang adalah kegemarannya. Setelah memesan, saya tinggal dengan oma saya dan opa saya pergi untuk mengurus sesuatu di bank yang letaknya persis di sebelah restoran tersebut.

Sekembalinya dari bank, opa saya ikut bergabung dengan kami yang sudah mulai makan dan minum, dan opa terlihat sangat menikmati segelas jus alpukat yang dipesannya. Selesai kami makan dan minum, saya menyadari bahwa opa saya baru saja menyeruput tetes terakhir dari jus alpukatnya. Setelah menghabiskan jus alpukat tersebut, opa saya terdiam, dan saya kebetulah sedang menghadap muka opa saya sehingga saya sangat ingat ekspresinya pada saat itu yang tidak dapat saya jelaskan. Opa saya kemudian membuka mulutnya dan bertanya kepada oma saya dengan bahasa campuran Indonesia-Belanda seperti kebanyakan orang zaman itu: “Ikke boleh tambah jus alpukatnya satu gelas lagi?” Sebagai catatan, memang oma saya adalah tipe istri yang sangat dominan, dan bahkan terkesan galak terhadap suaminya, sehingga saya berpikir saat itu bahwa opa minta izin hanya karena takut oma akan marah apabila opa saya minum terlalu banyak gula (baru belakangan saya ingat bahwa opa saya bukan pengidap diabetes, hanya memiliki asma, justru oma saya yang merupakan pengidap diabetes tipe 2. Di luar perkiraan saya, oma saya hanya tersenyum dan menjawab “Ok pap, (dari kata panggilan “papi”) dan memanggil pramusaji. Sungguh merupakan salah satu memori terakhir dan terindah yang saya ingat akan waktu-waktu yang saya luangkan bersama kedua opa oma saya.

The year was 1997. The bank was Anrico Bank.

Yes, you guessed it. Bank Anrico adalah salah satu bank yang dilikuidasi oleh pemerintah menjelang krisis ekonomi Indonesia tahun 1998. Now it all just occured to me, and I never thought about it before: Bagaimana bisa opa dan oma saya, dengan riwayat opa saya memiliki jabatan tinggi di Dirjen Pajak, saat sudah pensiun tidak memiliki mobil sama sekali? (Walaupun oma saya memang tidak bisa menyetir, but still..) Mengapa mereka harus naik angkutan umum kemana-mana (termasuk pulang-pergi sebulan sekali untuk mengambil uang pensiun di bank)? Kenapa untuk membeli segelas jus alpukat tambahan opa saya harus bertanya kepada oma saya dulu? 

If I think about it now, it’s a very painful memory. My grandparents’ life saving was critically hit by the monetary crisis, THEY HAD TO THINK HARD TO BUY AN EXTRA GLASS OF AVOCADO JUICE!

Pada generasi opa dan oma saya, memang sudah dirasa cukup jika seseorang memiliki pekerjaan yang layak (kebanyakan sebagai PNS) sehingga memiliki tunjangan dan uang pensiun. Yang tidak mereka sadari adalah bahwa dengan gaya hidup yang pernah mereka lewati sebagai keluarga seorang pejabat Dirjen Pajak, uang pensiun yang disediakan oleh pemerintah tidak akan mencukupi gaya hidup tersebut!

Not long after that, my grandfather passed away, and it all came crumbling down, my grandmother couldn’t afford staying in the big house anymore, and as cheerful as she always was, when our family member bought the house from her and demolished it to renovate, it destroyed her on the inside. She was never the same oma I once knew until the day she passed.

Sejak saya mengerti hal ini, saya bertekad bahwa saya tidak mau orangtua saya harus melewati hal yang sama, dan saya pun tidak mau anak-anak saya harus melewati merasakan kepahitan melihat orangtuanya kesulitan untuk bertahan hidup setiap bulannya.

Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia

Tingkat literasi keuangan di Indonesia hanya 29%, artinya hanya 29 dari 100 orang memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk mengatur keuangan pribadinya. Merujuk kepada sebuah penelitian dari QM Financial terhadap karyawan, hasilnya pun serupa: 70% karyawan merasa tidak dapat mengatur cash flow mereka. Bahkan menurut saya angka ini pun mungkin tidak akurat, karena pasti survei tersebut dilakukan terhadap golongan masyarakat yang mengerti cara mengisi kuesioner. Apa menurut anda masyarakat menengah ke bawah akan mengerti jika disuruh mengisi kuesioner tentang personal finance atau investasi? Jika ya, berarti anda belum pernah melakukan pengumpulan data untuk penelitian. Mayoritas masyarakat Indonesia buta kuesioner (mungkin suatu hari saya akan menulis sebuah artikel mengenai ini). 

Saya harap anda bisa berubah. Sadarilah bahwa kesadaran finansial tidak anda dapatkan di jenjang pendidikan TK-SMA, bahkan saat kuliah pun anda tidak akan diajarkan kecuali anda mengambil mata kuliah finance atau sejenisnya.

WAKE UP! You really need to start studying about finance and practicing it.

Jangan memposisikan dagu anda terlalu tinggi karena anda adalah seorang dokter. Peduli amat anda adalah seorang konsultan, bahkan profesor sekalipun. Be kind, rewind. Once we were a clueless medical student. Now you need to realize that you’re clueless in managing your money. Berita baiknya adalah anda memiliki otak yang cukup (anda adalah seorang dokter, forcryingoutloud) untuk bisa mempelajari dan mengerti ilmu-ilmu finance ini.

Apakah anda masih mau harus menjalani hari-hari di poliklinik, bangsal dan kamar operasi saat anda berumur 70 tahun? Menurut saya tidak.

Start now.

Pick up a finance book from a bookstore.

Listen to a podcast about finance/personal finance/investment.

Read blogs (I’m going to make another post about recommended blogs to read).

See Instagram accounts about money management/business/investment.

Ask a friend about this.

Contact a financial advisor/consultant.

Whatever.

But START NOW!


Break the chain. Subscribe now and keep learning:

7 thoughts on “Mengapa Dokter Perlu Literasi Keuangan”

    • Terima kasih untuk supportnya, Chernenko.

      Memberi ide untuk saya juga untuk membahas tentang asuransi murni yang merupakan sebenar-benarnya asuransi, namun mendekati kepunahan karena ketidaktahuan masyarakat.

      Mungkin tertarik untuk berkolaborasi dalam sebuah guest blog post?

      Reply
  1. This is a nice blog. Saya senang cara menulisnya yang tidak dengan menakut-nakuti, melainkan dengan menyadarkan hal yang selama ini luput dari kesadaran para dokter. Kadang, profesi dokter sudah dianggap terlalu ‘eksklusif’ sehingga ada yang merasa tidak perlu mengurus ini itu lagi. Mungkin bisa mulai dari sini.

    Reply
  2. Kerenn Dok, artikelnya membuat lebih terbuka wawasan menganai pentingnya literasi keuangan…
    Ditunggu artikel2 selanjutnya Dok..

    Reply
  3. Thanks, Doc. Macam dapat oasis di tengah sahara. Dalam 2 tahun terakhir ini saya mulai belajar tentang finance tapi ya selalu terbentur ini itu, awalnya saya maklum karena bukan bidang saya. tapi ternyata itu salah, literasi “finance” harus dimiliki semua orang, macam CPR bagi orang awam. terimakasih, Doc. kembali menyulut keinginan saya belajar keuangan yang sempat surut beberapa bulan ini. Bismillah.

    Reply

Leave a Comment