black-video-camera-2041396
Dissecting Money

Dissecting Money

Anamnesis Finansial #2: Internship Doctor

Anamnesis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai:
  • Psikologi: keterangan tentang kehidupan seseorang (klien) yang diperoleh melalui wawancara dan sebagainya.
  • Kedokteran dan fisiologi: riwayat orang sakit dan penyakitnya pada masa lampau.

Jadi pada thread post ini, saya mencoba untuk melakukan anamnesis finansial, sederhananya seperti sesi tanya-jawab dengan seseorang yang memiliki latar belakang dan profesinya masing-masing, dan akan membahas tentang sudut pandang orang tersebut mengenai dunia finansial, baik secara umum maupun pengalaman pribadinya.

Pada anamnesis finansial kali ini, saya mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan seorang dokter internsip, yang ternyata sudah mulai terbuka matanya dan mulai mempelajari seluk-beluk personal finance dan investasi.

Beliau baru saja menyelesaikan sekolah kedokteran dan sedang menjalankan penugasannya, namun sudah memulai perjalanan tersebut. Amazing, isn’t it? (Berarti gaji internsipnya jangan langsung dihabiskan seperti saya waktu dulu ya dok!) Bayangkan seberapa dini beliau dapat menabung, dan membiarkan waktu berjalan serta efek compound interest bekerja terhadap tabungan investasinya.

Wiyogo, MD adalah seorang dokter internsip di RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang, Kalimantan Barat.


1. Sepanjang pengalaman anda menjalani pendidikan kedokteran, apakah teman-teman FK anda adalah orang-orang yang mengerti mengenai investasi?

Selama kuliah di FK saya rasanya tidak pernah mendengar mahasiswa kedokteran bicara mengenai investasi. Mungkin ada, tapi sama sekali tidak banyak dengungnya.

2. Berapa kira-kira secara kasar persentase rekan mahasiswa kedokteran yang anda tahu menyadari pentingnya investasi dan sudah terjun ke dalam dunia investasi?

Kalau ditanya persentasenya, sangat sedikit sekali, mungkin kurang dari 5%.

3. Kapan anda mulai menyadari pentingnya investasi bagi seorang dokter? Apakah ada peristiwa/event yang khusus yang membuka mata anda?

Saya mulai terbuka matanya saat mendengarkan podcast Thirty Days of Lunch dan Andika Sutoro Putra di Spotify yang membahas pentingnya dana pensiun supaya kita tidak membebankan anak-anak kita pada saat kita tua nanti.

(Editor: See, I told you listening to podcasts will make a HUGE difference in your financial literacy)

4. Apakah ada pengaruh dari orangtua atau saudara? (Misalnya karena orangtua anda memang sudah mengerti konsep investasi, maka ilmu tersebut diajarkan kepada anda?)

Orangtua saya tidak secara langsung mengajari saya investasi, tapi memang mereka sudah menerapkan investasi di pelosok sana (FYI: Saya berasal dari pedalaman Kalimantan). Meskipun mereka tidak memiliki investasi di pasar modal, tetapi mereka sudah memiliki passive income dari kebun kelapa sawit dan sarang walet. Sehingga kurang-lebih mereka sudah memikirkan persiapan dana pensiun mereka sendiri.

5. Apakah menurut anda personal finance seharusnya diajarkan sebagai suatu mata kuliah di pendidikan kedokteran?

Hmmmmm. Pelajaran finance di kedokteran sepertinya akan menuai banyak pro dan kontra, karena memang jadwal seorang mahasiswa kedokteran sudah sangat padat. Namun saya setuju saja bila itu bisa diadakan, karena ini adalah hal yang sangat penting. Bercermin ke diri saya sendiri, saya merasa bahwa pendidikan kedokteran sangat menyita waktu (dan sangat lama durasinya), sehingga mungkin seorang mahasiswa yang sudah cukup stres saat kuliah mungkin cenderung tidak mau memikirkan mengenai investasi.

6. Apa yang menjadi tujuan investasi anda sekarang ini?

Tujuan utama investasi saya saat ini pastinya demi kesehatan finansial saat sudah pensiun kelak. Namun ke depannya saya juga akan berinvestasi untuk hal lain, misalnya untuk biaya pendidikan anak, biaya kesehatan keluarga, travelling, hobi dan hal-hal lainnya.

7. Jikalau anda bisa mengulang waktu ke saat dimana anda baru saja memulai sebagai mahasiswa kedokteran, apa yang akan anda lakukan?

Pertanyaan “kalau bisa mengulang waktu” sangat menampar diri saya. Bagaimana tidak, saat saya masuk kuliah kedokteran tahun 2013 harga saham bank BRI (BBRI), BCA (BBCA) dan Unilever (UNVR) dibandingkan sekarang sudah naik 3x lipat. Jikalau saja saya dulu rutin menyimpan uang jajan per bulan untuk beli saham itu, mungkin sekarang saya sudah bisa memiliki rumah sendiri.


Dokter internsip saja sudah memulai. You should subscribe NOW:

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!