7 Penyebab Kebangkrutan Anda

We buy things we don’t need, with money we don’t have, to impress the people we don’t like.

ROBERT QUILLEN

1. The Latte Factor

Sebuah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh David Bach, yang menulis buku dengan judul yang sama, mengangkat fakta kecil yang hampir pasti terlewatkan oleh banyak orang: kebiasaan anda membeli secangkir kopi bisa menjadi penyebab utama anda sulit mencapai kekayaan yang anda inginkan.

Pada bulan Januari 2020, harga secangkir caffe latte di gerai kopi terkenal yang berwarna hijau itu untuk ukuran tall adalah 42.000 rupiah.

Bilanglah dalam seminggu anda membeli kopi tersebut 3x.

42.000 x 3 = 126.000

Dalam sebulan:

126.000 x 4 = 504.000

Apabila anda konsisten menginvestasikan sejumlah tersebut setiap bulan, selama 20 tahun, di dalam instrumen investasi konservatif yang “hanya” punya return 6% per tahun, maka berdasarkan rumus compound interest, berapa kira-kira total dana yang akan anda sudah simpan? Coba tebak.

.

.

.

.

.

232.868.611

DUA RATUS TIGA PULUH DUA JUTA DELAPAN RATUS ENAM PULUH DELAPAN RIBU ENAM RATUS SEBELAS RUPIAH!

Still want to post that coffee cup picture on Instagram with “Happiness in a cup” caption?

2. The Aqua Factor

Untuk yang ini kurang-lebih sama dengan yang di atas, kalau anda punya kebiasaan membeli air mineral dan tidak bawa botol minum saja dari rumah.

Dan percayalah saya juga dulu orang yang paling sentimen dengan orang yang bawa botol minum dari rumah, saya anggap dulu mereka senang membuat hidup mereka menjadi lebih susah dengan bawa-bawa botol minum.

Until I see the numbers. Karena mirip dengan latte factor di atas, kita hitung lagi ya.

Sebotol air mineral biasanya dihargai sekitar 4.500.

Anda beli tiap hari 1 karena malas bawa botol, maka dalam sebulan yang anda bisa tabung:

4.500 x 30 = 135.000

Dengan bunga 6% per tahun, ditabung selama 20 tahun, setelah compound interest bekerja:

62.375.520

Silakan ke dapur, pilih botol, rebus air dulu, supaya besok bisa bawa air minum bersih dari rumah.

3. The Lunch Box Factor

Iya betul dok, yang saya maksud bawa bekal ke tempat kerja.

Lagi-lagi saya dulu tukang meledek teman yang sudah kuliah masih bawa bekal, karena menurut saya mereka pelit sekali untuk makan saja tidak mau keluar uang di kantin.

Tapi perhitungannya saya kira sudah tidak usah dihitung lagi. Jelas sekali makan siang beli di luar untuk dokter spesialis pasti dalam sekali duduk yang harus dibayar lebih dari 50.000.

Sudah ada gambaran kan, kira-kira berapa yang bisa anda dapatkan dari bawa bekal dalam 20 tahun?

Mungkin teman SD saya yang selalu bawa bekal dulu sedang menertawai saya dari balkon lantai 3 rumahnya.

4. The Car Factor

Sambil menulis ini, saya bersiap-siap menerima komentar di kolom di bawah karena dimarahi para dokter spesialis yang punya hobi otomotif. But bear with me just a little bit, and try to find it in your heart to forgive me for writing this.

Saya juga dulu adalah orang yang sangat spesifik mengenai mobil. Saya mengalami zaman anak SMA modifikasi mobil sana-sini, hanya untuk mendapat kenyataan pahit bahwa mobil kalau dijual dalam keadaan tidak sesuai standar pabrik harganya akan berkurang cukup signifikan.

Saya pun pernah salah mengerti bahwa mobil itu personal, sehingga yang baiknya kita miliki adalah mobil baru atau first-hand. Apakah artinya anda harus selalu membeli mobil second? Jawabannya adalah ya, jika memungkinkan. Mengapa harus pelit sekali begini sih untuk urusan mobil yang untuk kenyamanan kita bekerja juga?

