ashkan-forouzani-8jF9I8cIRfg-unsplash
Dissecting Money

Dissecting Money

7 Tips Mengurangi Screen Time

Mengapa saya berulang kali mengingatkan Anda mengenai pentingnya memperhatikan screen time Anda setiap harinya? Karena seperti yang sudah saya ungkapkan di salah satu artikel sebelumnya, bahwa secara rata-rata orang menghabiskan 1 dari 7 hari dalam seminggu hanya untuk melihat layar smartphone atau komputer/laptop. What? We only live 6 days a week?

That means we need to talk about it, docs.

Belum lagi apabila kita melihat fakta yang didapat dari banyak studi bahwa penggunaan media sosial yang berlebih dihubungkan dengan meningkatnya angka gangguan cemas (anxiety) dan depresi pada remaja dan dewasa muda.

For your information, tangkapan layar berikut ini adalah contoh rata-rata screen time saya dalam sehari sebelum saya memutuskan untuk mengambil langkah-langkah aktif untuk merubahnya.

Pada hari dimana saya ekstra aktif di media sosial bahkan angka ini dapat mencapai 7 jam dalam sehari. That can’t be good. Saya pun masih berjuang keras untuk mengurangi screen time ini.

Karena itu, pada artikel ini saya akan membagikan 7 tips yang menurut saya pribadi sangat  membantu dalam mengurangi screen time (setelah mempraktikkannya sendiri).

Tetapkan hari-hari off dari media sosial

Saya sangat paham bahwa sebagai mahasiswa kedokteran, residen maupun dokter spesialis, smartphone yang selalu hidup dan respon yang cepat dapat menentukan kualitas kerja Anda di dalam suatu lingkungan pekerjaan. Jadi mungkin aplikasi-aplikasi instant messaging agak sulit untuk dibatasi (pada awalnya).

Namun media sosial? Saya yakin bahwa Anda sebenarnya tidak sebegitu membutuhkannya.

Social media is like a social mercury intoxication that kills you slowly, and heck, I’m saying that as a content creator.

Karena itu, tetapkanlah hari-hari atau tanggal-tanggal tertentu dimana Anda betul-betul off dari media sosial dan tidak membukanya sama sekali.

Saya sangat menyarankan untuk menetapkan hari off dari media sosial ini lebih dari 1 hari berturut-turut (sebagai contoh: saya menetapkan bahwa setiap tanggal 1 dan 2 setiap bulannya saya akan off dari media sosial).

Mengapa tidak satu hari saja?

Karena jika hanya satu hari maka Anda hanya akan merasa buru-buru untuk menyelesaikannya dan keesokan harinya (atau bahkan setelah lewat tengah malam) Anda akan langsung mengecek media sosial Anda lagi. Hanya setelah Anda bisa hidup tanpa media sosial 2×24 jam barulah Anda bisa menyadari bahwa kebutuhan itu sebenarnya tidak esensial untuk melangsungkan hidup.

Follow less people

Hanya karena seseorang merupakan teman Anda dari zaman S1 kedokteran, bukan berarti Anda harus follow orang tersebut dan mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam highlight reel kehidupannya.

I follow NONE of my high school or medical school or residency or work friends, and I’m not missing anything, and I’m happier than ever.

Justru karena kita terus-menerus disodorkan foto-foto atau cuitan-cuitan mereka-mereka inilah maka kita terus menerus membandingkan hidup kita yang lengkap dengan segala permasalahannya dengan secuil bagian hidup mereka yang penuh canda tawa. No wonder people are so insecure nowadays.

Jadi satu langkah pasti untuk memutus kebiasaan buruk men-scroll laman feed kita di media sosial adalah dengan mengurangi jumlah orang yang kita follow. Saran saya jangan follow lebih dari 50 orang/akun, and very soon you’ll start to feel that your days are somewhat brighter.

(CATATAN: algoritme dari mayoritas media sosial akan membuat nilai akun Anda jadi merosot drastis apabila jumlah following Anda berkurang, jadi jangan heran jika jumlah engagement (likes, comments, reply, retweet, dll) terhadap akun Anda juga akan menurun drastis)

Who cares about likes anyway? They’re just two taps of thumbs.

Oh wait, most people do. You dopamine junkies.

Stop buka tab “explore”

Salah satu kebiasaan dan kecanduan terburuk dari orang-orang di media sosial adalah tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak men-tap tab “explore” setelah bosan dengan scrolling feed atau stories mereka.

I mean, it’s actually okay if and only if you’re really bored.

But most of the time you’re not bored. You have gzillions of things to do, you just choose not to do it and hit “explore” instead.

Mulai baca buku yang Anda janji akan selesaikan di awal tahun.

Kerjakan atau cicil tugas yang deadline-nya masih 2 minggu lagi.

Belajar cara membuat sebuah blog/podcast yang selama ini Anda impikan.

Telepon orangtua yang sudah lama tidak Anda hubungi/datangi.

…the list goes on.

Hitting that “explore” button actually robs you off of these meaningfull stuff.

Matikan notifikasi

Salah satu obat yang paling ampuh untuk kecanduan layar smartphone adalah mematikan notifikasi.

Some of you just had goosebumps and cannot imagine turning off your social media/instant messaging notifications.

But do it anyway.

Do it now.

Pada awalnya, mungkin Anda akan sering merasakan apa yang dikenal dengan “phantom vibration syndrome,” dimana Anda merasa bahwa smartphone Anda bergetar karena ada notifikasi, padahal sebenarnya tidak.

Tenang saja, Anda tidak akan kelewatan apa-apa.

