Dokter pun Butuh Budget

Photo by Alex Block on Unsplash

Penting tapi tidak beken

Ada alasannya mengapa saya memulai blog ini dengan menawarkan video tutorial budgeting jika pembaca subscribe ke mailing list. Karena sangat jelas di dalam pembelajaran saya di dunia finance bahwa memiliki sebuah budget adalah fondasi utama di dalam pengaturan keuangan pribadi/personal finance seseorang. Tidak terkecuali seorang dokter. Jika tidak memiliki fondasi ini, maka segala sesuatu yang Anda coba lakukan akan ambyar.

Namun, sayangnya sudah sekian lama saya mengamati pertanyaan-pertanyaan sejawat yang dilontarkan kepada saya, dan sepertinya saya bisa mengidentifikasi masalah yang paling sering dimiliki oleh sejawat di luar sana adalah: tidak menyusun/memiliki sebuah budget.

Setelah akhirnya berhasil melakukan budgeting sendiri dan melakukannya dengan rutin, saya semakin tidak mengerti bagaimana seseorang dapat hidup tanpa memiliki budget.

Maka dalam artikel kali ini saya akan mencoba mengungkapkan hal-hal yang membuat saya semakin yakin bahwa budgeting itu HARUS dilakukan, terlebih lagi untuk seorang dokter.

Common misconception

Satu kesalahpahaman yang paling sering ada di luar sana adalah bahwa budget artinya berapa banyak uang yang kita miliki/seberapa cukup uang kita untuk pengeluaran yang akan kita lakukan. Karena seringkali yang kita ketahui hanya dalam konteks kepanitiaan sebuah acara, kemudian kita mau menambah pengeluaran, maka biasanya sang ketua panitia akan bertanya “apakah masih masuk ke dalam budget kita?”

I’m sure most of you still think that that’s what a budget is.

Mengapa saya begitu yakin? Karena dulu pengertian saya mengenai budget pun sedangkal itu. Selama uang di rekening tabungan saya masih mencukupi untuk pengeluaran yang akan saya lakukan, artinya itu masih di dalam budget saya.

Boy, was I wrong.

Makna dari memiliki sebuah budget ternyata jauh lebih dalam daripada itu.

Memiliki budget = memberi tujuan kepada setiap sen uang Anda

Ingat bagaimana saya pernah mengibaratkan setiap sen uang Anda adalah seperti minion yang siap bekerja untuk Anda? Dengan memiliki sebuah budget, artinya Anda sudah membuat sebuah action plan untuk setiap sen yang masuk ke dompet Anda setiap bulannya (gaji). Melakukan budgeting dengan gaya ini dikenal juga dengan istilah zero-based budgeting.

Mengapa zero-based? Karena pada dasarnya setelah melakukan budgeting ini maka uang yang tersisa dari gaji Anda adalah 0 IDR. Loh? Untuk apa saya mau melakukan sesuatu yang membuat uang saya langsung habis?

This is exactly what will blow your mind. So, keep reading.

Dengan membagi-bagi uang dari pendapatan bulanan Anda ke pos-pos pengeluaran (tujuan) yang berbeda, maka Anda sedang “memagari” setiap kelompok uang Anda dengan job description-nya masing-masing.

Apa saja pos pengeluaran yang harus kita tetapkan? Well, pada prinsipnya bebas, bisa saja seseorang memiliki pos pengeluaran sedetil mungkin seperti pos “kebutuhan kamar mandi,” “kebutuhan mobil,” dan lain sebagainya, tetapi menurut saya jika terlalu detil akan menjadi terlalu rumit dan kita jadi cenderung malas untuk melakukannya setiap bulan.

Rumus-rumus budgeting sederhana dan batasan-batasannya

Lebih baik gunakan rumus pembagian-pembagian yang sederhana, seperti:

  • 50/30/20 rule (Dave Ramsey): ini adalah rumus yang saya gunakan di video tutorial budgeting Dissecting Money50% untuk kebutuhan (pengeluaran tetap), 30% untuk keinginan (pengeluaran bervariasi) dan 20% untuk ditabung.
  • 4/3/2/1 rule: ini merupakan patokan yang sering digunakan oleh para perencana keuangan, tetapi saya tidak terlalu menggemarinya karena menyisakan untuk tabungan terlalu sedikit – 40% untuk kebutuhan (pengeluaran tetap), 30% untuk cicilan/utang (maksimal), 20% untuk keinginan dan 10% untuk ditabung.

