patrick-reichboth-fYeEGmlukKY-unsplash
Dissecting Money

Dissecting Money

The Richest Doctor in Babylon

Sesuai dengan apa yang Anda harapkan dari membaca judulnya, artikel ini adalah ulasan saya mengenai buku “The Richest Man in Babylon” karya George S. Clason. Sebuah buku yang langsung melesat menjadi buku finance nomor satu terfavorit saya sepanjang masa.

Buku ini betul-betul merupakan sebuah buku finance yang sangat spesial dan lain dari yang lain, karena penulis berhasil menjelaskan dinamika dunia finance yang kompleks dalam bentuk cerita perumpamaan sederhana, tetapi sangat berhubungan dengan kondisi kita sehari-hari.

Lebih menakjubkannya, buku ini ditulis tahun 1920, tetapi mampu menerjang zaman dan memiliki konsep-konsep yang tetap relevan hingga sekarang.

Pelajaran terutama

Pelajaran pertama yang ditekankan oleh buku ini pun sangat membuat saya terhenyak, terdiam dan berpikir panjang mengenainya:

People never sought wealth.

Ya, manusia tidak pernah betul-betul mengejar kekayaan.

Di dunia kedokteran, sebagai contoh: kita betul-betul mengejar kesempurnaan dalam hal pengetahuan anatomi, fisiologi, patofisiologi dan farmakologi.

Kita mengejar bagaimana caranya untuk menjadi dokter yang hebat dan terpercaya. Kita akan bertanya kepada siapapun, mengikuti seminar apapun demi mendekatkan kita kepada target kita tersebut.

Namun jika ini bersangkut paut dengan hal mengejar kekayaan, tiba-tiba mulut kita kelu, tidak mau bertanya kepada orang lain, tidak mau aktif belajar mengenainya.

Yet we dream that by becoming a doctor, we would automatically become rich, someday, somehow.

Semua dimulai dari budgeting

Sekarang Anda paham mengapa buku ini langsung melejit menjadi buku finance terfavorit saya, yaitu karena penulis memegang prinsip yang sama dengan apa yang saya berulang-kali tekankan di blog ini, yaitu:

The road to wealth starts by having a budget.

Tidak peduli berapa uang yang Anda miliki di awal, berapa warisan yang Anda dapat, seberapa pintar Anda menebak-nebak arah market bergerak, berapapun cuan fenomenal yang berhasil Anda dapatkan, semuanya omong kosong jika Anda tidak memiliki budget. You’re just fooling yourself.

That’s why you’re still scrolling through Instagram’s explore tab and searching for the next best financial content provider: because you don’t have any strong principle regarding money and investments.

Tiga pelajaran sederhana mengenai pengelolaan keuangan

Saya betul-betul tidak bisa memahami betapa dalamnya pemikiran sang penulis, hingga bisa menyederhanakan seluruh kenyataan di dunia finance dan bagaimana cara membangun kekayaan menjadi 3 langkah yang sangat sederhana:

  1. Bayar diri kita sendiri terlebih dahulu (pay yourself first, sebuah frasa yang dibuat mendunia oleh penulis) sepersepuluh dari gaji kita setiap bulan.
  2. Jangan pernah minta saran keuangan dari orang yang tidak berpengalaman dalam hal pengaturan keuangan.
  3. Biarkan sepersepuluh uang yang Anda simpan tiap bulan tadi beranak (bekerja menghasilkan uang lagi), dan biarkan anak-anaknya beranak pula (melalui investasi).

That’s  it.

That’s the only road to wealth that works.

“Pay ourselves first” artinya sepersepuluh dari gaji kita setiap bulan tidak kemudian kita berikan lagi ke orang lain untuk membeli mobil baru, sepatu mevvah, sofa baru, Nintendo Switch, dan lain sebagainya, karena artinya uang tersebut sudah kita pindah-kerjakan lagi ke orang lain. Namun sepersepuluh ini betul-betul menjadi uang-uang pekerja milik kita yang  akan kita pekerjakan (investasikan) untuk mencari uang lagi untuk kita.

Jangan mudah percaya akan iming-iming cara berinvestasi yang benar, apalagi menitipkan uang Anda kepada orang-orang yang tidak berpengalaman dalam mengatur keuangan. Artinya, mungkin sebaiknya kita jangan pernah mempercayai kata-kata seorang dokter mengenai bagaimana cara mengatur keuangan (that includes me) sebelum kita bertanya terus dan mempelajari semuanya terlebih dahulu.

Terakhir, tinggal lakukan dollar-cost averaging setiap kali habis gajian, and off you go on your way to wealth.

Tujuh obat kantong kering

Setelah 3 prinsip sederhana di atas, kemudian penulis melanjutkan dengan 7 langkah pengaturan keuangan yang lebih mendetil tetapi tidak kalah sederhana:

  1. Simpan 10% dari gaji setiap bulan.
    (Mengapa 10%? Karena keseharian kita tidak akan berubah drastis dengan mencoba hidup hanya dari 90% gaji)
  2. Kontrol pengeluaran.
    (Hanya orang bodoh yang mencoba berinvestasi tanpa mengontrol pengeluaran)
  3. Investasikan uang yang disimpan tersebut.
    (A man’s wealth is not in the coins inside the purse, but in the coins that are working somewhere out there to produce more coins)
  4. Lindungi uang simpanan tersebut dari kerugian.
    (Jangan tergiur dengan iming-iming return tinggi, jangan minta saran keuangan ke orang yang tidak berpengalaman)
  5. Milikilah rumah sendiri.
    (Caranya dengan menyimpan uang dahulu sampai jumlahnya cukup untuk membayar di muka sehingga sisa cicilan per bulannya sama dengan nominal jika Anda mengontrak)
  6. Milikilah asuransi jiwa.
    (Insure against death, for the sake of your own family)
  7. Pelajari finance, jadilah lebih bijak dalam mengatur uang dan niscaya pendapatan kita pun akan bertambah dengan sendirinya.
    (Which I have found to be very true: a wise man in handling coins just attracts money, somehow)

Demikianlah 7 langkah mudah yang menyederhanakan keseluruhan konsep pengaturan keuangan pribadi yang sangat kompleks.

Bagian-bagian terakhir dari buku ini membahas mengenai cara melunasi utang, yang menurut saya juga sangat baik, tapi mungkin terlalu panjang untuk saya ulas di sini dan mungkin akan saya ulas dalam bentuk sebuah artikel lain.

Penutup

Sebagai penutup, saya akan mengutip bagian dari buku ini yang menurut saya sangat spot-on:

Luck favors those who take action.

Semua konsep-konsep di atas akan menjadi percuma apabila Anda sudah mengetahuinya tapi tidak berbuat apa-apa.

Which is why I always say:

The best time to start budgeting and investing is yesterday.


Apakah Anda sudah membaca buku “The Richest Man in Babylon?”
Sanggupkah Anda hidup dari 90% gaji?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Photo by Patrick Reichboth on Unsplash

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!