image_2024-12-01_16-39-59
Picture of Dissecting Money

Dissecting Money

DomaiNesia

5 Alasan Mengapa Value Investing Tidak Cocok untuk Dokter

Di dunia investasi, value investing telah lama digadang-gadangkan sebagai strategi yang praktis dan masuk akal untuk membangun kekayaan. Namun, jika subjeknya adalah para dokter beserta seluruh situasi unik yang melekat dengan profesi dokter, pendekatan value investing ini mungkin bukanlah cara yang paling tepat. Pada artikel kali ini kita akan mendalami mengapa menurut saya value investing bukanlah resep yang tepat untuk para dokter.

Apa itu value investing?

Value investing adalah pendekatan strategis untuk berpartisipasi di pasar saham yang menitikberatkan pada identifikasi atau mengenali dan melakukan investasi pada saham-saham yang dianggap undervalued (berharga murah untuk nilai sebenarnya), namun memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang. Berakar dalam prinsip-prinsip investor legendaris seperti Benjamin Graham dan Warren Buffett, value investing berfokus pada penilaian nilai intrinsik perusahaan dengan menganalisis laporan keuangan, kualitas manajemen, dan daya tahan ekonomi secara keseluruhan (ugh, where’s my ondansetron?). Investor yang menggunakan strategi ini mencari saham-saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, dengan sebuah kepercayaan bahwa seluruh bursa saham mungkin sedang tidak menyadari nilai sebenarnya dari emiten-emiten tertentu. Alih-alih dipengaruhi oleh fluktuasi pasar jangka pendek atau tren, para value investor bertujuan untuk membangun portofolio saham-saham perusahaan yang secara fundamental kuat (sering dikenal dengan istilah fundamental analysis), dengan harapan bahwa suatu hari bursa saham akan akhirnya mengenali dan mengoreksi undervaluation tersebut, sehingga harganya akan meningkat dan para value investor mendapatkan capital gain dari perubahan harga tersebut. Pendekatan ini tentunya membutuhkan kesabaran, disiplin, dan pemahaman mendalam tentang metrik keuangan yang njelimet.

Lalu mengapa menurut saya value investing bukanlah sebuah resep yang tepat untuk dokter-dokter berinvestasi?

1. Keterbatasan waktu dan tuntutan profesi

Para profesional medis, khususnya para dokter, seringkali dalam kesehariannya tenggelam dalam karir yang sangat menuntut dan menyita waktu. Jadwal praktik yang padat, waktu kerja yang panjang, dan kewajiban untuk terus-menerus mengembangkan ilmu pengetahuan pribadi membuat pengaturan portofolio value investing menjadi sangat sulit dan menantang. Dan juga, tidak seperti strategi investasi yang pasif seperti passive indexing yang tidak terlalu memerlukan kita untuk selalu hands-on, value investing menuntut waktu untuk riset yang mendalam dan pengawasan yang terus-menerus, sebuah kemewahan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan dokter. Kalau para profesional keuangan yang berkantor di lantai 37 dengan 7 buah monitor saja belum tentu bisa menemukan saham yang undervalued, apakah menurut Anda dokter yang masih harus menjalani poliklinik, jaga malam, ataupun operasi bisa menemukannya? What’s the chance on that?

2. Kurang terdiversifikasi

Value investing biasanya mengharuskan seseorang untuk memilih saham-saham atau emiten-emiten individu berdasarkan nilai intrinsiknya (melalui analisis fundamental). Meskipun pendekatan ini dapat memberikan imbal hasil yang tinggi, tetapi jangan pernah lupakan bahwa hal ini juga yang membuat sang investor terpapar terhadap risiko kemungkinan memilih saham yang mempunyai performa buruk. Apalagi jika jumlah saham yang dipilih terlalu sedikit, sehingga risiko memiliki saham yang berperforma buruk ini semakin tinggi. Sebagai gambaran, Benjamin Graham di bukunya yang berjudul “The Intelligent Investor” menuliskan bahwa jika kita mau memilih jalan ninja value investing, maka kita sebaiknya memiliki sekitar 10-30 saham perusahaan di dalam portofolio kita. Kontrasnya, di Indonesia, para pegiat value investing seringkali hanya menyarankan untuk memiliki sekitar 5 saham perusahaan. I personally think it puts the value investor at a much higher risk. It’s just not diversified enough. And, to be widely diversified, you need a huge chunk of money (miliaran atau bahkan triliunan IDR), which most doctors don’t have anyway. Sementara, dengan memiliki reksa dana indeks, portofolio saham kita otomatis terdiversifikasi ke 30+ emiten atau bahkan lebih, sehingga bisa menjadi rute yang lebih aman untuk kita pilih dalam rangka mencapai stabilitas finansial.