Kalau memang sebegitu pentingnya, seseorang pasti akan menelepon untuk mengabari Anda.

Kalau mereka tidak menelepon juga, maka hanya ada 2 kemungkinan selain mereka betul-betul kehabisan pulsa:

  • Mereka tahu bahwa yang ingin disampaikan memang tidak terlalu penting, atau
  • Anda dinilai tidak terlalu penting oleh mereka.

Both of which makes it okay for us not to read their messages right away.

Pasang timer untuk aplikasi

Smartphone Anda sekarang ini cukup pintar sampai dapat diatur untuk membatasi waktu penggunaan aplikasi-aplikasi tertentu sesuai dengan keinginan kita. Pertanyaannya: apabila smartphone-nya sendiri cukup pintar, maka siapa yang sebenarnya bodoh? (Hint: penggunanya)

Batasi waktu penggunaan aplikasi-aplikasi tertentu, terutama media sosial dalam satu hari. Misalnya, masing-masing 30 menit untuk Instagram, Twitter, LinkedIn dan Facebook. Tanpa kita sadari, jika semua kuota waktu untuk 4 aplikasi tersebut saja sudah terpenuhi, maka screen time kita sudah mencapai 2 jam dalam sehari.

Dan kita seringkali berandai-andai mengapa kita tidak punya waktu 2 jam saja untuk istirahat.

Pasti di tengah-tengah Anda akan tergoda untuk mematikan timer tersebut jika waktu sudah habis sementara masih ada direct message ataupun comment yang belum Anda balas, just find the strength in your mind to resist it. It can wait.

Stop baca berita online

Poin ini merupakan poin yang baru saya sadari setelah saya membuat dan mengurus blog saya sendiri. Ternyata terdapat perbedaan yang fundamental antara berita di media cetak (koran) dan berita online.

Di mana letak perbedaannya? Jika Anda membeli koran, maka praktis informasi yang Anda dapatkan hanya terbatas di semua yang sudah tercetak di eksemplar tersebut. Jika Anda belum selesai membaca, maka Anda tinggal melipatnya, membawanya dan membacanya nanti saat Anda punya waktu kosong lagi.

On the contrary, berita online tidak dibuat agar Anda membacanya sepotong-sepotong. Cara pembuat website mendapatkan uang dari situs yang mereka miliki adalah dengan memasang iklan atau dengan affiliate marketing maupun sponsored posts (tulisan yang mengarahkan pembaca untuk melihat produk tertentu). Jadi, semakin lama Anda berada di website tersebut, semakin tinggi kesempatan untuk pembuat website mendapatkan uang.

Sehingga, inilah fakta yang tidak banyak orang ketahui:

Mereka sama sekali tidak mau Anda menutup laman website mereka.

Dari judul yang ditampilkan pasti sudah bermaksud untuk menggaet Anda membacanya. Pikir saja sendiri: berapa banyak Anda membuka sebuah tautan berita berdasarkan judul yang menarik hanya untuk mendapatkan bahwa informasi yang tertulis di artikel lengkapnya sama sekali tidak berarti atau bahkan tidak berhubungan dengan judulnya (atau yang dikenal dengan istilah clickbait).

Setelah Anda selesai membacanya pun maka di bawahnya akan muncul saran-saran berita lain yang sesuai untuk Anda (berdasarkan koleksi data yang sudah mereka kumpulkan tanpa Anda ketahui). Maka Anda akan lanjut klik ke berita yang lain, berita yang lain, lalu berita yang lain.

The longer you are viewing their website, the more ads you see, the longer you see the ads, the more you click some ads (semua ini terhitung secara otomatis, by the way) = the more money they get = the more sponsors they get = the more ads they show = the more you view their website).

YOU and YOUR TIME are the product they’re selling to sponsors.

I’ve stopped reading online news for 3 months now, and I can gladly say that I’m not missing anything.

Who cares about what’s trending.

Tidak akan menambahkan sehasta pun masa hidup saya.

Tetapkan jadwal untuk cek smartphone

Poin terakhir yang bisa saya usulkan untuk mengurangi screen time adalah dengan menetapkan jadwal tertentu untuk membuka smartphone Anda. Di awal-awal jangan membuat jadwal yang terlalu ketat, misalnya berkomitmenlah untuk tidak lagi melihat smartphone dan scrolling through media sosial sembari berjalan. Tunggu sampai Anda tiba di tujuan, baru kemudian cek smartphone Anda untuk semua notifikasinya.

Jika hal itu sudah bisa dilakukan, dilanjutkan dengan menetapkan waktu yang lebih spesifik lagi, misalnya “saya hanya akan membuka smartphone saya setelah saya tiba dan duduk di kantor atau di poliklinik.” Tentunya hal yang akan mendukung rencana ini berjalan adalah dengan mematikan notifikasi seperti yang sudah disebutkan di atas, sehingga Anda tidak tergoda untuk mengecek smartphone Anda di tengah-tengah.

Lalu untuk naik tingkat, tetapkan lagi bahwa selama saya praktik atau bekerja di kantor, saya tidak akan mengecek smartphone (terutama media sosial) saya kecuali ada yang menelepon, dan saya baru akan membukanya saat jam makan siang atau saat jam pelayanan/jam kerja sedang ada break atau sudah selesai.

Those are all, docs!

Trust me, you’ll feel a whole lot better once you let go of your smartphone’s grip.

And do remember:

WE own our phones.

They don’t own us.


Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash

Apakah Anda merasa screen time Anda sudah terlalu lama?
Atau Anda masih menganggap bahwa ini bukanlah suatu masalah?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!