Pelajaran Finansial dari COVID-19

Photo by Hello I’m Nik 🎞 on Unsplash

Krisis ekonomi itu perlu dipersiapkan

Selalu ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari setiap peristiwa atau kejadian. Pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19) pun bukan merupakan sebuah pengecualian. Setelah lebih dari setengah tahun menghabiskan waktu untuk takut dan waswas menghadapi pandemi ini, saya kira sudah waktunya kita mencari apa yang dapat kita pelajari dari pandemi ini, termasuk di antaranya apa yang dapat kita pelajari dari segi finansial.

Sebagaimana dijabarkan oleh William Bernstein, MD di dalam bukunya “The Four Pillars of Investing,” salah satu pilar utama di dalam perjalanan seseorang untuk mengerti cara dunia finance bekerja adalah sejarah perekonomian itu sendiri.

Mengapa? Because apparently history repeats itself. Seperti sebuah pepatah dari orang bijak: tidak ada suatu hal pun yang baru di bawah matahari. Begitu juga dengan sejarah bagaimana dunia finance bekerja. Pergerakkan perekonomian selalu berjalan dalam sebuah siklus: periode kemakmuran akan selalu mencapai titik puncak dan akhirnya turun menuju resesi ekonomi atau bahkan fase depresi ekonomi berkepanjangan, sebelum akhirnya beranjak naik lagi dalam proses ekspansi.

Jika kita sudah memahami ini, maka mudah untuk kita bisa mengerti bahwa krisis ekonomi itu tidak dapat dihindari, bukan untuk ditakuti, tetapi justru harus dipersiapkan bagaimana kita akan menghadapinya kelak. Persoalan utamanya adalah sifat manusia di saat periode makmur biasanya akan selalu sulit untuk diajak berpikir akan kemungkinan adanya masa-masa sulit yang menanti di depan.

Krisis ekonomi adalah kesempatan

Sangat melelahkan fisik dan mental apabila kita terus-menerus menganggap bahwa krisis ekonomi akibat COVID-19 ini adalah sebuah ancaman. Lebih baik kita mulai membuka mata dan mencari kesempatan-kesempatan yang hanya bisa kita dapatkan di periode sekarang ini dan tidak di periode lain.

Faktanya, seluruh investor berpengalaman pun akan memiliki pendapat yang sama, yaitu krisis ekonomi merupakan sebuah kesempatan besar yang belum tentu bisa kita dapatkan 10-20 tahun sekali.

So if this pandemic struck you hard, you better learn something out of it.

Menurut saya, pandemi COVID-19 ini adalah panggilan terlantang bagi para dokter untuk mulai menyadari bahwa pengaturan keuangan pribadi (termasuk di dalamnya: investasi) itu adalah wajib, dan merupakan suatu hal yang harus dipelajari secara mendalam sebelum kita mempraktikkannya.

Karena logikanya: jika Anda memulai di dasar, then there’s nowhere to go but upwards.

Apa yang spesial dari krisis akibat COVID-19?

Namun, kita perlu juga menilik lebih mendalam: apakah krisis yang diakibatkan COVID-19 ini sama seperti krisis-krisis ekonomi sebelumnya? Karena pada prinsipnya setiap resesi ekonomi memiliki penyebab yang baru dan berbeda, justru karena itulah makanya tidak ada yang bisa memprediksi kapan krisis akan terjadi.

Pandemi COVID-19 ini unik karena menyerang perekonomian dari hal yang sangat mendasar, yaitu kesehatan. Bukan hanya itu saja, tetapi terjadi suatu hal yang dikenal dengan istilah “black swan theory.”

Logikanya siapa yang seharusnya diuntungkan apabila banyak orang yang sakit dan memerlukan dokter? Tetapi yang terjadi di saat ini justru sebaliknya, karena ketakutan yang sangat mendalam dan universal, maka pasien pun bahkan menjadi takut untuk ke rumah sakit dan bertemu dokter. Jumlah kunjungan pasien poliklinik dan gawat darurat pun menurun, operasi elektif sempat dilarang, sehingga terjadilah fenomena “unik” yang belum pernah kita atau bahkan generasi orang tua kita rasakan sebelumnya.

Selain itu, ada hal lain yang sangat spesial dari krisis akibat COVID-19 ini jika ditinjau dari segi psikologi pribadi seseorang. Ada sebuah teori psikologi mengenai hierarki kebutuhan manusia (hierarchy of needs) yang diungkapkan oleh sebuah psikolog yang bernama Abraham Maslow. Berawal dari tulisan akademisnya mengenai hal ini, maka ada yang mengilustrasikan hierarki kebutuhan ini sebagai sebuah piramida sebagai berikut:

Image: SimplyPsychology

Piramida ini menggambarkan hierarki kebutuhan manusia dari yang paling mendasar: kebutuhan fisiologis, lalu beranjak naik ke kebutuhan-kebutuhan berikutnya. Perlu diingat bahwa dalam konsep sebuah hierarki, jika kebutuhan yang bawah belum terpenuhi, maka kita tidak bisa beranjak ke tingkat berikutnya.

