Apa yang Harus Dilakukan Dokter “Sandwich Generation?”

Photo by Mae Mu on Unsplash

Apa keistimewaan “sandwich generation?”

Tentu Anda sudah pernah mendengar tentang sandwich generation, entah dari artikel bacaan, iklan ataupun media sosial. Sandwich generation atau generasi terjepit adalah generasi yang harus menanggung biaya hidup keluarga sendiri (termasuk anak-anak), namun juga harus menanggung biaya hidup orangtua yang sudah memasuki masa tidak produktif (tidak bekerja) lagi.

Memang ini merupakan suatu hal yang sangat baik dari adat ketimuran, karena dengan begini kita betul-betul menghargai orangtua kita yang sudah mendukung kita selama kita berada di usia tidak produktif (belum memiliki pendapatan). Namun, bukan berarti ini bukanlah sebuah masalah yang tidak perlu dipikirkan. Justru dengan mengetahui fakta ini maka kita dapat melakukan perencanaan yang baik.

Berikut adalah beberapa saran yang dapat dilakukan untuk para dokter yang “terjebak” (dalam tanda kutip karena memang tanggung jawab mengurus orangtua bukanlah sebuah jebakan) menjadi sandwich generation.

Hitung net worth orangtua anda

Jika Anda berasal dari keluarga yang konservatif seperti saya, maka pada awalnya akan sangat canggung dan bahkan dianggap taboo jika kita hendak membicarakan keuangan orangtua. Namun percayalah dok, hal ini wajib Anda lakukan.

Sebagai seseorang yang menyayangi orangtua Anda, Anda harus berani mencoba meyakinkan orangtua (bahkan seluruh keluarga inti) untuk duduk di meja bundar dan membicarakan posisi keuangan orangtua Anda.

Ketahui seluruh aset orangtua Anda, baik yang lancar maupun yang macet, ketahui seluruh hutang dan cicilan orangtua Anda yang belum selesai. Catat nilai-nilainya dalam rupiah sedetil mungkin. Setelah itu maka Anda dapat menghitung net worth orangtua Anda.

Net worth (posisi kekayaan) = assets (seluruh aset) – liabilities (seluruh hutang dan cicilan)

Bersyukurlah apabila net worth orangtua Anda berada pada nilai positif. Anda tinggal memikirkan di instrumen investasi mana Anda harus menyimpannya.

Yang menjadi masalah adalah apabila net worthnya berada pada nilai negatif, Anda harus mengembalikannya ke nilai 0 secepat mungkin (titik bangkrut). Karena jangan lupa, hutang yang tidak bisa diselesaikan oleh orangtua saat mereka meninggal sangat mungkin dapat “dihibahkan” ke Anda sebagai keturunan.

Persiapkan asuransi kesehatan yang baik untuk orangtua

Masalah utama yang paling sering menerpa di masa tua adalah masalah kesehatan (well, most likely Anda adalah seorang dokter, sudah pasti fasih mengenai hal ini).

Mengapa asuransi kesehatan? Karena jika tidak memiliki perlindungan untuk hal ini, maka jika orangtua Anda terkena penyakit yang membutuhkan biaya tindakan/perawatan mahal, Anda/orangtua Anda harus merogoh ke dana pensiun orangtua, atau bahkan dari tabungan Anda sekarang.

Pelajari baik-baik polis asuransi kesehatan yang Anda pilih: penyakit-penyakit apa saja yang tertanggung, Rumah Sakit apa saja yang jadi mitra, di negara mana saja asuransi ini bisa digunakan. berapa maksimal pertanggungan setiap tahun, dsb.

Bagi pembaca blog setia, tentu tidak perlu saya tekankan lagi hal berikut ini. Namun untuk pembaca baru: pilihlah asuransi kesehatan murni, yang tidak dikombinasikan dengan investasi.