3. Tantangan psikologis

Bursa saham terkenal dengan volatilitas atau ayunan naik-turun harga yang sangat cepat. Sehingga, cara berinvestasi dengan gaya value investing memerlukan tingkat ketahanan emosional yang mungkin tidak dimiliki oleh semua orang. Apalagi untuk para dokter, yang pekerjaan sehari-harinya saja sudah merupakan situasi stres tingkat tinggi, tentunya akan menjumpai kesulitan dalam menangani roller-coaster ride yang dibawa oleh naik-turunnya bursa saham ini.  Can you imagine handling an emergency patient with your right brain, while your left brain is thinking about whether you should sell your stocks that are on the decline? Faktor bias yang dibawa oleh perilaku kita dapat mengaburkan penilaian kita, yang akan berujung kepada pengambilan keputusan yang impulsif yang pasti akan mempengaruhi pencapaian tujuan investasi jangka panjang kita.

4. Opportunity cost

Value investing memerlukan manajemen portofolio secara aktif dari sang investor, sehingga kita harus terus-menerus mengikuti tren dari bursa saham dan performa perusahaan-perusahaan. Bagi dokter, waktu yang akan “dikorbankan” untuk mengelola portofolio secara aktif ini bukankah akan lebih baik jika digunakan untuk konsentrasi ke praktik kedokteran, dimana kita bisa menghasilkan income dan juga melambungkan karir kita lebih maju lagi? Take this blog for an example: why is the production of articles and/or videos so slow? Because along the way, I realized that concentrating on my main job as a spine surgeon pays wayyy better than maintaining this blog, hence bringing me closer to my goal of financial independence. Keharusan untuk selalu update dengan ilmu kedokteran tentunya membuat profesi kita ini menjadi sangat demanding, sehingga strategi berinvestasi secara pasif yang tidak memerlukan monitor portofolio secara ketat tentunya akan menjadi lebih baik.

5. Butuh pengetahuan dan keahlian khusus

Untuk bisa sukses melalui value investing memerlukan pengertian yang mendalam mengenai bursa saham, prinsip-prinsip akuntansi, maupun metrik-metrik khusus untuk menilai perusahaan. There are dozens of university subjects in the faculty of economics about this. So do you think graduating as a medical doctor automatically makes you understand all that? You’re in over your head. Meskipun dokter terlihat sangat keren karena mengetahui anatomi dan fisiologi tubuh manusia, kita tidak diperlengkapi dengan keahlian yang cukup untuk bisa melakukan value investing secara efektif. You think by taking online courses about value investing every now and then will suffice? Take a look at your portfolio and think again. Think hard. Tanpa memiliki pengetahuan yang cukup, kita sebenarnya sedang mengambil risiko dengan membuat keputusan-keputusan investasi berdasarkan pengetahuan finansial yang mediocre, dan ini bisa menjadi membahayakan untuk kesehatan keuangan kita dalam jangka panjangnya.

Kesimpulan

Meskipun metode value investing bisa menjadi jalan menuju sukses untuk beberapa investor, mungkin jalan ini bukanlah jalan yang ideal untuk kita sebagai dokter, dengan mempertimbangkan profesi kita yang sangat demanding, keterbatasan waktu, dan keperluan untuk meningkatkan keahlian kita di bidang kedokteran. Sebaliknya, para dokter mungkin dapat lebih berhasil di perjalanan finansialnya jika mengadopsi strategi investasi secara pasif yang terdiversifikasi sehingga lebih sejalan dengan situasi finansial kita yang unik dan membuat kita bisa lebih fokus ke panggilan utama kita, yaitu memberikan layanan kesehatan yang berkualitas.


Apakah Anda pernah mempelajari atau bahkan sedang menjalani cara value investing?
Apa kesulitan yang Anda hadapi sebagai dokter dalam mempraktikkannya?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Image generated by GPT-4o.

www.domainesia.com

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.