pexels-nataliya-vaitkevich-6837566
Dissecting Money

Dissecting Money

Suatu Saat Dokter akan Berhenti Praktik

Kenyataan dari judul artikel ini mungkin sangat menakutkan untuk beberapa orang: suatu saat kita akan berhenti praktik. Mengapa menakutkan? Karena untuk mereka berhenti praktik artinya dapur tidak lagi mengebul dan tidak akan punya uang cukup lagi untuk kebutuhan hidup.

Namun, untuk sebagian orang (termasuk saya), saat di mana saya bisa berhenti praktik adalah saat yang sangat saya nanti-nantikan. Mengapa dinanti-nantikan? Karena saya menyadari dan tidak malu untuk menyatakan bahwa ada “duri dalam daging” yang mengganggu setiap dokter yang berpraktik, tetapi tidak banyak yang mau mengakuinya: profesi dokter itu memiliki risiko tinggi untuk mengalami burnout.

Apa itu burnout?

Burnout adalah fenomena yang sulit diutarakan dalam bahasa Indonesia karena memang tidak ada terjemahannya (jika dimasukkan ke google translate yang keluar adalah “terbakar habis”).

Mengapa fakta ini penting? Karena jika tidak ada kata yang bisa mengungkapkan fenomena burnout ini, artinya mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa yang dia rasakan sebenarnya adalah sindroma burnout ini.

Burnout umumnya didefinisikan sebagai kondisi kelelahan emosional, fisik maupun mental yang disebabkan karena tekanan (stres) yang berlebih dan berkepanjangan.

I can almost hear some of you saying: “What? So weak. A doctor should be stronger than that.”

Whatever. Burnout’s real.

Happened to me when I was a medical student, happened again when I was a resident, and surely enough happened when I was a specialist, even.

Saya sarankan Anda membaca survei dari Medscape mengenai burnout agar dapat melihat seberapa seriusnya masalah ini.

Mungkin Indonesia masih merupakan negara yang dasar-dasar agamanya kuat, sehingga kebanyakan orang masih memiliki “pegangan” dibandingkan dengan kebanyakan orang di negeri-negeri Barat. Atau kemungkinan lainnya adalah kita tidak pernah membahasnya.

We just bury it deep.

Sulit untuk dicegah

Fenomena burnout ini menurut saya akan cukup sulit untuk dicegah, terutama untuk dokter yang masih berpraktik sehari-hari. Mengapa demikian? Bayangkan saja misalnya seorang dokter yang memiliki 20 pasien dalam 1 kali praktik di poliklinik.

That means, just in the course of 3-4 hours, you are expected to solve each and every patient’s complaint or expectation.

If that doesn’t burn you out every now and then, there are only 2 possible reasons:

  1. You are a superhuman.
  2. You don’t really care.

Sudah 16 tahun lebih sejak saya diajarkan mengenai perbedaan antara empati dan simpati, sayangnya sampai sekarang saya masih kesulitan melihat batas tegas antara keduanya.

Tanda-tanda burnout

Ada banyak tanda-tanda seseorang sedang mengalami burnout, tetapi salah satu yang tersering adalah kehilangan hasrat untuk menjalani hari-hari kerja yang biasanya “biasa-biasa saja.”

Suddenly another day at work seems like a mountain to climb.

Pertanda lain yang sering dirasakan adalah kelelahan yang terus-menerus, meskipun sudah merasa punya jam tidur yang cukup, atau bahkan ditemani dengan kesulitan tidur. Fenomena yang sebenarnya disebabkan karena hal yang sederhana:

You just don’t want tomorrow to arrive, which is why you don’t want to sleep, and come tomorrow you simply don’t want to wake up to face the day any earlier than you should.

Satu hal yang lain yang cukup sering terasa juga (terutama untuk saya) adalah menjadi mudah marah, bahkan akan hal-hal kecil yang sebenarnya kurang penting. Terkesan sepele, tetapi biasanya dampak sampingan yang terjadi pun cukup signifikan, karena menyebabkan friksi dalam hubungan interpersonal kita di keluarga maupun di lingkup pengaruh kita yang lain.

