Pentingnya Menuliskan Tujuan Investasi

Tujuan investasi itu harus tertulis dan spesifik

Maka itulah post ini saya beri judul “Pentingnya Menuliskan Tujuan Investasi.” Karena jika Anda memiliki tujuan investasi hanya di kepala dan tidak tertulis, sebenarnya Anda sedang berinvestasi tanpa tujuan dan sedang membohongi diri Anda sendiri.

Lihatlah seorang pelari maraton, apa yang ada di pikirannya saat memulai balapan? Garis finis.

Sehingga kita pun dalam berinvestasi memerlukan tujuan yang jelas, agar kita memiliki acuan yang membatasi kita dari keluar jalur dan berputar-putar mengerjakan hal-hal yang sebenarnya tidak berguna sama sekali dalam mencapai tujuan kita.

Mayoritas investor tidak memiliki tujuan investasi yang jelas dan tertulis

Sayangnya, mayoritas investor, dan artinya mayoritas dokter yang berinvestasi pula, tidak memiliki tujuan investasi yang jelas. Jangankan tertulis, di dalam kepalanya pun bahkan tidak ada tujuan investasi yang jelas. Seperti apa tujuan investasi yang baik akan saya jabarkan lebih dalam di bawah.

Sekarang ini sering sekali kita lihat di akun-akun para financial planner bahwa pertanyaan terpenting sebelum memulai investasi adalah: Apa tujuan investasi Anda? Seringkali kita mengganggap bahwa kita sudah memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Tapi terus terang, saat saya pertama kali ditanyakan pertanyaan tersebut, saya diam seribu bahasa dan tidak bisa menjawabnya. Dan mayoritas do-it-yourself investor pun masih dalam fase ini walau sudah bertahun-tahun terjun ke dalam dunia investasi. Mereka hanya enggan mengakuinya.

Maka itu, adalah sangat penting untuk menggali lebih dalam dan mengetahui apa yang sebenarnya menjadi tujuan anda berinvestasi.

Bagaimana cara kita mengetahui bahwa tujuan investasi kita dapat menentukan arah di dalam perjalanan kita berinvestasi?

Terarah vs tidak terarah

Mari kita mulai dengan contoh-contoh tujuan investasi yang buruk dan tidak terarah:

  • Saya ingin kaya/cuan sebanyak-banyaknya
  • Ingin punya banyak rumah/tanah agar passive income banyak untuk masa pensiun
  • Ingin bisa belanja online tanpa berpikir uang akan habis
  • Agar istri dan anak-anak bisa hidup di atas standar
  • Agar anak-anak bisa kuliah di luar negeri
  • Agar punya kekayaan 10 triliun

Mungkin Anda akan tertawa kecil membacanya, tapi percayalah bahwa kebanyakan orang (bahkan mungkin Anda sendiri) menganggap bahwa tujuan investasi itu seperti apa yang tertulis di atas.

Contoh tujuan investasi tertulis yang baik adalah sebagai berikut:

  • Memiliki dana pendidikan untuk kuliah anak pertama di Melbourne sejumlah 1,5 miliar pada tanggal 1 Januari 2035.
  • Memiliki cukup nest egg (dana pensiun) agar return/imbal hasilnya dapat menghidupi kebutuhan bulanan saya (20 juta IDR) pada saat saya berusia 60 tahun.
  • Melunasi cicilan rumah pertama saya (2 miliar IDR) 10 tahun dari sekarang.

Apa yang menjadi kriteria tujuan investasi dibilang “baik?”

Contoh-contoh tujuan investasi yang baik di atas memenuhi 2 syarat terbentuknya sebuah tujuan yang baik, yaitu ada garis finis dan memiliki target waktu pencapaian. Jika Anda adalah pembaca setia dari blog ini, maka Anda sudah mengetahui bahwa dalam berinvestasi, ada 3 hal yang terpenting, yaitu: rasio bunga, rasio tabungan dan waktu.

