Roda Ekonomi Keluarga Antar Generasi

Photo by Steve Shreve on Unsplash

Taraf ekonomi keluarga: sebuah siklus?

Pemikiran ini berasal dari pembicaraan saya dengan seorang teman sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) dulu. Suatu hari saya dan seorang teman baik saya sedang berlagak membicarakan kehidupan, dan kami terhenti di sebuah pertanyaan: Apakah sebenarnya taraf ekonomi keluarga kita merupakan sebuah siklus?

Kenapa kami bertanya seperti itu? Karena kami sama-sama memiliki ayah yang berangkat dari kehidupan yang secara ekonomi sangat susah sewaktu kecil, dan kemudian bertumbuh dewasa dan berhasil meraih kesuksesan di usia produktifnya. Lalu kami berpikir apakah kami yang melewati masa kecil dengan relatif “lancar” ini dapat bertahan menghadapi gelombang hidup di masa depan? Kehidupan lancar dalam arti tidak perlu pusing memikirkan makanan, uang sekolah, dan sebagainya (walaupun saya sadar sebenarnya pasti orangtua kami tetap membanting tulang untuk hal tersebut, namun tidak mengungkapkannya kepada kami sebagai anak-anaknya).

Jadilah kami dengan kemampuan berpikir kami yang seadanya membuat hipotesa seakan-akan taraf ekonomi suatu keluarga berjalan dalam sebuah siklus atau roda, jika kami menikmati hidup yang “enak” secara finansial, maka nanti along the way perpindahan generasi akan ada periode dimana ada angkatan yang harus memulai dari dasar lagi (hidup sulit).

Lima belas tahun setelah diskusi enteng tersebut, somehow the question’s still stuck in my head. Dan sekarang saya menyadari mengapa pertanyaan tersebut melekat di kepala saya: untuk saya bagikan maknanya kepada pembaca sekalian dalam artikel ini.

Foto keluarga liburan keliling Eropa

Sewaktu masa sekolah dulu, seringkali saya bermain (bertamu) ke rumah teman-teman sekolah saya, dan sudah lazim bahwa rumah yang sering dikunjungi adalah rumah teman yang orangtuanya kaya.

Hampir selalu di rumah-rumah mereka terpajang foto-foto liburan keluarga ke negara-negara di Eropa. Foto di Menara Eiffel, depan Museum Louvre, Menara Pisa, dan salah satu yang paling wajib dipajang adalah foto dengan baju tradisional Belanda.

Pada waktu itu, setiap kali saya melihat foto-foto tersebut, selalu terlintas di dalam pikiran saya: “Kenapa ya keluarga saya tidak bisa liburan keliling Eropa? Pasti menyenangkan kalau kami bisa.” Padahal jika melihat latar belakang orangtua saya yang keduanya adalah seorang dokter, seharusnya di atas kertas kami bisa melakukan hal tersebut.

Fast forward ke masa sekarang, banyak saya mendengar kabar bahwa cukup banyak keluarga teman-teman saya tersebut yang di dalam perjalanannya mengalami kesulitan keuangan keluarga, entah karena terikat hutang akibat bisnis, pencari nafkah utama terkena penyakit kritis yang membutuhkan biaya pengobatan mahal, dsb. Well, mungkin beberapa orang kemudian menyalahkan “nasib.” Ada yang bernasib baik, namun ada juga yang bernasib buruk.

Sehingga sampai saya lulus pendidikan spesialis, saya masih merasa bahwa kemungkinan hal itu memanglah tergantung dari nasib seseorang dan berjalan layaknya sebuah siklus. Tinggal tunggu waktu saja sampai keadaan me-reset ulang perekonomian keluarga dan kita harus mulai dari awal lagi.

Yet one day, I discovered something that destroys that whole concept of thinking.

Faktor pembeda si kaya dan si miskin

Di satu sisi lain, pernahkah Anda memperhatikan bahwa ada beberapa keluarga (biasanya keluarga miliarder/pengusaha terkenal) yang saking kayanya kita seringkali melabeli mereka dengan istilah “uang mereka tidak akan habis 7 turunan?” Kenapa keluarga-keluarga ini tidak terkena siklus di atas? Apakah hanya karena “kebetulan” mereka bernasib baik? (Kata “kebetulan” dalam tanda kutip karena menurut saya di hidup ini tidak ada kebetulan, yang ada hanya kebenaran)

Jawabannya sederhana, dan saya pun bingung kenapa saya perlu hidup 33 tahun dulu sebelum menyadari hal ini. Faktor pembeda utamanya adalah: literasi keuangan/literasi finansial. Lebih mendasar lagi dari itu: pengaturan keuangan pribadi/personal finance.

Sounds like such a cliche? Let me walk you through it.