Penyebab-penyebab burnout

Alasan untuk seorang dokter mengalami burnout tentunya sangatlah banyak, dan mungkin tidak dapat saya tuliskan semua di sini, tetapi saya akan menyebutkan beberapa  contoh yang mungkin akan terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari:

  • Tekanan/ekspektasi dari dokter yang lebih senior atau manajemen
  • Jadwal praktik yang terlalu padat (tidak bisa mengatur hari-hari kerja kita sesuai kemauan kita)
  • Pasien komplain
  • Hasil pengobatan/tindakan yang kurang sesuai harapan kita
  • Tugas tambahan di luar praktik yang membuat kacau jadwal kita
  • Tidak dapat menceritakan tantangan-tantangan yang dihadapi di rumah sakit dengan keluarga/orang rumah
  • …dsb

Starting to feel a bit familiar?

Kemudian biasanya kita pun mencari pelarian dan mencoba menutupi perasaan yang sudah terlanjur kacau ini dengan hal-hal seperti:

  • Ke gym setiap hari/any chance you get
  • Menghindari pulang ke rumah lebih cepat karena terlalu banyak friksi di rumah tangga
  • Menghabiskan uang untuk hobi baru yang tidak murah
  • Menonton Netflix tanpa henti
  • Ke bar setiap Jumat malam untuk minum-minum bersama teman-teman yang sama-sama miserable
  • …and so on, we know our own poison.

Anyway, saya tidak akan membahas terlalu banyak mengenai burnout ini karena banyak artikel yang dapat Anda baca di internet. Pun saya tidak akan mencoba “menyembuhkan” Anda dari burnout, karena hal tersebut bukanlah ekspertise saya.

Namun sekarang Anda sudah mengerti apa yang saya maksud dengan “duri dalam daging” di awal artikel.

Kebebasan finansial dan burnout

Yes, you guessed right.

Kebebasan finansial merupakan tiket keluar yang saya persiapkan agar suatu hari saya tidak perlu lagi melawan burnout.

Ini mengenai memiliki garis finish.

Saya betul-betul tidak ingin menjadi seorang dokter yang berusia 65 tahun dan berpikir:

“Sampai kapan saya harus bekerja seperti ini?”

“Apakah uang yang saya tabung selama ini sudah cukup hingga akhir hayat?”

When is “enough” enough?”

Apabila suatu hari terjadi lagi momen-momen burnout yang tidak mengenakkan ini, ekstrimnya saya betul-betul bisa berkata kepada diri saya sendiri:

“Apabila besok kamu ingin berhenti dari melakukan ini semua, itu tidak akan jadi masalah, karena kamu sudah memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bekerja. Apapun yang bosmu/seniormu/manajemen katakan, it’s not going to matter anymore. You have more than enough money to break out of their grip.”

Don’t get me wrong, I’d love for that day to never happen and hope I will love what I do for the rest of my life. But, just in case..

Menariknya, dari pengalaman saya sejauh ini, justru pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dari melakukan budgeting secara rutin, menekan pengeluaran-pengeluaran terkait gaya hidup, selalu menyisihkan minimal 20% dari gaji setiap bulan untuk diinvestasikan secara pasif,  justru membuat saya semakin merasa bahwa perlahan-lahan, saya sedang memegang kontrol atas uang.

The more I make myself sure that I am on my way to financial freedom, I feel less and less burned out.

Sungguh mengherankan bagi saya bagaimana psikologi uang bekerja di dalam kehidupan kita:

Apabila kita mencoba untuk selalu berfoya-foya dan mencari kebahagiaan sementara dengan menghabiskan uang, kita malah menjadi semakin rentan terhadap burnout.

Namun di saat kita berhasil mengontrol atau membatasi betul-betul apa yang kita lakukan terhadap uang kita, justru efeknya menjadi protektif terhadap burnout.

Do you feel like you’re in control?

Photo by Nataliya Vaitkevich from Pexels


Apakah Anda pernah mengalami burnout?
Apakah menurut Anda ada kaitannya dengan uang?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!