Anda bisa kemudian mengatur pembagian persentase-persentase ini sesuai dengan keadaan keuangan Anda, namun beberapa hal yang menurut saya bisa dijadikan patokan dalam pembagiannya:

  • Kebutuhan: JANGAN SAMPAI LEBIH DARI 50% GAJI BULANAN! Karena apabila demikian artinya ada sesuatu yang salah dengan lifestyle Anda dan Anda harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. It means you’re not living below your means. (CATATAN: Anda perlu lebih dahulu mengetahui berapa pengeluaran rutin bulanan Anda setiap bulannya, agar dapat menetapkan sebenarnya jumlah tersebut berapa persen dari gaji bulanan Anda)
  • Cicilan: total uang yang dialokasikan untuk melunasi cicilan setiap bulannya tidak boleh melebihi 36% dari total gaji. Rasio ini disebut juga dengan debt-income ratio. Jika cicilan Anda melebihi jumlah ini, artinya kondisi keuangan Anda “tidak sehat” dan harus dilakukan perombakan signifikan.
  • Tabungan: (menurut saya pribadi, bukan aturan siapa-siapa) seharusnya seseorang bisa menabung paling tidak 20% dari jumlah penghasilannya setiap bulan. Jika mendapat kenaikan gaji, maka persentase/rasio tabungan dulu lah yang dinaikkan, jangan justru pengeluaran untuk kebutuhan yang dinaikkan karena lifestyle Anda yang terdongkrak. Utamakan tabungan ini untuk memenuhi dana darurat terlebih dahulu di awal-awal, baru selanjutnya untuk investasi.

Misalnya, jika saya memiliki gaji sejumlah 10 juta IDR bulan ini, dan saya memilih rumus 50/30/20, dengan menerapkan zero-based budgeting maka:

  • 5 juta IDR untuk kebutuhan (setelah menghitung bahwa memang pengeluaran rutin bulanan saya adalah 5 juta IDR)
  • 3 juta IDR untuk keinginan (jika dana ini sudah habis artinya saya tidak bisa belanja/jajan apa-apa lagi di bulan tersebut, sebaliknya jika tersisa: bisa menambah dana keinginan saya di bulan berikutnya atau masukkan saja sebagai tabungan tambahan)
  • 2 juta IDR untuk ditabung (untuk dana darurat jika belum terkumpul, atau seluruhnya masuk ke dalam portofolio investasi saya jika dana darurat sudah tercukupi)

Setelah budgeting ini dilakukan, maka dana yang tersisa dari gaji saya adalah 0 IDR, karena setiap sen sudah saya berangkatkan dalam tugasnya masing-masing. (TIPS: milikilah rekening yang berbeda-beda kalau perlu untuk setiap pos pengeluaran, agar tidak kacau balau)

Perhatikan bahwa artinya saya sama sekali tidak memiliki “tabungan” di rekening tabungan biasa seperti kebanyakan orang. Karena untuk apa uang didiamkan di dalam rekening tabungan jika kita sudah memiliki dana darurat sebagai bantalan? Lebih baik keseluruhan uang kita dijadikan aset yang bekerja untuk mencari uang lagi.

(CATATAN: pertama kali saya mempraktikkannya pun saya sedikit takut karena uang yang tersisa di rekening tabungan saya menjadi sangat sedikit. But after a couple of months I got used to it. It makes complete sense.)

Apa untungnya punya budget?

Ada banyak sekali hal yang bisa kita dapatkan dengan memiliki sebuah budget, di antaranya:

“Helicopter view” of our money

Pada saat kita mengatur keuangan kita sebagai pihak pertama, maka kita akan menjadi sangat biased di dalamnya. Saya akan merasa bahwa saya layak ganti handphone baru karena saya sudah bosan dengan handphone saya dan sepertinya uang di rekening masih cukup untuk beli handphone baru. Namun saat memiliki sebuah budget, kita betul-betul melihat keuangan kita sebagai pihak ketiga (dari “atas” = helicopter view), sehingga kita bisa menilai dengan lebih objektif.

Tahu barang mana yang sanggup kita beli

Karena bagaimana mungkin seorang dokter bisa membeli iPhone 11 Pro Max seharga 20+ juta IDR jika budget keinginannya hanya sebesar 3 juta IDR? Maka Anda menyadari bahwa untuk dapat membelinya, Anda harus bisa menabung dari biaya keinginan selama 7 bulan terlebih dahulu (tanpa jajan apa-apa yang lain sama sekali).

It really puts into perspective what things are okay for us to buy and what things are stupid to.

BITTER TRUTH: We often suddenly become awfully stupid when it comes to money.