Cobalah untuk memahami, bahwa suka atau tidak suka, mobil (yang anda pakai untuk keperluan pribadi) adalah sebuah depreciating asset atau aset yang nilainya terus berkurang sejak detik anda pertama kali menyetirnya. Bahkan ekstrimnya begini: jika anda baru beli mobil di dealer, keluar dari gedung showroom dan anda parkir di halaman depan dealer tersebut, jika anda mau menjualnya kembali, harganya sudah turun.

Jadi, anda sedang membohongi diri anda sendiri jika berpikir mobil yang anda gunakan untuk menuju tempat kerja adalah sebuah aset. Seluruh investor sukses yang bukunya saya baca bahkan tidak pernah mencantumkan mobil pribadi sebagai aset mereka, karena mereka tahu bahwa mobil itu adalah aset konsumtif: bukan hanya nilainya menurun terus, tapi anda jadi banyak pengeluaran tambahan karena mobil tersebut (parkir, bensin, tol, perawatan bengkel, dll).

Tujuan punya mobil adalah untuk memudahkan anda bepergian dari suatu tempat ke tempat yang lain. Bukan sekedar untuk “kenyamanan” berkendara, bukan untuk dijadikan aset apalagi untuk jadi alasan agar anda “dilihat orang.”

Jika anda malu turun mobil sebagai dokter spesialis tapi mobilnya bobrok, tinggal pilih parkiran yang agak jauh atau di belakang RS, lalu jalan kaki ke pintu depan menggunakan baju rapi menggunakan jas putih.

5. The Online Shop Factor

Kalau yang ini saya kira valid untuk semua orang. Saya pun pernah terjerumus di dalamnya. Apalagi kalau orangtua anda seperti orangtua saya dari generasi baby boomers, bersiaplah terima paket setiap hari.

Memang berkembangnya online shopping ini sangat memudahkan kita sebagai konsumen, tetapi di satu sisi jahatnya, kemudahan ini sangat merusak behavioral finance atau aspek psikologi keuangan kita. Hanya karena premis “kemudahan berbelanja,” “one-click shop,” “gratis ongkir” dan “cashback” tanpa kita sadari hidup kita jadi terlalu konsumtif.

Kadang bahkan pengeluaran ini tidak tercatat. Karena anda bingung: uangnya sudah lebih dulu berubah jadi uang digital, sehingga pencatatan pengeluaran anda langsung kacau.

Atau bahkan, selama ini anda belum mencatat pengeluaran sama sekali.

Jadikan online shopping ini hanya untuk kemudahan saat anda membutuhkan suatu barang, bukan untuk kemudian dibrowsing setiap hari dan mencari “Apa lagi kira-kira yang saya butuhkan untuk rumah saya.” Setiap kali mau membeli sesuatu online, tanya kembali diri saya: ini saya butuh, atau sebenarnya hanya ingin?

Kalau setiap kali sedang tidak ada kerjaan langsung otomatisasi buka aplikasi online shopping, baiknya uninstall saja dulu aplikasinya.

6. The Furniture Factor

Ya, betul dok, terutama toko furniture yang terkenal murah dan menggunakan warna biru-kuning yang mirip Dissecting Money itu. Saya bukan menjelek-jelekkan, justru sebaliknya karena saya sangat menggemarinya, maka saya share ini sebagai salah satu faktor yang seringkali membuat kita banyak pengeluaran yang tidak perlu.

Hal utama yang paling sering membuat kita mau beli furniture baru adalah “sudah bosan dengan yang ini.” Padahal, mungkin furniture tersebut masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Anda hanya bosan dengan tampilannya, padahal dulu saat anda memajangnya anda sangat suka dengan tampilannya. Jadi, apakah “bosan” adalah alasan yang cukup untuk gonta-ganti furniture? Saya kira tidak.

Belum lagi jika anda sudah berbicara dengan petugas tokonya, ternyata ada cicilan 0%. Sangat menggiurkan, bukan? Membuat kita berpikir bahwa sepertinya dengan cicilan bulanan sekian kita masih bisa membelinya. Tanpa kita sadari kita sudah “merampok” uang bulanan diri kita sendiri di masa depan dan mengurangi kemampuan investasi kita.

