Perbedaan Dokter dengan Investor Lain

Photo by Daniel Reche from Pexels

Mayoritas dokter di Indonesia tidak memiliki hutang biaya pendidikan

Mengapa hal ini penting untuk diutarakan? Karena ini adalah berita baik yang sangat spesial yang dapat kita miliki sebagai masyarakat Indonesia yang beradat ketimuran. Tentunya ada dokter atau mahasiswa kedokteran yang memiliki hutang atau bahkan hutang budi biaya pendidikan, namun dokter-dokter yang saya temui umumnya tidak memiliki masalah demikian (thanks to our loving parents). Seriously, after reading this, call your parents today and tell them you love them.

Jika anda membaca buku-buku luar negeri mengenai personal finance, maka anda akan menemukan bahwa masalah utama bagi pekerja (dan terlebih lagi dokter) adalah masalah hutang biaya pendidikan/student loan. Beberapa sumber bahkan sudah menggambarkan krisis ini sebagai bubble yang sebentar lagi akan pecah seperti housing bubble di AS pada tahun 2008.

Hutang biaya pendidikan ini akan membuat dokter yang baru saja menyelesaikan pendidikan memiliki net worth yang NEGATIF! Artinya apa? Artinya adalah bahwa pada saat dia mulai bekerja, maka dia harus menentukan berapa cicilan hutang biaya pendidikan yang mau dibayarkan per bulannya, dan hal ini pasti sangat mengurangi kemampuan seseorang untuk menabung dan investasi.

Nah, hal inilah yang membuat saya ingin menekankan kepada anda bahwa mayoritas dokter Indonesia sangat diuntungkan dalam hal memulai investasi. Mengapa? Karena kebanyakan dokter tidak memiliki hutang saat lulus dari fakultas kedokteran ataupun pendidikan spesialis, sehingga kemampuan anda dalam memulai investasi sudah di atas angin dari orang lain. Anda berangkat perjalanan investasi anda dengan net worth yang POSITIF! Banyak sekali dokter-dokter yang tidak menyadari memiliki keuntungan ini, dan anda patut bersyukur karena kemungkinan besar anda adalah salah satu dari mereka dan tersadar akan keuntungan ada melalui artikel ini.

Terlambat sepuluh tahun

Berita buruknya, kebanyakan dokter akan mengalami keterlambatan yang cukup signifikan dalam memulai investasi. Rata-rata, seorang dokter spesialis akan sepuluh tahun lebih telat menerima gaji tetap jika dibandingkan dengan teman seumurannya yang bekerja di bidang lain. Rinciannya antara lain 5 tahun kedokteran umum, 1 tahun internship, beberapa tahun bekerja sebagai dokter umum, 4-5 tahun pendidikan dokter spesialis, kemudian baru menerima gaji tetap.

Sayangnya, salah satu faktor terpenting dalam compound interest (baca pengertiannya di sini) adalah waktu. Sepuluh tahun terlambat mendapatkan gaji tetap artinya sepuluh tahun yang sudah terlewati tanpa anda menginvestasikan uang anda dan mendapat untung dari compound interest.

Namun tenang saja, selain ada pepatah “Better late than never,” berita baik lainnya bagi seorang dokter spesialis adalah jumlah pendapatan yang rata-rata lebih dari teman seumurannya yang berprofesi lain (artinya gaji kita sebagai dokter spesialis akan “menyusul” gaji teman-teman kita). Sehingga, seringkali yang terjadi adalah seorang lulusan baru dokter spesialis jatuh ke dalam “lubang” dimana dia tidak menyadari bahwa itulah waktu yang paling tepat untuk memulai investasi.

Tidak menyadari kebutuhan akan dana pensiun

This is where life as a doctor gets tricky.

Dokter yang berasal dari generasi millenials akan memiliki latar belakang yang kurang lebih sama dengan saya: Kita besar dengan pandangan orang tua kita (yang mendapat pandangan dari orang tua mereka) bahwa untuk stabilitas, jadilah pegawai negeri (karena ada tunjangan, dan sebagainya). Sehingga dana pensiun bagi pegawai yang saya ketahui hanyalah dana pensiun pegawai negeri. Hanya ada 2 kemungkinan posisi anda sekarang: dokter pegawai negeri sipil, atau dokter di RS swasta. Lalu bagaimana dengan dokter yang bekerja di RS swasta?

