One Year of Dissecting Money

Be patient. It takes 10 years to build a career in anything.

Naval Ravikant
 

Hitting the one-year mark

Tidak terasa sudah satu tahun sejak saya mengalahkan rasa keraguan di dalam hati dan meluncurkan blog ini dengan bermodalkan skills yang “hanya” saya dapatkan dari menonton video-video tutorial di YouTube dan membaca blog-blog mengenai bagaimana cara membangun sebuah blog.

It’s been an awesome year, even more so because the COVID-19 pandemic makes talking and writing about finance a lot more interesting.

Maka pada artikel kali ini saya ingin memberikan update kepada pembaca sekalian mengenai apa saja yang sudah saya dapatkan dan saya alami dari membuat (dan memelihara) sebuah blog sejak tanggal 1 November 2019. Saya juga akan memberikan update mengenai personal finance saya kepada pembaca sekalian.

Regarding the blog

Mailing list

Genap setahun sejak saya memberanikan diri untuk menunjukkan blog ini kepada 100 kontak dari handphone saya dan meminta alamat e-mail mereka untuk dijadikan subscribers paling awal untuk blog ini. Ternyata strategi ini terbukti betul-betul membantu mendatangkan traffic ke blog ini, walaupun perlahan. Saat ini saya sudah memiliki 1010 kontak, 986 masih menjadi subscribers dan sisanya 24 unsubscribers. Might seem like a small number, but it really means so much to me, so thanks to you all who trusted me with your e-mail addresses.

Satu hal penting bagi Anda yang juga tertarik untuk membuat blog sendiri: start getting your e-mail list as early as possible. Akun media sosial bisa saja suatu hari di-hack atau banned, dan Anda harus memulainya kembali dari awal. Dengan memiliki sebuah mailing list, Anda memiliki suatu list yang berisi target market yang akan lebih bertahan lama daripada sekedar followers di media sosial.

Media sosial

Salah satu hal yang langsung saya lakukan setelah meluncurkan blog ini adalah mengamankan username untuk ketiga platform raksasa media sosial: Twitter, Instagram dan TikTok. Saya masih mengutamakan penggunaan ketiganya untuk mengarahkan traffic ke blog ini. Partly karena menurut saya social media gets too addictive. Pada hari dimana saya aktif berinteraksi di Instagram dan Twitter, biasanya screen time saya di hari tersebut bisa mencapai 7 jam. I don’t think I want that in my life.

Saya masih percaya bahwa the way to go is not to start with the social media platform, but start with a blog, and social media engagement will follow.

Lucunya, beberapa finance blogger di Indonesia yang blog-nya cukup terkenal justru pada akhirnya meninggalkan blogging dan beralih full-time ke Instagram. Kemungkinan besar karena affiliate marketing (baca: duit) yang lebih mudah dicapai melalui Instagram dibandingkan platform lainnya.

At this point, I really don’t care about the money, I just want to share what I’m learning with you guys. Apakah suatu hari saya akan beralih juga demi affiliate marketing? Who knows.

Awalnya followers saya yang paling cepat bertumbuh di media sosial adalah di Twitter, sebelum akhirnya sekarang tersusul oleh Instagram. Saya sendiri tidak terlalu senang dengan Instagram karena sangat sulit untuk mengarahkan traffic ke blog ini (Instagram tidak mengizinkan untuk posting link selain di profile Anda).

They want you to stay on Instagram until you depress yourself out.

Podcast

Kalau blog ini dimulai pada 1 November 2019, maka podcast Dissecting Money dimulai pada bulan Januari 2020. Sebuah peristiwa yang cukup life-changing untuk saya, karena saya berhasil mengalahkan rasa ketakutan dan keraguan karena tidak memiliki kemampuan audio-editing sama sekali, apalagi mengenai hosting podcast dan lain sebagainya. Hanya dengan modal membeli Blue Yeti USB Mic (yang akhirnya saya ganti dengan Audio Technica ATR 2100x USB Mic setelah beberapa bulan), saya memberanikan diri untuk merekam 5 episode podcast dan meluncurkannya di beberapa platform podcast.

Hingga saat ini saya sudah meluncurkan 27 episode podcast, dengan 28.600 total plays, dan 394 estimated audience. Mayoritas (90%) mendengarkannya melalui Spotify dan kelompok umur pendengar didominasi oleh mereka yang berusia 23-27 tahun (46%), which makes me really happy, because it really is the optimal age to start the gain on financial literacy.

