bermix-studio-F7DAQIDSk98-unsplash
Dissecting Money

Dissecting Money

Dokter: Sasaran Empuk Investasi Bodong

Suka atau tidak, dengan menjadi dokter, maka Anda merupakan sasaran empuk bagi para penyedia jasa keuangan, dan tentunya berkaitan dengan itu: investasi bodong.

Pertama-tama saya mau mengingatkan lagi akan fakta yang harus kita sadari di dalam industri penyedia jasa keuangan:

Semua orang memikirkan umbilikusnya masing-masing.

Tetapi berulang kali kita mendengar sejawat kita jatuh ke dalam investasi bodong karena satu dan lain hal karena melupakan prinsip dasar ini.

Pada artikel kali ini saya akan menguraikan beberapa poin yang menurut saya menjadi titik lemah keuangan kita yang memiliki profesi sebagai dokter dan menjadikan kita seperti kelinci yang terluka di padang gurun (sasaran empuk) di mata burung bangkai (penyedia jasa keuangan).

Merasa keilmuan kedokteran itu bisa ditransfer

Sure, kita mungkin masuk kedokteran karena kita pintar. Di dalam pendidikan pun kita terus digembleng supaya menjadi pintar, karena kesehatan orang lain menjadi tanggungannya. Orang-orang di luar dunia kedokteran pun menganggap bahwa seseorang yang bisa menyelesaikan pendidikan kedokteran pasti merupakan seseorang yang pintar.

Namun yang kemudian terjadi adalah seorang dokter, karena merasa dirinya cukup pintar untuk mengerti bagaimana tubuh manusia bekerja, lalu merasa bahwa kepintaran ini otomatis dapat ditransfer juga ke bidang keilmuan lain termasuk keuangan. Atau, dengan kalimat lain yang jauh lebih sederhana:

Saya kan dokter, masak mengatur uang saja saya tidak bisa.

No no no.

You might be a bright physician, but in economy, you’re as clueless and confused as a medical student on his/her first day in medical school.

Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baik mengenai cara mengatur dan mengelola uang itu harus diupayakan, bukan sesuatu yang kita dapat secara otomatis bersamaan dengan gelar dokter.

Punya dana tunai bebas yang besar

Alasan kedua mengapa dokter sering menjadi sasaran empuk bagi para  penyedia jasa keuangan dan para pelopor investasi bodong berkaitan dengan uang tunai bebas (baca: menganggur/idle) yang kita miliki.

Umumnya, seorang dokter yang tidak boros untuk lifestyle tetapi tidak memiliki literasi keuangan yang cukup cenderung hanya akan menabung kelebihan uangnya di bank dan tidak diinvestasikan (dirubah menjadi aset yang mencari uang lagi untuknya).

Sering sekali saya mendengar bahwa alasan sejawat mencari instrumen investasi adalah karena “daripada uang ini mendekam di bank.”

Jika ditilik dari segi psikologi keuangan, kita akan selalu lebih rentan untuk jatuh ke investasi bodong apabila kita memiliki uang 100 juta IDR “idle” di rekening bank dibandingkan bila kita tidak memiliki banyak uang tunai di rekening karena sudah diubah menjadi aset setiap bulannya.

Sementara cara berinvestasi yang saya gunakan (dan anjurkan) adalah mengubah uang menjadi aset secara pasif setiap bulannya ke dalam portofolio alokasi aset yang sudah ditetapkan. Jadi, setiap ada tawaran untuk investasi model baru yang aneh-aneh dan saya tergiur karena return-nya, sikap saya terhadap diri saya sendiri sederhana: tidak bisa, karena uangnya tidak ada, sudah pergi menjalankan tugasnya masing-masing.

That’s one of the perks of zero-based budgeting.

Balas dendam karena dulu hidup menderita

Selanjutnya, karena lulusan dokter (terutama dokter spesialis) merasa bahwa perjuangannya di dalam mencapai gelar itu cukup memberikan penderitaan yang bermakna, maka sebagian besar dari diri kita secara psikologis akan berusaha untuk “membayar” penderitaan tersebut dengan hidup yang berfoya-foya segera setelah lulus.

I won’t blame you, karena memang jika dibandingkan dengan teman-teman kita yang berprofesi lain, sekolah kedokteran dan sekolah spesialis betul-betul “merampok” dekade ketiga kehidupan kita. Namun, kita tetap harus menyadari bahwa penderitaan tersebut bukan berarti menghambur-hamburkan uang  di kemudian hari untuk pengeluaran konsumtif adalah sebuah hal yang dapat diterima.

Karena sudah demikian terpatri di kepala kita bahwa kita berhak untuk menjalani kehidupan yang layak (atau bahkan mewah), maka kita akan cenderung untuk mencoba mencari jalur cepat ke kemewahan tersebut. Maka pasti apabila ada tawaran-tawaran investasi yang bisa memberikan janji-janji (palsu) yang memanjakan hasrat kita tersebut, maka kita akan mengiyakannya lebih cepat dari membalikkan telapak tangan.

Para pelopor investor bodong tinggal menunjukkan gambar atau testimoni seseorang yang dulunya hidup biasa-biasa saja dan sekarang sudah memiliki yacht pribadi atau mobil sport mewah, maka dokter-dokter akan segera membuka dompetnya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Mengincar cuan cepat

There’s no such thing as free lunch.