Kesehatan mental di kala krisis

Pandemi ini sudah menjadi kesempatan untuk kita belajar personal finance dengan baik. Seorang dokter yang pendapatannya berkurang sebanyak 50% akibat sebuah krisis akan lebih tenang menjalani hari-harinya seperti biasa, karena dia mengetahui dengan pasti berapa uang yang diperlukan untuk hidup setiap bulannya. Selama jumlah tersebut masih terpenuhi, artinya suami/istri dan anak-anaknya masih bisa makan, minum dan memiliki atap di atas kepala mereka. Sang dokter bisa melanjutkan untuk konsentrasi ke pekerjaannya sehari-hari walaupun pendapatan bulan tersebut sedang “terguncang.”

Menjauhkan kita dari keputusan irasional

Bilanglah ada seorang karyawan yang karena sebuah krisis ekonomi menyeluruh maka kebijakan dari perusahaannya meminta dia untuk bekerja seperti biasa dengan gaji yang dipotong. Biasanya, respon seseorang akan merasa sebal dan stres akan hal tersebut, sehingga biasanya kemudian akan merespon dengan marah, bahkan mungkin memutuskan untuk resign dari pekerjaan tersebut dan mencari pekerjaan baru.

Padahal, keputusan untuk resign di kala krisis bukanlah hal yang pintar dan tidak rasional dilakukan di kala krisis. Saat krisis ekonomi melanda, artinya semua perusahaan lain di luar sana pun sedang melakukan budget-cut, sehingga penerimaan karyawan baru pun mungkin tidak akan menjadi prioritas. Belum lagi kalau memiliki pekerjaan baru, berarti nominal gajinya harus mulai dari awal (belum tentu juga lebih tinggi dari pekerjaan sebelumnya). Belum lagi biaya untuk transportasi, pindah kosan (kalau perlu) untuk mencapai tempat pekerjaan baru juga sudah pasti belum dihitung.

Walaupun gaji dipotong, selama seorang karyawan tersebut melihat bahwa dia masih bisa memenuhi kebutuhan dengan nominal gaji yang dipotong tadi, dia dapat dengan tenang melanjutkan pekerjaannya, sebelum kemudian menilai ulang segala sesuatu saat kondisi sudah lebih tenang dan stabil.

(CATATAN: biasanya yang paling pusing di kala gaji dipotong adalah mereka yang terlanjur memiliki cicilan “tidak sehat” atau lebih dari 36% persen pendapatan. There’s no more room to wiggle, and you brought it upon yourself.)

Uang investasi = uang “nganggur”

Last but definitely not least, memiliki budget artinya sudah pasti dana yang Anda gunakan untuk investasi jangka panjang adalah dana “nganggur” (baca: tidak perlu Anda sentuh-sentuh lagi selama 20-30 tahun ke depan). Mengapa? Karena Anda sudah memiliki dana darurat, jika ada suatu kebutuhan yang mendesak, yang Anda gunakan adalah dari dana darurat. Setiap bulannya pun Anda tidak akan pusing untuk hidup sehari-hari, karena semua itu sudah dialokasikan dalam budget kebutuhan dan keinginan. Dana investasi Anda tidak akan terganggu berpuluh-puluh tahun ke depan sehingga compound interest dapat dengan nyaman menjalankan pekerjaannya.

Now isn’t that a pretty and systematic way to live?


Apakah Anda sudah memiliki budget?
Apakah Anda masih memandang bahwa budget adalah suatu hal yang remeh?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

 

Jangan lupa untuk subscribe untuk mendapatkan video tutorial budgeting sederhana menggunakan Microsoft Excel dari Dissecting Money!

4 thoughts on “Dokter pun Butuh Budget”

  1. Sudah pasti budgeting adalah fundamental utama.. sebelum keberingasan, ketamakan membuat seseorang bermutasi menjadi monster.. selalu berkaca evaluasi, mana yg kebutuhan mana yg keinginan krn social pressure.. salam hangat

    Reply
  2. Agak menyesal kenapa baru kepo dissectingmoney sekarang-sekarang ini padahal dulu sempat nonton webinarnya di platform Docquity. But it’s never too late, right?

    Jadi tau kenapa dulu takut ngomongin uang. I thought my financial was just doing fine, tapi begitu bikin planning ahead: “Wah kok ternyata butuh banyak biaya ya? Hmm harus stop ngopi-ngopi cantiknya deh.” I wasn’t ready for that yet hahaha!

    Thank you for the insight, doc! I hope someday I could do something like this too, changing someone’s perspective & behavior through writings or podcasts. Keep inspiring! 🙂

    Reply

Leave a Comment