Seorang kepala keluarga yang berhasil mencapai kesuksesan di dalam karirnya namun tidak memiliki literasi finansial yang cukup, hanya akan menikmati uangnya selagi masih memiliki pendapatan yang tinggi. Terlebih lagi, sehubungan dengan kelanjutan taraf ekonomi tersebut ke generasi di bawahnya (anaknya), menurut saya hanya ada beberapa kemungkinan berikut:

  • Dia akan berpesan kepada anaknya untuk “bekerja keras” hingga bisa mencapai level kesuksesan yang sama atau lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan hal ini, namun dia tidak menyiapkan bekal penting untuk masa depan anaknya, yaitu bagaimana cara mengatur uangnya jika kesuksesan tersebut sudah tercapai.
  • Dia akan mengatur sedemikian rupa untuk anaknya agar dapat melanjutkan kesuksesan yang telah dia peroleh di tempat dia bekerja/tempat kenalannya (nepotisme). Lagi-lagi, si anak yang “terpaksa” bekerja di tempat yang belum tentu dia ingini harus bekerja tanpa bekal bagaimana cara mengatur keuangan dengan baik.
  • Dia akan menyimpan sebanyak mungkin uang untuk diwariskan kepada anaknya. Hal ini sangatlah baik adanya, tetapi darimana dia tahu bahwa uang warisan tersebut akan digunakan dengan bijak oleh anaknya?
  • …….yeah well, you get the idea.

Sehingga tinggal menunggu waktu dimana uang buah kesuksesan tersebut akan habis di salah satu generasi, dan kembalilah taraf ekonomi keluarga menjadi sulit kembali seperti siklus di atas.

Sementara, seorang kepala keluarga yang baik, selain konsisten mengubah uang tabungannya menjadi aset, akan mengambil suatu waktu untuk duduk dan mengajarkan kepada anak-anaknya: “Setiap kali kamu menerima gaji, sisihkan sumbangan dulu, lalu gunakan sekian persen untuk kebutuhan, gunakan sekian persen untuk keinginan, dan simpan sekian persen dan ubah menjadi aset yang dapat menghasilkan uang lagi.”

Much simpler. All you need is the right mindset, a table, and pen and paper or a laptop and a spreadsheet!

Dan keluarga ini telah membebaskan diri dari siklus tersebut.

Pentingnya literasi keuangan dalam keluarga

Meskipun situasi pengandaian yang saya jabarkan tersebut di atas sangat ideal, namun sayangnya kenyataannya adalah sangat sulit untuk sebuah keluarga bisa memiliki tingkat literasi keuangan dan kebijaksanaan dalam mengatur keuangan yang sama.

Pernahkah Anda mendengar tentang keluarga yang anak-anaknya rebutan warisan orangtuanya? Pasti pernah. Bukan tidak mungkin ini merupakan gambaran dari keluarga Anda sendiri. Bahkan seringkali kita bisa melihat perbedaan taraf ekonomi yang sangat timpang di dalam keluarga: keluarga kakaknya kaya raya, anak tengah biasa saja, dan anak bungsu keluarganya hidup sulit.

Jadi lagi-lagi apakah pembedanya hanya karena “nasib” atau karena yang lain kurang bekerja keras di dalam hidupnya?

Menurut saya tidak.

Tetap pembeda utamanya adalah literasi keuangan yang berimbas kepada keahlian pengaturan keuangan yang tidak sama di antara kakak-beradik tersebut. Hal yang kedengarannya mudah, namun sangat sulit untuk dipraktikkan. Ketahanan orang yang satu dengan yang lain akan risiko pun berbeda-beda (profil risiko), sehingga jika salah satu anggota keluarga sudah memiliki literasi finansial yang mencukupi pun akan sangat sulit untuk “menularkannya” ke anggota keluarga yang lain. Bahkan terkadang lebih sulit untuk meyakinkan keluarga kita sendiri dibanding meyakinkan teman kita.

Ditambah lagi dengan pemikiran yang menganggap bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah suatu hal yang tabu. Namun sedihnya, ada satu kalimat yang sering sekali diucapkan orang yang merupakan akibat dari kesalahan yang umum ini:

Kalau soal keluarga, uang bisa jadi bukan uang.

Kalau soal uang, keluarga bisa jadi bukan keluarga.

Yang belum pernah mendengar ungkapan ini dan tidak mengerti maksudnya, artinya adalah bahwa di satu sisi jika keluarga kita mengalami sakit atau kecelakaan, mungkin kita tidak akan banyak hitung-hitungan dengan uang kita. Tetapi di sisi lain, pada saat dihadapkan dengan kebutuhan uang yang mendesak, seringkali anggota keluarga bisa kita anggap sebagai “musuh” dalam hal mendapatkan uang tersebut (contohnya warisan).

Ironis, bukan?

Di saat sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah literasi keuangan yang cukup dan keterbukaan di antara anggota keluarga untuk membicarakan atau bahkan merencanakan keuangan bersama-sama.


Apakah Anda mengalami kesulitan yang sama perihal membicarakan keuangan dalam keluarga?
Apakah menurut Anda, Anda sendiri sudah memiliki literasi keuangan yang mencukupi?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

 

6 thoughts on “Roda Ekonomi Keluarga Antar Generasi”

  1. Artikel yang sangat bagus, seringkali kita berpasrah pada nasib/takdir, tetapi sebenarnya pengetahuan adalah kuncinya. 👍🏻

    Reply
  2. Sangat mengena dok.. literasi keuangan !! Di keluarga saya ada 2 sisi : 1. Sisi yg ketika ngumpul di larang keras bicara uang/ harta, serta hidup damai harmonis 2. Sisi yg segala sesuatu d pamerin, harta, sukses kerjaan, ngukur dari kepunyaan, namun jika ada bencana, lari semua pura pura miskin.. yaa saya setuju literasi keuangan itu wajib dan sebaiknya di turunkan

    Reply

Leave a Comment