Seluruh keuntungan di dalam berinvestasi kita dapatkan dengan mengambil sejumlah risiko dahulu sebelumnya. Seperti yang sudah saya kemukakan berkali-kali: investor terkenal dapat mencapai keberhasilan keuangan yang luar biasa bukan karena mereka memiliki return yang besar, tetapi karena mereka dapat memitigasi risiko-risikonya dengan baik.

Sebagai catatan: di dunia finance, seseorang yang memiliki instrumen investasi dengan rerata return 10-15% per annum (per tahun) saja sudah merupakan hal yang luar biasa bagus.

Jadi, apakah return-return yang sering ditawarkan investasi bodong seperti:

  • 1% per hari
  • 20% per bulan
  • 100% per tahun

adalah hal yang masuk di akal?

Saya kira tidak.

Tidak mengerti cara kerja compound interest

Mengapa banyak sejawat mudah sekali tergiur dengan tawaran cuan cepat seperti di poin di atas? Jawabannya karena terlalu banyak yang tidak mengerti bagaimana konsep compound interest  bekerja. Padahal hanya dengan menguasai konsep tersebutlah seseorang bisa benar-benar memahami bagaimana dunia keuangan bekerja dan bagaimana investor-investor ternama membangun kekayaannya.

Bahkan Warren Buffet pun mengutipnya sebagai salah satu dari 3 hal kunci dalam membangun kekayaannya:

“My wealth has come from a combination of living in America (karena pertumbuhan ekonominya), some lucky genes (karena beliau berumur panjang walaupun selalu minum Coca-Cola), and compound interest (I rest my case).”

Sebagai gambaran, jika seorang dokter spesialis menginvestasikan 5 juta IDR setiap bulan pada instrumen investasi dengan rerata return 10% per tahun selama 20 tahun, maka pada akhir tahun ke-20 adalah: 3,5 miliar IDR.

I’ll take that.

Daripada harus mempertaruhkan uang 500 juta IDR satu kali dan menaruhnya dalam instrumen spekulatif dengan risiko kehilangan seluruhnya.

Pertanyaannya: apakah sejawat cukup disiplin untuk melakukannya selama 20 tahun ke depan?

Or are you just a slave to your own greed?

Merasa keuangan akan stabil 20 tahun ke depan

Pandemi Covid-19 ini seharusnya sudah mengajarkan kita pelajaran yang sangat berharga, yaitu fakta bahwa kita sama sekali tidak mengetahui apakah bulan depan pendapatan kita masih akan sama dengan bulan ini, let alone 2-3 tahun ke depan.

Lucunya masih banyak sekali sejawat yang menghabiskan uangnya untuk mencicil barang-barang yang bersifat konsumtif, dengan keyakinan bahwa “toh bulan depan saya masih akan dapat gaji sejumlah x.”

You’re actually just assuming that it will be so.

Even worse: nowadays doctors do it just to have a fancy celebgram-like Instagram feed.

Saya ulangi lagi kutipan dari teman saya sejak masih duduk sebagai mahasiswa kedokteran yang menohok saya waktu saya baru saja memulai blog ini:

Specialists spend money as if they’re going to have the same amount of income at 60.

I’d rather be old and actually rich than being young yet only pretending to look rich.

Mengikuti ajaran orangtua

Pada poin terakhir ini saya akan bicara gamblang di awal:

Your parents might not know any better about finance than you do.

Saya tahu bahwa adat ketimuran mengharuskan kita untuk selalu menghormati pendapat orangtua karena mereka sudah lebih banyak makan asam-garam.

But I am so sorry to inform you that it is not the case when it comes to finance matters.

The fact of the matter is: kemungkinan besar literasi keuangan mayoritas orangtua kita adalah “ilmu dengar.” Entah dengar dari kolega-kolega mereka atau dengar dari kakek-nenek kita.

Bukan berarti itu semua sepenuhnya salah, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa kalaupun pendapat mereka benar, itu merupakan kebenaran di zaman mereka. Sementara, kita hidup di zaman yang sudah sama sekali berbeda dengan zaman mereka mulai membangun kekayaan dulu.

Akibatnya yang sering terjadi adalah orangtua kita terlambat menyadari bahwa ini sudah menjelang masa pensiunnya dan ternyata uang untuk kebutuhan dana pensiunnya belum terkumpul. Sehingga mereka mulai mencari-cari instrumen-instrumen yang bisa melipatgandakan uang secara cepat tanpa menganalisa lebih dalam risiko yang tersirat di dalamnya.

Imbasnya kita yang tidak memiliki literasi keuangan yang cukup pun akan manut-manut saja karena menganggap bahwa orangtua kita lebih memahami soal keuangan daripada kita.

So, remember when I told you:

Once you have studied finance and deemed yourself properly literate, you actually need to have a sit-in with your parents and discuss money matters.

Buang jauh-jauh pemikiran bahwa uang adalah hal yang tabu untuk dibicarakan di dalam keluarga.


Apakah Anda memiliki pengalaman terjerat investasi bodong?
Apakah alasannya merupakan salah satu dari yang saya sebutkan di atas?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.


Photo by Bermix Studio on Unsplash

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!