Tidak peduli apakah anda dokter PNS atau dokter di RS swasta, yang utama adalah anda harus mengetahui bahwa adalah kewajiban pemberi usaha untuk memberikan suatu skema dana pensiun bagi pegawai (sehingga menjadi hak anda untuk memiliki sebuah skema menabung untuk dana pensiun). Namun setahu saya, hak anda ini hanya berlaku apabila ada dikontrak sebagai full-timer dan tidak berlaku untuk part-timer (saya mungkin saja salah, silakan posting komentar di bawah apabila anda memiliki koreksi atau pengertian yang berbeda). Rumah Sakit di mana anda bekerja biasanya akan memberikan skema dana pensiun ini dalam bentuk keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan, di mana termasuk di dalamnya adalah program Jaminan Hari Tua (JHT), yang pada dasarnya adalah dana pensiun anda.

Meskipun negara sudah menjalankan kewajibannya untuk mewajibkan anda memiliki dana pensiun, namun apakah akan cukup untuk menghidupi anda pada saat pensiun nanti? Ya, mungkin, untuk beberapa orang, namun coba hubungkan dengan lifestyle yang anda jalani sekarang, apakah akan cukup? Atau bahkan anda belum pernah memikirkannya, let alone menghitung benar-benar kebutuhan anda saat pensiun sebagai klinisi nanti?

Sehingga, saya sangat menganjurkan bagi setiap dokter atau dokter spesialis untuk mulai memikirkan dan memiliki perencanaan dana pensiun masing-masing di luar skema pemerintah, dan dana pensiun ini dapat dioptimalkan dengan cara investasi.

Risiko tuntutan profesi

Satu hal penting lagi yang membedakan dokter dengan profesi lain adalah kemungkinan tuntutan profesi. Saya tidak perlu menjabarkan lebih jauh lagi mengenai tuntutan pasien atas dugaan malpraktik, dan sebagainya. Saya yakin anda sudah cukup familiar dengan hal ini.

Namun perlu disadari, bahwa jika anda dihadapkan dengan sebuah tuntutan, maka sebetulnya anda sedang dalam situasi di mana anda berpotensi kehilangan seluruh investasi anda!

A lawsuit can knock-out your whole assets in a blink of an eye.

Maka, adalah kewajiban bagi seorang dokter untuk mengurus asuransi profesi, yang gunanya adalah untuk melindungi pokok dana investasi anda. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai asuransi profesi di sini, namun mungkin akan saya tuliskan dalam sebuah blog post lain.

Jika prinsip dasar investasi properti adalah “Location, location, location,” maka saya akan memberi saran yang dapat anda jadikan prinsip dasar dalam melayani pasien:

Communication, communication, communication.

Lonjakan lifestyle

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa biasanya gaji dokter spesialis akan “menyusul” teman-teman seumurannya, maka muncullah masalah baru di sini.

Kebanyakan dokter karena berpikir bahwa mereka sudah “menderita” selama ini, harus sekolah sepuluh tahun lebih, dan sebagainya, maka setelah lulus dan mendapat gaji yang lebih dari cukup, mereka merasa bahwa inilah saatnya untuk saya mengejar ketertinggalan itu.

Apa yang biasanya dilakukan fresh-graduate dokter spesialis? Mulai mencicil rumah, beli mobil baru (bahkan kadang mobil mewah) dengan cicilan, mulai travelling ke sana ke mari karena merasa memiliki hasrat wanderlust¬†(Ugh, I hate that word. You don’t have the desire to travel, you just have the desire to tell others that you’re travelling).¬†

Sehingga yang terjadi adalah periode 3-5 tahun pertama setelah lulus sebagai dokter spesialis yang sebenarnya merupakan waktu paling tepat untuk mulai investasi, mereka justru menghabiskan uang untuk memenuhi keinginan, namun bukan yang sebenarnya menjadi kebutuhan hidup mereka.

So…

Whether you are feeling different, feeling ahead, or feeling behind on your investment, doesn’t matter.

It will all be okay in the end.


Join our movement and become finance-savvy doctors!

Leave a Comment