Pengaturan Keuangan Suami-Istri

Awalnya saya enggan menuliskan sebuah artikel yang membahas mengenai pengaturan keuangan suami-istri, karena saya bukan ahli di bidang finance serta bukan juga seorang ahli dalam hal pernikahan. I’m still figuring these things out myself.

So please read this article bearing in your mind that this is merely my opinion and view on a family’s finance, but I’m not exactly an expert in it.

Trading Saham Bukan untuk Dokter

Jadi apakah maksudnya dokter tidak boleh berinvestasi di saham? Justru sebaliknya, menurut saya komponen/kelas aset saham harus ada di dalam portofolio seorang dokter. Yang saya maksud dengan trading saham adalah jual-beli saham dengan harapan bisa membeli di harga rendah dan menjualnya di harga tinggi, atau yang sering dikenal dengan istilah market-timing.

Apakah Dokter Butuh Financial Planner?

Tentu saja sejawat sekalian sudah mendengar kabar mengenai sebuah perusahaan penyedia jasa perencana keuangan/financial planner yang terkena masalah hukum beberapa waktu ke belakang ini. Sangat disayangkan, karena sebetulnya perusahaan tersebut merupakan salah satu inspirasi saya di dalam mencoba untuk mengedukasi sejawat mengenai pentingnya literasi keuangan untuk masa depan kita, walau tentunya level pengetahuan dan sumber daya kami pasti berbeda jauh.

Jika Saya Dapat Uang 75 Juta

Beberapa waktu yang lalu baru saja kita mendengar kabar bahwa para residen yang terlibat membantu pelayanan pasien coronavirus disease 2019 (COVID-19) mendapat insentif dalam bentuk dana yang jumlahnya cukup besar (75 juta IDR). Sehingga salah seorang sejawat kemudian memberi pesan kepada saya untuk menuliskan sebuah artikel mengenai apa yang sebaiknya dilakukan seorang residen jika mendapat dana tiba-tiba dalam jumlah besar (lump sum) seperti demikian.

Pentingnya Perilaku dalam Berinvestasi

Saya percaya bahwa mengejar nilai bagus di dalam studi kedokteran tidak akan membawa Anda kemana-mana selain kepada stres yang, sorry to say: Anda ciptakan sendiri. Yang terpenting adalah attitude (sikap) dan perilaku seorang calon dokter di dalam berinteraksi dengan lingkungan belajarnya, pun di waktu menghadapi tekanan-tekanan.

Hal yang sama berlaku juga di dalam berinvestasi: bukan instrumen investasinya yang menjadi kunci utama, tetapi perilaku Anda yang akan menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan investasi Anda.

Andai Saya Melek Finansial 10 Tahun Lalu

Sering sekali saya mendengar dari sejawat yang baru memulai perjalanan finansialnya di usia 30 tahun ke atas, bahwa mereka menyesal tidak mempelajarinya sejak waktu masih mahasiswa. Saya pun sering sekali memiliki pemikiran “andai saja” yang demikian.

Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun

Saya percaya ini juga merupakan blunder dari kebanyakan orang di usia produktifnya: tidak menyadari bahwa dana pensiun harus dipersiapkan dari hari pertama Anda menerima gaji.
Akibatnya, mayoritas pekerja usia produktif hanya akan bekerja untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya uang, namun tidak jelas untuk apa.

Manajemen Keuangan Residen

First and foremost, jangan beranggapan bahwa saya adalah seseorang yang berhasil melakukan manajemen keuangan dengan baik semasa residen. Teman-teman yang dekat dengan saya pasti mengetahui bahwa saya bukanlah orang yang paling bijak perihal keuangan di masa-masa itu. Namun justru karena menapak tilas masa-masa itu dengan kacamata finance yang saya miliki sekarang maka saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk “memperingatkan” sejawat yang masih menjalani masa residen/PPDS.

Kesalahan Terbesar Dokter Spesialis

Belum lagi ketika melihat gaya hidup/lifestyle dari para dokter spesialis yang membuat kita menginginkan kehidupan semacam itu di kemudian hari: mobil mewah yang punya spot parkir khusus di depan lobi, iPhone (bisa lebih dari satu), tablet, atau laptop jenis terbaru, tas branded, dsb.

Dan kemudian kita pun berpikir:

They must be doing really well money-wise, right?