Cara Menghindari Inflasi Gaya Hidup

Jurang pertama seorang dokter

Tantangan terbesar yang akan dilewati oleh seorang dokter (yang seringkali membuat kita tersandung) adalah jurang gaya hidup. Seperti dunia perekonomian yang memiliki inflasi, maka musuh terberat seorang dokter adalah inflasi gaya hidup. 

Apa itu inflasi gaya hidup?

Inflasi gaya hidup adalah momen dimana seorang dokter mengalami perubahan drastis dari hidup “melarat” ke memiliki gaji yang terbilang tinggi. Biasanya di sini banyak sejawat yang akan protes dan berpendapat bahwa “gaji dokter tidak sebegitu tingginya kok,” atau “ah itu kan hanya berlaku untuk dokter spesialis,” dan lain sebagainya. Menurut saya mereka yang berpendapat demikian justru mereka yang sedang terjebak di dalam jurang ini tetapi sayangnya tidak menyadarinya.

Di artikel sebelumnya, saya sudah menyampaikan bahwa cara untuk menghindari inflasi gaya hidup ini adalah dengan memiliki gaya hidup frugal

Lalu di sini pun juga pasti banyak yang berpendapat “untuk apa kita banting tulang jika tidak untuk dinikmati, bla bla bla..” 

Artikel ini akan menjelaskan mengapa sebenarnya kita pun tidak perlu seekstrim itu.

Let me show you how you can actually enjoy (some) of your hard-earned money.

The 10% Rule

Jimmy Turner, MD di dalam blognya yang bertajuk “The Physician Philosopher” menciptakan sebuah konsep yang dikenal dengan “the 10% rule” yang menurut saya sangat bijaksana. For your information, beliau memiliki ketertarikan khusus di bidang finance justru karena pernah mengalami burnout (kelelahan mental dan fisik yang berkepanjangan karena pekerjaan) sebagai seorang dokter yang berpraktik. Jadi jika ada seorang dokter/physician finance blogger yang layak untuk bicara mengenai bagaimana cara menikmati uang hasil kerja kita, I think he’d be the one.

The 10% rule yang beliau ungkapkan berbunyi demikian:

Untuk setiap kenaikan gaji, bonus atau pendapatan tambahan yang tidak kita sangka-sangka: 10% boleh digunakan untuk inflasi gaya hidup dan sisa 90%-nya untuk membangun kekayaan.

Beberapa contoh penggunaan 10% rule ini:

  • Jika gaji saya mengalami kenaikan dari 30 juta IDR ke 50 juta IDR (kenaikan 20 juta IDR), maka saya bisa menikmati 10% dari 20 juta IDR = 2 juta IDR untuk saya belanjakan hal apapun yang saya mau. Sisanya (18 juta IDR) saya masukkan ke dalam portofolio investasi saya untuk membangun kekayaan.
  • Jika saya mendapat bonus hari raya sebesar 1 bulan gaji (bilanglah 30 juta IDR), maka saya bisa membelanjakan 3 juta IDR dari uang tersebut, dan sisanya untuk membangun kekayaan.
  • Apabila jumlah gaji saya mengalami pelonjakan bermakna karena jumlah pasien yang banyak dan jumlah operasi yang bertambah signifikan, misalnya bertambah sejumlah 50 juta IDR, maka saya dapat berfoya-foya dengan uang 5 juta IDR, dan sisanya masuk ke portfolio investasi.

Ha? Hanya segitu yang dapat dinikmati?

Well I don’t expect you to understand this fully on your first time reading this, karena menurut saya yang bisa melihat seberapa pentingnya 10% rule ini hanya mereka yang betul-betul sudah mempraktikkan budgeting dan gaya hidup frugal.

Pengaturan 10% rule ini akan membuat Anda dapat menikmati kenaikan gaji ataupun penambahan income dengan cara yang “biasa-biasa saja.”

Hence, avoiding lifestyle inflation.

See the bigger picture

Mungkin Anda akan berpikir di titik ini “menyedihkan sekali hidup saya jika saat naik gaji/dapat bonus pun saya hanya bisa menikmati sepersepuluhnya.”

To which I’ll say: not exactly.

You just don’t see the bigger picture.

Jika Anda betul-betul mengerti konsep “time value of money” di dunia finance, maka Anda akan dapat melihat gambaran besarnya, bahwa:

  • Uang 5 ribu IDR hari ini memiliki nilai yang lebih besar dari uang 5 ribu IDR di tahun depan.
  • Setiap sen uang yang Anda miliki di hari ini adalah pekerja-pekerja yang dapat mencari uang lagi untuk Anda (baca: jika diinvestasikan).
  • Sebaliknya, setiap sen uang yang Anda belikan barang/jasa di hari ini, adalah pekerja-pekerja yang “pindah” menjadi pekerja untuk orang lain.

CATATAN: semua uang tersebut diinvestasikan dan memiliki imbal hasil, bukan hanya mendekam di rekening tabungan.

Untuk mempermudah konsep ini agar Anda lebih mudeng, bisa dibilang bahwa:

  • Setiap pesanan McD yang saya batalkan hari ini dan uangnya saya investasikan, bisa menjadi uang makan 1 minggu untuk keluarga saya 10 tahun lagi.
  • Setiap sepeda Brompton yang tidak saya beli, bisa menjadi uang tunai untuk membeli mobil bekas saat anak terbesar saya masuk kuliah 15 tahun lagi.
  • Setiap mobil Fortuner yang tidak saya paksakan untuk beli (karena mobil saya masih bisa menggelinding), bisa berarti di hari tua saya dan istri saya bisa memiliki sebuah mobil Avanza dan seorang sopir yang siap sedia mengantar kami ke mana-mana.
  • Segelas jus limun yang tidak saya pesan hari ini, bisa menjadi beberapa gelas jus limun untuk saya mentraktir teman-teman pensiunan dokter di sebuah beach cafe di Bali suatu hari kelak saat saya berusia 95 tahun tanpa perlu minta uang dari anak-anak saya.

So, don’t ever forget this simple, yet deep, statement:

Uang yang Anda miliki hari ini bukan hanya untuk hari ini.


Bagaimana dengan Anda?
Apakah Anda masih sering tergoda untuk menaikkan standar gaya hidup?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

 

12 thoughts on “Cara Menghindari Inflasi Gaya Hidup”

  1. Mengesankan … seperti yang sudah sudah, role model buat selalu merasa yakin dan bersyukur dgn apa yg kita punya .. serta cermat mengukur

    Reply
  2. “Uang 5 ribu IDR hari ini memiliki nilai yang lebih besar dari uang 5 ribu IDR di tahun depan”

    Dok maaf, kalau berkenan boleh dijelaskan lagi kalimat ini. Makasih

    Reply
    • Itu prinsip dasar inflasi:

      Uang hari ini akan selalu memiliki nilai yang lebih besar dari besok (dan seterusnya). Kenapa? Karena uang hari ini bisa diinvestasikan dan memiliki imbal hasil sehingga nilainya bertambah. Secara bersamaan, harga barang dan jasa akan selalu meningkat (inflasi) dalam jangka panjangnya.

      Mudah2an cukup menjelaskan.

      Reply

Leave a Comment