Yang pertama kali “dihantam” oleh COVID-19 adalah kebutuhan manusia di tingkat 2 dan 3 (safety and love needs):

Sehingga, merujuk kepada syarat naik tingkat dari hierarki tadi, yang “tertutup” oleh COVID-19 adalah:

It struck me like lightning.

COVID-19 is trying to teach us to concentrate on our most necessary needs first: physiological needs.

Apabila Anda memiliki makanan dan minuman yang cukup, atap di atas kepala Anda, kehangatan dan istirahat yang cukup: BERSYUKURLAH!

Jadi sangat tidak masuk akal apabila ada sejawat yang mengungkapkan kekhawatirannya akan krisis ekonomi ini, tapi masih belanja barang-barang tersier seperti sepeda Brompton dan lain sebagainya (I do hope they bought it in cash, not with credits).

Dari apa yang saya jabarkan di atas mengenai sejarah perekonomian, we all now know that economic crises WILL come at us every now and then.

So why don’t we just prepare for it while we still have the money?

Apa yang pandemi ini ajarkan kepada kita dari segi finansial?

Beberapa hal terkait finance yang spesifik untuk dokter yang bisa saya dapatkan dari pandemi ini adalah sebagai berikut:

Dokter butuh budget

I cannot stress this enough:

YOU NEED A BUDGET!

Apakah gaji Anda 10 juta IDR per bulan, ataupun gaji Anda 500 juta IDR per bulan, Anda (dan suami/istri) HARUS menyusun sebuah penganggaran/budgeting setiap kali Anda menerima gaji setiap bulannya. Kalau Anda tidak memiliki budget, maka Anda sama sekali tidak “memagari” uang Anda. Jika uang Anda diibaratkan seperti domba di peternakan, maka jangan heran apabila Anda tidak mengetahui dengan pasti uang Anda pergi ke mana.

Dengan memulai perjalanan finansial Anda dari menyusun budget, berarti Anda sudah mengambil komitmen untuk mengatur keuangan Anda dengan benar, dan tidak akan memasrahkan keuangan dan hari tua Anda ke ketidakpastian.

Dengan memiliki budget, maka Anda memastikan bahwa diri Anda akan selalu hidup di bulan berjalan berdasarkan gaji bulan sebelumnya, dan tidak perlu “meminjam” gaji bulan depan untuk hidup bulan ini (baca: kredit).

Now here’s a retrospective question for you:

When your income was hit by COVID-19 following March 2020, did you take a good look at your budget?

Or you just continued on with your spending like nothing happened?

Yet some people still would prefer asking “what kind of investment is good for me” instead of asking “what the heck am I doing with my money?”

Semua dokter harus memiliki dana darurat

Pada saat pendapatan dokter, terutama mereka yang hidup bergantung kepada fee-for-service turun hingga 70% setiap bulannya, periode bulan Maret-Juni 2020 sudah pasti merupakan salah satu periode tersulit di dalam kehidupan finansialnya.

Hal ini membuka mata kita terhadap betapa pentingnya seseorang yang ingin mengatur keuangannya dengan baik memiliki dana darurat, agar dapat menjadi “bantalan” saat keuangan kita terjun bebas. Alangkah beruntungnya seorang dokter yang sudah memiliki dana darurat sejumlah 6 kali pengeluaran bulanannya, karena artinya dia bisa mencukupi kebutuhan bulanannya (jika kurang) di bulan April-September 2020 kemarin dengan menggunakan dana daruratnya, sambil menunggu keadaan praktik pulih. (Catatan: saya sendiri sangat bersyukur karena sudah kembali ke pendapatan “normal” seperti sebelum pandemi di bulan Juli 2020)

Saya lebih salut lagi kepada para dokter yang tidak perlu sampai merogoh ke dana darurat mereka, namun bisa memenuhi kebutuhan bulanan hanya dengan memutuskan untuk tidak belanja keinginan. Kudos to you, disruptive doctors!

Karena artinya dengan penggunaan dana darurat ini untuk memenuhi kebutuhan sementara, artinya kita tidak perlu mencairkan uang dari investasi jangka panjang kita. Sehingga, compound interest dapat dengan mudah menjalankan kerjanya tanpa terganggu.

Risks exist in life, and we need insurance(s)

Baru kali ini di dalam hidup saya, saya merasakan ketakutan akan kematian hanya dengan berangkat ke tempat kerja. Pandemi ini seharusnya membuka mata kita bahwa ternyata risiko-risiko di dalam hidup itu nyata adanya dan patut kita persiapkan.

Risiko-risiko ini seringkali disingkat oleh para financial planners sebagai SK CAMAT:

  • Sakit
  • Kecelakaan
  • Cacat
  • Mati (cepat)
  • Tua

Cara pertama kita untuk memitigasi risiko-risiko ini adalah dengan memiliki dana darurat, sebagaimana telah disebutkan di atas.