Apalagi kalau sudah terlanjur pergi ke toko furniture dan membeli barang yang kita inginkan, kita lalu langsung mulai berpikir: “Barang apalagi ya yang saya perlu ganti di rumah?” Dan biasanya ini yang lebih membahayakan. Berangkat dengan niat membeli 1 barang, pulang dengan membeli 5 barang plus pernak-pernik.

If the thing’s still doing what it’s supposed to do, you don’t need a new one.

7. The Flagship Factor

Beberapa hari yang lalu baru saja saya mengemukakan ini di Twitter.

Siapapun yang mengatakan kepada anda bahwa anda membutuhkan handphone flagship, adalah orang yang bodoh.

Mungkin kedengaran ekstrim. But come on! Harga HP flagship itu 12 juta, bahkan lebih! Sementara banyak HP yang dapat melakukan hal yang (menurut saya) tidak jauh berbeda dengan harga < 5 juta. Sure, beberapa orang yang merupakan public figure, influencer atau beauty blogger mungkin memerlukan performa HP flagship agar dapat membuat konten yang “menjual.” Memang ceritanya berbeda apabila anda dapat menggunakan HP flagship tersebut untuk menghasilkan uang. But even then, I still think that the quality of the content is still wayyy above the quality of the photos and videos.

Untuk seorang dokter spesialis orthopaedi seperti saya, yang hanya butuh foto x-ray, foto klinis, foto dan video keluarga dan sisanya untuk media sosial (bahkan untuk mengurus seluruh aspek Dissecting Money), HP seharga 3 juta works perfectly for my everyday use.

Jika alasan anda membeli karena “toh bisa dicicil,” baca lagi alasan kenapa saya sangat anti cicilan di poin nomor 6.

So I don’t think most docs actually need a flagship phone. They just have a chronic need to impress others.


Bagaimana dengan anda? Apakah masih terjebak dalam salah satu jebakan di atas? Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

8 comments

  • hendar

    yes exactly,, namun sukar menhilangkan total kebiasaan ini , selama masi bersosialisasi sehingga menimbulkan sindrom FOMO ” fear of missing out” . di era media sosial , semoga saja dengan mengikuti konten dissecting money , pelan pelan bisa lepas dari sindrom.

  • Anggoro

    Mantab bro jeph atas ulasannya, setuju sekali dengan semua tulisan diatas…
    Diet dan pola malan juga berpengaruh, dulu saya beli kopi logo ijo sehari dua-tiga kali, dan makan siang di mall atau resto… semenjak diet untuk menurunkan BB, saya cukup bawa air putih di tupperware (isi ulang di dispenser poli atau OK) dan potongan buah dalam tupperware, saya bisa menghemat 300-400ribu sehari..
    Untuk mobil cukup pakai mobil yang nyaman dan bisa angkut seluruh keluarga (saya, istri, anak dua dan baby sitter)..saya pakai merk toy*ta kijang..bodo amat ama TS yg pake mobil logo bintang atau buletan putih biru..
    Furniture pake yg bagusan, biar awet, btw merk swedia itu malah baru buka cabang tepat di depan komplek saya, tinggal jalan kaki juga sampai

    • Mudah2an kuat dok Anggoro tinggal berseberangan sama Swedish Meatballs 🙈

      300-400 rb sehari!!! Wahhh kalau jadi emiten saham atau unit reksa dana selama 10 tahun, jadi berapa tuhhh 🤑🤑🤑

  • naenda stasya

    Setuju banget dok,, pengeluaran besar saya adalah jajan di gofood, kapan kepikiran bisa lgsg pesan,, terutama pas jaga,, ternyata minuman boba, kopi dan cemilan kecil perbulan kl dikumpulin bs beli logam mulia 3 gram , setahun bs jd 36 gram😱

    lumayaan bgt..

  • Elies

    Dokter ini benerr smeua, sy masih suka minder, tapi suami sy yg sll ingetin.hp saya android, protes pgn pake iphone tp dikandhaninsm suami.sy juga biasanya suka bawa bekal. Hanya lg hamil suka jajan d luar.tp suami protes jgn go shop muluk.trs mobil sy jg beli second itupun dl secondnya jelek bener, yg skrg udah mending tp pake perjuangan,di ejek pernah, di bully pernah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *