Cara Berinvestasi secara Pasif

Investasi aktif adalah seperti memulai sebuah bisnis start-up, makanan/minuman, kos-kosan, jual-beli properti dsb, dimana Anda diharuskan untuk meluangkan pikiran, waktu dan tenaga yang cukup banyak (yang menurut saya cukup sulit untuk dilakukan sambil praktik sebagai dokter).

Sementara investasi pasif jauh lebih sederhana dari itu, dan cocok untuk orang-orang yang tidak punya dasar otak marketing atau bisnis seperti saya, atau orang-orang yang tidak punya waktu untuk menganalisa pergerakan pasar, ekonomi negara, dan sebagainya.

Kapan Dokter Boleh Beli Rumah?

Sebuah pertanyaan yang hampir pasti terlintas di kepala setiap orang, terutama di usia produktif adalah “Kapan saya bisa beli rumah?” Sebuah obsesi yang, menurut saya, tidak jelas asalnya dari mana.

Sering digambarkan sebagai “The American Dream,” memiliki rumah seakan-akan dijadikan tujuan hidup yang terutama, dan baru setelah punya rumahlah seseorang bisa betul-betul bahagia, atau minimal menjadi fondasi kebahagiaan seseorang.

7 Tips Keuangan di Saat Krisis

Memang sudah banyak pihak yang memperkirakan bahwa akan terjadi krisis ekonomi di tahun 2020 ini. Namun siapa yang menyangka bahwa ekonomi seluruh dunia akan terpukul keras dimulai dari dunia kesehatan dimana para dokter terlibat erat di dalamnya?

Lalu mulai banyak pertanyaan yang beterbangan di kepala kita:

Bagaimana jika income bulanan kita mengalami penurunan, atau bukan tidak mungkin malah berhenti sama sekali?

Bagaimana jika income kita perlahan-lahan terasa semakin tidak dapat mencukupi kebutuhan bulanan kita?

Membongkar Mitos-mitos mengenai Finance

Ketakutan terbesar yang seringkali menghalangi seseorang untuk mulai investasi adalah takut rugi/kehilangan uang. Yang cukup sering menemani ketakutan ini adalah mitos-mitos yang seringkali diungkapkan oleh orang-orang di sekitar kita (bukan tidak mungkin bahkan keluarga kita) yang membuat kita bahkan tidak mau memulai untuk mempelajarinya.

Ternyata Aku Perlu Dana Darurat

Di tengah isu resesi ekonomi begini, apakah Anda pernah berpikir apa yang akan terjadi jika kita kehilangan mata pencaharian Anda?
God forbid kalau itu sampai terjadi, apakah kira-kira Anda dan keluarga Anda siap menghadapinya?

6 Alasan Dokter Kesulitan Mengatur Keuangan dan Cara Menanggulanginya

Diagram di atas adalah hasil dari “penelitian” kecil saya terhadap subscribers awal dari Dissecting Money. Saya mengirimkan sebuah kuesioner berisi satu pertanyaan: “Menurut anda, apa tantangan tersulit bagi seorang dokter dalam pengaturan keuangan?”

Berikut ini adalah rangkuman jawaban-jawaban dari sejawat, berurutan dari persentase kecil ke besar, beserta cara menanggulanginya.

Anda Cuma Pura-pura Kaya

Karena sepertinya masih banyak yang bingung mengenai cara menghitung net worth, maka saya akan coba jelaskan sedikit mendalam mengenai kepentingan penghitungan net worth, lalu memberikan kepada Anda sebuah contoh kasus perhitungannya.

Mengapa hal yang rumit dan jelimet ini harus dihitung?

Langkah-langkah Memulai Investasi

Berdasarkan dari beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya setelah beberapa rekan-rekan sejawat mengetahui tentang Dissecting Money pada umumnya langsung seperti ini: “Jadi saya baiknya investasikan uang saya di mana?”

7 Penyebab Kebangkrutan Anda

Kalau yang ini saya kira valid untuk semua orang. Saya pun pernah terjerumus di dalamnya. Apalagi kalau orangtua anda seperti orangtua saya dari generasi baby boomers, bersiaplah terima paket setiap hari.

Memang berkembangnya online shopping ini sangat memudahkan kita sebagai konsumen, tetapi di satu sisi jahatnya, kemudahan ini sangat merusak behavioral finance atau aspek psikologi keuangan kita. Hanya karena premis “kemudahan berbelanja,” “one-click shop,” “gratis ongkir” dan “cashback” tanpa kita sadari hidup kita jadi terlalu konsumtif.

Apa yang Harus Dilakukan Dokter “Sandwich Generation?”

Tentu anda sudah pernah mendengar tentang sandwich generation, entah dari artikel bacaan, iklan ataupun media sosial. Sandwich generation atau generasi terjepit adalah generasi yang harus menanggung biaya hidup keluarga sendiri (termasuk anak-anak), namun juga harus menanggung biaya hidup orangtua yang sudah memasuki masa tidak produktif (tidak bekerja) lagi.