Namun, apabila kita tidak mau direpotkan untuk mengambil dana darurat dan harus mengumpulkannya lagi berkali-kali, maka baiknya kita memiliki asuransi. Asuransi jiwa untuk kelangsungan hidup anggota keluarga yang menjadi tanggungan kita kalau terjadi apa-apa (amit-amit karena terkena COVID-19), asuransi kesehatan apabila kita terkena suatu penyakit, serta asuransi profesi untuk memitigasi risiko tuntutan profesi.

Cicilan tidak kenal pandemi

Kelompok dokter yang paling pusing akibat krisis ekonomi yang dibawa oleh COVID-19 ini adalah mereka yang memiliki cicilan terlampau banyak. Karena ternyata kita tahu sekarang, bahwa cicilan tidak akan peduli berapa jumlah gaji Anda bulan depan, 3 bulan atau 6 bulan lagi dari sekarang. Cicilan itu akan tetap menjadi kewajiban yang tetap harus dipenuhi, dan bunganya pun akan terus berjalan tanpa peduli praktik Anda terdampak COVID-19 atau tidak.

Seharusnya ini menjadi suatu pengingat bagi kita untuk tidak mengambil cicilan yang tidak perlu. Karena cicilan pada dasarnya adalah utang, dan utang adalah musuh utama dari compound interest.

Taking on a debt is basically placing a bet against the uncertain future.

Properti dan bisnis bukanlah segalanya

Sure, investasi properti merupakan salah satu yang paling memberikan return tinggi di jangka panjangnya, I have nothing against that. Namun, jangan pernah lupakan bahwa jika kita tidak memiliki jumlah uang tunai yang cukup untuk membelinya, maka kita harus berutang (cicilan KPR). Sementara, utang memiliki bunga, yang akan selalu “menarik” uang keluar dari kantong kita, dan mengurangi kemampuan kita berinvestasi.

Kedua, isu utama dari investasi properti adalah likuiditas, sebagaimana kita lihat permasalahannya di era pandemi COVID-19 ini. Akan percuma seseorang memiliki 5 properti dengan nilai masing-masing 2 miliar IDR, jika tidak ada yang mau membeli/menyewanya. Rumah yang seharusnya menjadi aset, malah menjadi beban karena kita harus meluangkan waktu, pikiran dan uang untuk mengurusnya.

So do think about this stuff before you go all-in on property investment.

Bagaimana dengan bisnis? Tentu saja tetap merupakan salah satu cara berinvestasi yang paling berisiko namun berpotensi memberikan return yang sangat besar. Akan tetapi, sebuah common misconception yang dianut banyak orang adalah bahwa dengan memiliki bisnis maka kita akan otomatis memiliki passive income. Dead wrong.

Bisnis adalah suatu cara mendapatkan income secara aktif! Mungkin bisa suatu hari menjadi passive income, tapi kita bicara 10-20 tahun setelah bisnis ini berjalan dan berkembang, pasti bukan di awal-awal.

You’re nothing short but delusional if you think having a business means you have a money-generating machine.

Hal terakhir yang saya ingin sampaikan mengenai bisnis adalah jangan lupakan bahwa seringkali orang berutang untuk mendirikan sebuah bisnis, atau joint venture dengan beberapa teman lain. Pandemi COVID-19 ini membuka mata kita bahwa secara rata-rata, bisnis kelas menengah hanya bisa bertahan 27 hari tanpa profit. Sehingga apabila (amit-amit) bisnis kita kandas, jangan kira bahwa kita “hanya” kembali ke titik nol: bisa saja kita ke titik minus karena bisnis tersebut meninggalkan utang, atau menghancurkan hubungan relasi dengan teman kita yang kita ajak bergabung tadi.

Multiple income cenderung menjadi keharusan

Sudah terbelalak semua mata dokter, bahwa ternyata terlalu riskan jika seorang dokter hanya mengandalkan sumber pendapatan hanya dari praktik saja. Tentu saja tidak salah jika praktik dijadikan sumber pendapatan utama (which is what I’m still doing). Namun, industri 4.0 ini terlalu terbuka luas, sehingga terlalu sempit jika seorang dokter merasa bahwa keahliannya hanya sebatas duduk di poliklinik atau berdiri di meja operasi, tanpa mencoba untuk berpikir “what else is out there?

Jangan lupa, melalui self-growth yang kita dapatkan dengan mempelajari hal-hal atau keahlian-keahlian yang di luar dunia kedokteran, hanya ada 2 luaran:

  • Kita menjadi lebih versatile sebagai seorang dokter, dan tidak akan cepat panik di kala menghadapi sebuah krisis ekonomi.
  • Kita mendapatkan income yang lebih dari hanya berpraktik, sehingga savings rate kita bisa dinaikkan, dan kita akan menjadi semakin dekat ke tujuan investasi kita.

Jangan lupakan perpuluhan/sumbangan/sedekah

Karena mudah untuk memberi pada saat uang kita banyak.

Tapi di saat kita pun sedang mengalami tantangan finansial, apakah kita masih dapat memberi?

If your answer is yes, congratulations!

You just figured out what life is all about.


Apa pelajaran berharga dari pandemi ini yang Anda alami terkait hal finansial?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Leave a Comment