Maka Anda bisa mulai mengerti bahwa memiliki tujuan investasi yang baik berarti Anda dapat menghitung dengan pasti: dalam durasi investasi yang Anda rencanakan, berapa jumlah uang yang harus Anda tabung dan berapa tingkat bunga yang Anda harapkan untuk mencapai tujuan itu.

Bahkan dengan melakukan penghitungan tersebut, maka tujuan yang awalnya terkesan muluk-muluk, bisa menjadi sesuatu yang sangat bisa dicapai.

Bingung?

Saya berikan sebuah contoh kasus berikut ini.

Membuat tujuan raksasa menjadi kecil

Bilanglah saya adalah seorang dokter spesialis orthopaedi yang memiliki kebutuhan hidup 30 juta IDR setiap bulannya.

Saya memiliki tujuan investasi sebagai berikut: Memiliki dana pensiun yang cukup pada usia 55 tahun, sehingga pokok dana pensiun saya dapat saya masukkan ke instrumen investasi dengan bunga 6% per tahun dan mencukupi kebutuhan hidup saya sebanyak 30 juta IDR setiap bulannya.

Untuk memperhitungkan inflasi, bilanglah rata-rata saat ini sekitar 3,5%.

Maka berdasarkan rumus Future Value yang dapat kita hitung di Microsoft Excel atau di kalkulator investasi yang banyak disediakan web seperti di atas, maka kita dapatkan bahwa kebutuhan bulanan senilai 30 juta IDR sekarang dalam 20 tahun lagi akan menjadi kira-kira setara dengan 60 juta IDR.

Jika anggapannya di masa 20 tahun lagi masih ada opsi untuk masuk di instrumen obligasi pemerintah yang memiliki return 6% per tahun, maka dana pokok yang saya butuhkan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

(60 juta IDR x 12 bulan) / 6%

= sekitar 11 miliar IDR

Selanjutnya kita akan mencoba menghitung bagaimana cara saya merencanakan agar dapat memiliki dana sebesar 11 miliar IDR dalam waktu 20 tahun.

Lagi-lagi kita dapat menggunakan Microsoft Excel, namun daripada terlalu membingungkan untuk Anda maka kita gunakan saja kalkulator yang banyak disediakan oleh bank seperti ini:

Maka dapat kita hitung bahwa untuk dapat memiliki pokok dana investasi setara 11 miliar IDR di waktu 20 tahun mendatang, saya harus menabung sebanyak 7,3 juta IDR setiap bulannya, dan mencari instrumen investasi dengan estimasi return 15% per tahun.

Sebagai catatan, rerata return indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam 10 tahun terakhir adalah sekitar 16% (walaupun jika ditarik lebih jauh yaitu 20 tahun turun menjadi sekitar 13%).

Namun demikian, saya sudah mendapatkan gambaran umum bahwa dengan menabung sebanyak 7,3 juta IDR per bulan, dan menanamkan dana tersebut rutin setiap bulan di instrumen reksa dana indeks dengan fee rendah yang manajer investasinya bekerja secara pasif dengan hanya mencoba menyamai pergerakan indeksnya (tentunya dengan melakukan diversifikasi dan tidak menaruh seluruh uang tersebut di satu instrumen saja), kemungkinan saya dapat mencapai tujuan investasi saya dalam waktu kurang-lebih 20 tahun.

Tujuan yang awalnya terlihat raksasa (11 miliar IDR), menjadi tujuan yang relatif kecil (7,3 juta IDR per bulan).

Maka, jangan anggap remeh penulisan tujuan investasi Anda secara tertulis.

It keeps your eyes on the prize.


Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah memiliki tujuan investasi tertulis yang jelas? Atau jangan-jangan selama ini Anda menjalankan investasi tanpa tujuan?
Tinggalkan komentar atau pertanyaan di kolom di bawah atau klik ikon chat di kanan bawah.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *