Cara Menyusun Portfolio

Photo by RetroSupply on Unsplash

Apa itu portfolio?

Portfolio
Merupakan pengelompokkan aset-aset finansial anda yang dapat terdiri dari saham, obligasi, komoditas, mata uang asing, dan termasuk juga di dalamnya reksa dana dan exchange traded fund (ETF). Sederhananya: seperti buku harian investasi anda.

(Akan banyak istilah-istilah finance yang cukup asing di dalam artikel ini, sehingga untuk pemula saya sarankan untuk membuka tab baru untuk artikel saya yang membahas pengertian istilah-istilah finance tersebut)

Jadi jika Anda sudah menetapkan tujuan investasi Anda, maka berikutnya pasti Anda sudah menetapkan instrumen investasi dengan imbal hasil berapa yang Anda butuhkan untuk mencapai target tersebut. Portfolio merupakan sebuah buku harian mengenai instrumen-instrumen investasi yang Anda miliki dan merupakan “strategi perang” Anda untuk mencapai tujuan investasi tersebut.

Sebuah portfolio dapat menunjukkan sebaran aset-aset yang Anda miliki, teralokasi ke instrumen-instrumen yang berbeda (sehingga sering juga disebut sebagai asset allocation/alokasi aset) dan biasanya dijabarkan dalam bentuk persentase, misalnya:

  • 30% saham individu
  • 30% reksa dana saham
  • 30% obligasi
  • 10% emas

Sehingga dapat dibayangkan bahwa portfolio investasi (alokasi aset Anda) seharusnya memiliki persentase yang tetap, karena kalau tidak akan menjadi sesuatu yang rumit dan tidak bisa jadi pegangan.

Selain itu, dengan memiliki portfolio yang tersusun dengan baik, Anda juga secara bersamaan melakukan diversifikasi atau penyebaran dana investasi ke instrumen-instrumen yang berbeda untuk meminimalisir risiko.

More than one way to skin a cat

Dari contoh yang saya tunjukkan di atas, artinya setiap investor dapat memiliki gambaran portfolio yang berbeda-beda, tergantung dari tujuan investasi masing-masing.

Di dalam pelaksanaannya pun, tidak ada satupun portfolio yang bisa dibilang “paling benar” di antara semuanya. Sehingga strategi menyusun portfolio pun bisa dibilang tidak terbatas kemungkinannya, dan bebas ditentukan oleh sang investor.

Namun perlu dipahami bahwa tetap diperlukan penyusunan portfolio yang “masuk akal” dan tidak asal-asalan, sehingga secara bersamaan Anda dapat memiliki strategi, melakukan diversifikasi dan sekaligus meminimalisir risiko dalam berinvestasi.

Sehingga saya akan berikan beberapa poin-poin yang dapat dijadikan sedikit panduan untuk Anda dalam memulai menyusun portfolio.

Komposisi wajar sebuah portfolio

Jikalau Anda mulai merasakan kerumitan karena begitu banyaknya kelas aset yang dapat dipilih, saya akan menyajikan sebuah cara yang jauh lebih sederhana. Berikut ini adalah poin-poin yang dapat menjadi dasar dalam Anda menyusun sebuah portfolio.

1. Memiliki komponen saham dan obligasi

Mengapa sebuah portfolio yang baik harus memiliki komponen saham dan obligasi? Jawabannya adalah untuk manajemen risiko. Pada satu sisi, saham merupakan instrumen investasi yang memberikan return yang paling tinggi dalam jangka panjang, namun karena saham merupakan sebuah instrumen yang sangat volatile (naik-turun) dalam jangka pendeknya, seorang investor membutuhkan instrumen lain di dalam portfolio-nya yang dapat menjadi buffer/bantalan di saat harga saham mengalami penurunan (bear market).

Obligasi/bonds merupakan instrumen investasi yang relatif stabil di kala terjadi penurunan/perlambatan ekonomi. Fenomena ini dapat mudah dimengerti dengan berpikir bahwa pada saat pasar saham mengalami penurunan atau memasuki periode bear market, maka kebanyakan investor akan keluar dari pasar saham dan memindahkan asetnya ke instrumen obligasi yang relatif lebih aman (walaupun pada kondisi krisis ekonomi tertentu seperti subprime mortgage crisis di Amerika Serikat pun obligasi juga terdampak dan mengalami penurunan). Tentunya dalam hal ini yang saya maksud adalah obligasi/surat hutang pemerintah (government bonds) dan bukan obligasi/surat hutang perusahaan (corporate bonds).

2. Proporsi obligasi yang meningkat seiring dengan bertambahnya usia

Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan pegangan untuk Anda menyusun perbandingan proporsi saham dan obligasi (FYI, jika seorang investor ditanyakan komposisi portfolio sahamnya dan menjawab dengan menyebutkan 2 angka seperti 80/20, itu merujuk kepada persentase saham/obligasi di dalam portfolionya).

Benjamin Graham, penulis buku “The Intelligent Investor” dan merupakan mentor langsung dari Warren Buffet, menyatakan bahwa sebaiknya setiap investor tidak memiliki komponen saham tidak kurang dari 25% dan tidak lebih dari 75% di dalam portfolio-nya.