Just for your information, editing podcast adalah hal yang paling memakan waktu lama (minimal 1 jam), sehingga belakangan ini saya cukup kesulitan untuk mengatur waktunya dan jadwal peluncuran episode baru pun terundur terus. Sorry for the delay, loyal listeners! Mudah-mudahan saya dapat menemukan strategi pengaturan waktu terbaik agar lebih efisien dalam hal ini.

YouTube channel

Untuk hal yang satu ini bahkan saya lebih nekat lagi, karena saya sama sekali tidak memiliki perangkat yang adekuat untuk membuat vlog dengan kualitas video yang baik, tetapi memang saya sangat menyenangi format video untuk berbagi beberapa pola pikir yang terlalu pendek untuk dijadikan sebuah episode podcast. For your information, yang saya gunakan untuk vlog hanyalah sebuah mirrorless camera Sony RX100 keluaran pertama pemberian mentor saya pada saat saya masih bekerja sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit tahun 2013.

Lagi-lagi, kemampuan video editing saya yang sangat sederhana pun saya dapatkan hanya dari 1-2 jam menonton video tutorial di YouTube.

So I really think that in the beginning, having all the right equipment really don’t matter that much. You just have to be confident that what you want to share will be of value to others.

Dari segi editing, mengedit vlog tidak memakan waktu lama, tetapi karena laptop saya merupakan laptop lama dan sebenarnya tidak didesain untuk kerja berat (Macbook Air keluaran tahun 2011), maka yang paling memakan waktu lama adalah saat video rendering setelah selesai editing, yang dapat memakan waktu 30 menit sampai 1 jam sendiri (dan kipas pendingin laptop saya pun berputar seperti mau meledak).

Regarding our own personal finance

Dana darurat

Saya sangat tertolong dalam hal dana darurat, karena sebelum saya memiliki literasi keuangan yang cukup, istri saya insisted untuk tidak menghabiskan angpao pernikahan kami untuk berfoya-foya. Kami hanya menghabiskan sebagian kecil untuk honeymoon di Bali, dan sisanya diinvestasikan (waktu itu) di surat utang sebuah perusahaan dengan return 10% p.a.

Jadi lump sum dari angpao pernikahan ini (yang diizinkan oleh orang tua kami untuk kami simpan) menjadi leverage untuk kami sehingga saya dan istri saya tidak perlu mengumpulkan lagi dana darurat di awal-awal kami mendapat penghasilan setelah lulus pendidikan dokter spesialis dan dapat langsung konsentrasi mengurus asuransi dan berinvestasi.

Saat ini kami memiliki dana darurat standby sejumlah 10 kali pengeluaran rutin bulanan.

Asuransi

Pada saat saya berangkat dalam perjalanan finansial saya, untungnya saat menjalani pendidikan dokter spesialis kami sebagai residen sudah diharuskan untuk memiliki BPJS Kesehatan. Sehingga paling tidak saat saya mulai memiliki pendapatan tetap, saya sudah memiliki asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga saya (karena mengurus BPJS otomatis artinya mengurus seluruh anggota dalam satu kartu keluarga).

Yang pertama kali saya urus setelahnya adalah asuransi jiwa untuk saya sebagai pencari nafkah utama, agar keluarga saya dapat bertahan hidup apabila terjadi apa-apa terhadap saya. Saya memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa berjangka dengan jangka 20 tahun, dengan asumsi bahwa 20 tahun dari sekarang kedua anak saya kemungkinan akan sudah selesai kuliah, sehingga saya tidak lagi membutuhkan proteksi asuransi jiwa. Uang pertanggungan sudah saya hitung sedemikian rupa agar jika uang pertanggungan tersebut keluar, istri saya tinggal memasukkannya ke instrumen obligasi pemerintah dengan return 6% per tahun, dan mereka sudah dapat hidup dari return itu setiap bulannya, tanpa perlu melakukan apa-apa.

Pada saat pendapatan saya bertambah perlahan karena praktik mulai berjalan dan jumlah pasien bertambah, saya melakukan perhitungan lagi dan ternyata berdasarkan budgeting bulanan, sudah memungkinkan untuk saya meluangkan uang untuk membayar premi asuransi kesehatan murni (swasta) tahunan. Sehingga saat ini saya pribadi sudah memiliki asuransi kesehatan murni (swasta) juga di samping BPJS. Istri saya sudah memiliki asuransi kesehatan unitlink (termasuk rider untuk anak-anak) yang sudah cukup lama dimiliki, sehingga untuk saat ini masih kami lanjutkan.