Jika Anda dan adik terkecil Anda sudah memiliki pendapatan tetap, maka sudah waktunya menutup asuransi jiwa orangtua Anda. Karena memang asuransi jiwa sudah tidak dibutuhkan lagi apabila tanggungan orangtua (anak-anak) sudah mampu menghidupi dirinya sendiri. Jika tidak, premi asuransi jiwa tersebut akan menjadi semakin mahal seiring dengan usia tua dan menjadi pengeluaran yang tidak perlu. Tentu Anda tidak mau kan, mempertahankan asuransi jiwa dan bersusah payah membayar biaya tersebut hanya supaya Anda mendapat sejumlah uang saat orangtua Anda meninggal dunia? Didn’t think so.

Periksa apakah orangtua memiliki dana pensiun pemerintah

Untuk dokter millenials yang memiliki orangtua yang bekerja sebagai PNS, berarti orangtua Anda seharusnya memiliki program dana pensiun pemerintah seperti Jamsostek (yang sekarang berubah nama menjadi BPJamsostek atau BPJS Ketenagakerjaan). Cari tahu mengenai hal ini ke orangtua Anda, karena hal ini kadang dilupakan oleh orangtua kita, padahal gaji mereka selama ini sudah dipotong sebagian kecil oleh pemerintah.

Sebagai ilustrasi, ibu saya saat pensiun sebagai PNS struktural mendapatkan TASPEN sebesar 20 juta rupiah (1x diberikan) dan mendapat uang pensiun sekitar 3 juta rupiah per bulannya. Tidak buruk sama sekali kan? Jadi jangan sampai hal ini terlewatkan.

Taruh dana pensiun di instrumen obligasi

Bagi yang belum paham apa itu obligasi, bisa baca dulu pengertiannya di sini.

Jikalau Anda beruntung dan orangtua Anda saat ini memiliki tabungan, dan Anda berpikir untuk mencoba menginvestasikan dana tersebut, bagi orangtua Anda yang sudah berumur 60 tahun ke atas, sudah bukan saatnya untuk berinvestasi di instrumen yang memiliki risiko tinggi.

Investasi berupa surat berharga resmi dari pemerintah ini memiliki beberapa tipe seperti Surat Berharga Ritel (SBR), Sukuk Ritel (SR), Sukuk Tabungan (ST) serta Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang tentunya memiliki syarat dan ketentuan yang berbeda-beda pula. Angka di belakang singkatan instrumen tersebut merupakan kode yang menandakan kali keberapa surat berharga tersebut sudah diterbitkan oleh negara Republik Indonesia. Berdasarkan surat-surat berharga yang sudah diterbitkan sebelumnya, imbal hasilnya sekitar 7-8% per tahun (sedikit di atas bunga deposito).

Berikut adalah jadwal penerbitan instrumen surat berharga tersebut di tahun 2020:

  • 27 Januari: SBR009 (Update 4/2/2020: return 6.3% gross)
  • 24 Februari: SR012
  • 23 Juni: SBR010
  • 28 Agustus: ST007
  • 1 Oktober: ORI017
  • 26 Oktober: ST008

Pembelian surat berharga negara ini pun sekarang menjadi sangat mudah karena dapat dilakukan secara online, baik melalui perbankan, broker, maupun fintech tertentu yang sudah menjadi mitra resmi.

Selain baik karena aman untuk investasi, jangan lupakan bahwa surat berharga negara ini berarti kita mendukung perekonomian negara kita, karena selalu lebih baik untuk negara berhutang kepada masyarakatnya dibandingkan ke pihak/negara lain.


Jadi bagaimana dengan Anda dan orangtua Anda?
Apakah sudah pernah mendiskusikan hal ini?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

2 thoughts on “Apa yang Harus Dilakukan Dokter “Sandwich Generation?””

  1. Lagi-lagi terkesima sama insight dokter, soalnya selalu bikin terus tilik diri bagaimana dengan saya (dan keluarga)? Keep up the awesome work, i must say!

    Reply

Leave a Comment