Cara lain yang dapat dijadikan pegangan adalah dengan rumus yang sederhana, yaitu berapa usia Anda dalam hitungan tahun, itulah idealnya persentase obligasi di dalam portfolio Anda. Contoh jika saya berusia 33 tahun, artinya saya dapat menyusun sebuah portfolio yang terdiri dari 67% saham dan 33% obligasi.

Jika Anda sudah mengikuti blog/podcast/grup Telegram, maka Anda sudah mengetahui bahwa portfolio saya sendiri saat ini masih di posisi 90/10, karena saya menyadari bahwa saya memulai berinvestasi terlambat paling tidak 10 tahun dibanding investor lain, so I’m willing to take on more risk to have a higher return. But that’s my case, sementara menurut saya Anda sendiri sebaiknya menyesuaikan sendiri dengan profil risiko masing-masing.

Seiring dengan usia yang bertambah, maka sewajarnya seorang investor perlahan-lahan memindahkan asetnya ke instrumen obligasi yang relatif lebih aman. Hal ini masuk akal jika Anda berpikir demikian: siapa orang di luar sana yang pada usia 65 tahun atau mendekati usia pensiun masih mau memiliki aset mayoritas saham yang sangat fluktuatif? Tentunya malah akan menjadi faktor risiko terjadinya angina pectoris. Sehingga by proxy pasti seorang investor yang bijak dalam mendekati masa pensiunnya akan memindahkan berat portfolio utama ke instrumen obligasi.

3. Jangan memiliki komponen spekulatif terlalu banyak

Saya sendiri bukan merupakan penggemar jenis instrumen investasi yang bersifat spekulatif seperti foreign exchange (forex) dan komoditas (minyak bumi, gas bumi, perak, dsb) sehingga saya tidak akan membahasnya terlalu banyak. Namun jika Anda berminat memiliki komponen ini di dalam portfolio Anda, disarankan untuk tidak mengambil porsi lebih dari 10% dari keseluruhan portfolio.

4. Jangan membeli instrumen berbeda yang memiliki target yang sama

Tentu di dalam menyusun sebuah portfolio, salah satu hal yang kita lakukan adalah diversifikasi atau memilih aset-aset yang berbeda untuk manajemen risiko. Namun satu hal yang menjadi kesalahan saya di awal-awal adalah memilih 2 instrumen yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama.

Sebagai contoh saya pernah berinvestasi di dalam 2 reksa dana (RD) saham indeks yang berbeda, mengharapkan dengan melakukan hal tersebut saya sudah melakukan diversifikasi. Ternyata setelah saya pelajari lagi, kedua RD saham indeks tersebut mengacu pada indeks yang sama, yaitu IDX30. Hal ini tidak perlu dilakukan, karena toh return yang diharapkan sama. Malahan jika jumlah dananya digabungkan ke salah satu saja yang fee-nya lebih kecil, tentu akan lebih berpengaruh terhadap return jangka panjangnya. Saya harap Anda tidak jatuh ke lubang yang sama dan dapat belajar dari kesalahan saya ini.


Saya kira itu saja kiat-kiat yang dapat saya bagikan untuk Anda yang baru saja mau menyusun portfolio investasi Anda. Jika kemudian terpikir hal-hal yang baru yang dapat membantu Anda, pastinya artikel ini akan saya update lagi.

Apakah Anda sudah menyusun sebuah portfolio?
Ataukah masih mengalami kesulitan/kebingungan?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah ini atau melalui ikon chat di kanan bawah.

10 thoughts on “Cara Menyusun Portfolio”

    • Sekuritas sih menurut saya mana-mana saja oke dok, tinggal perhatikan saja fee transaksi jual-beli nya berapa karena masing-masing sekuritas berbeda.

      Saya sendiri pakai IndoPremier, karena selain bisa beli saham individu namun bisa beli reksa dana juga.

      Yang lebih penting adalah buka akun, jangan sampai analysis paralysis dok.

      Reply
    • Kalau beli surat hutangnya langsung bisa via bank atau mitra distribusi (banyak kok, google aja: mitra distribusi obligasi).

      Alternatifnya kalau ga mau beli surat hutangnya langsung, ya beli reksa dana pendapatan tetap, itu isinya obligasi juga, bisa pemerintah maupun perusahaan.

      Reply
  1. Baru aware tentang investasi setelah setahun praktek Sp. That’s okay, yang penting kita mulai dan belajar pelan-pelan ya..krn banyak istilah ekonomi yang gak paham.. (lebih cepet baca medical journal deh.. =D)

    Reply
  2. Waah menarik ini dok, saya baru mulai investasi di RD saham, dan masih rutin top-up di RD saham saja. Baru kepikiran kalo perlu manajemen resiko dengan minimal ada satu RD Obligasi juga. Thanks doc

    Reply
    • Opsional kok sebenarnya. Boleh-boleh saja 100% di saham.

      Tapi kalau mau diversifikasi dan untuk mitigasi risiko, baiknya tetap ada komponen obligasi.

      Makin tua usia kita, komponen obligasinya makin besar.

      Reply

Leave a Comment