Untuk asuransi profesi, saya juga sudah memiliki asuransi profesi (murni, bukan unitlink) yang sudah aktif sejak bulan ke-3 saya bekerja di rumah sakit (RS). Kebijakan dari RS tempat saya bekerja adalah premi asuransi profesi ditanggung oleh RS selama memenuhi kewajiban jam praktik tertentu setiap minggunya, atau pendapatan setiap bulannya melebihi nominal tertentu.

All in all, dari segi fondasi berinvestasi: dana darurat dan asuransi sudah terpenuhi, sehingga saya dapat dengan nyaman melanjutkan dengan investasi dengan metode zero-based budgeting (baca: saya mengetahui setiap sen dari uang saya setiap bulan pergi ke mana).

Rasio tabungan

Genap setahun sejak saya memiliki pendapatan tetap, rasio tabungan saya cukup bervariasi. Detil budgeting saya selama setahun ini dapat dilihat pada bar chart di bawah ini:

Tentunya semua dokter yang berpraktik bisa memahami mengapa banyak sekali pergerakan di dalam persentase budgeting saya, yaitu karena jumlah total pendapatan yang cenderung tidak tetap. Namun dapat dilihat dari bar chart ini bahwa rasio tabungan saya berhasil saya pertahankan selalu di atas 20%, dengan rasio tabungan tertinggi di nilai 68% pada bulan September 2020. Pengeluaran untuk kebutuhan sempat melebihi 50% di bulan Desember 2019 dan Januari 2020 karena ini merupakan 3 bulan pertama saya melakukan budgeting rutin dan masih banyak penyesuaian. Begitu juga di bulan April dan Mei 2020 karena terdampak penurunan jumlah pasien karena pandemi. Selain daripada bulan-bulan tersebut, pengeluaran untuk kebutuhan tidak pernah melebihi 50%.

Perhatikan bahwa untuk bar “keinginan” tidak pernah mengalami pembengkakan berarti, yang berubah secara signifikan hanya bar “tabungan” dan “kebutuhan.” Saya tidak pernah mengeluarkan lebih dari 2,7 juta IDR untuk “keinginan” setiap bulan selama setahun ini. Do live frugally, docs.

This is the beauty of budgeting. You are actually in control of what you’re spending.

Bagi yang belum paham bagaimana melakukan budgeting dengan Microsoft Excel, dapat subscribe untuk mailing list di kolom sebelah kanan dan akan saya kirimkan video tutorial budgeting sederhana menggunakan Microsoft Excel.

Investasi

Untuk investasi, sudah banyak yang menanyakan mengenai portofolio saya, dan saat ini saya dalam posisi 90% di saham dan 10% di obligasi pemerintah, dengan komposisi sebagai berikut:

  • 45% di reksa dana saham indeks A
  • 45% di reksa dana saham indeks B
  • 10% di reksa dana obligasi (pemerintah)

Hingga saat artikel ini ditulis, return portofolio saya 1,28%. Walaupun terlihat sebagai return yang sangat kecil, tetapi sangat menyenangkan untuk saya melihat bahwa portofolio saya masih bisa memberikan return positif di masa-masa krisis seperti ini. I’m so excited to see what’s going to happen in the next 5 years.

Pendapatan dari blog

Terakhir, saya ingin menginformasikan kepada sejawat sekalian berapa banyak uang yang saya hasilkan dari Dissecting Money sejak membuat blog ini (realized dan unrealized).

  • Google AdSense: 325.848 IDR (belum bisa dibayarkan karena harus mencapai 1,5 juta IDR terlebih dahulu)
  • Cashback dari Bibit: 1.700.000 IDR
  • Affiliate marketing dengan DomaiNesia: 150.000 IDR
  • Fee pembicara webinar: 20.000.000 IDR

Might not seem that much to you, but really, even though that these amounts don’t exist, the personal growth I get by maintaining this blog has been PRICELESS.

Cheers to (hopefully) another constant year of Dissecting Money!


Apakah Anda punya kritik/masukan/saran untuk Dissecting Money di tahun-tahun ke depan?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

2 thoughts on “One Year of Dissecting Money”

  1. Saya tau betul perjuangan penulis .. saya salut dan bangga dgn konssistensinya memberi manfaat , lecutan buat kami agar melek literasi keuangan

    Reply

Leave a Comment