One Year of Dissecting Money

Tidak terasa sudah satu tahun sejak saya mengalahkan rasa keraguan di dalam hati dan meluncurkan blog ini dengan bermodalkan skills yang “hanya” saya dapatkan dari menonton video-video tutorial di YouTube dan membaca blog-blog mengenai bagaimana cara membangun sebuah blog.

It’s been an awesome year, even more so because the COVID-19 pandemic makes talking and writing about finance a lot more interesting.

Manajemen Keuangan Residen

First and foremost, jangan beranggapan bahwa saya adalah seseorang yang berhasil melakukan manajemen keuangan dengan baik semasa residen. Teman-teman yang dekat dengan saya pasti mengetahui bahwa saya bukanlah orang yang paling bijak perihal keuangan di masa-masa itu. Namun justru karena menapak tilas masa-masa itu dengan kacamata finance yang saya miliki sekarang maka saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk “memperingatkan” sejawat yang masih menjalani masa residen/PPDS.

Kesalahan Terbesar Dokter Spesialis

Belum lagi ketika melihat gaya hidup/lifestyle dari para dokter spesialis yang membuat kita menginginkan kehidupan semacam itu di kemudian hari: mobil mewah yang punya spot parkir khusus di depan lobi, iPhone (bisa lebih dari satu), tablet, atau laptop jenis terbaru, tas branded, dsb.

Dan kemudian kita pun berpikir:

They must be doing really well money-wise, right?

7 Penyebab Kebangkrutan Anda

Kalau yang ini saya kira valid untuk semua orang. Saya pun pernah terjerumus di dalamnya. Apalagi kalau orangtua anda seperti orangtua saya dari generasi baby boomers, bersiaplah terima paket setiap hari.

Memang berkembangnya online shopping ini sangat memudahkan kita sebagai konsumen, tetapi di satu sisi jahatnya, kemudahan ini sangat merusak behavioral finance atau aspek psikologi keuangan kita. Hanya karena premis “kemudahan berbelanja,” “one-click shop,” “gratis ongkir” dan “cashback” tanpa kita sadari hidup kita jadi terlalu konsumtif.