Investasi Tidak Sama dengan Berbisnis

Photo by Randy Fath on Unsplash

Kesalahpahaman umum

Entah mengapa, banyak dokter berpikir jika berbicara tentang investasi, artinya adalah membicarakan prospek membangun sebuah bisnis baru yang diharapkan akan booming dan memberi keuntungan, sehingga bisnis tersebut menjadi mata pencaharian mereka di hari tua nanti. Apakah anda termasuk salah seorang yang berpikir seperti ini? Saya pun dulu adalah seseorang yang berpikir seperti ini.

Don’t get me wrong: Business is indeed a type of investment.

Tapi investasi dalam gambaran umum tidaklah mengharuskan seorang dokter untuk memiliki bisnis sampingan untuk dapat menggalang dana pensiun atau untuk mengambil pensiun dini.

What if I told you that you can still reach your retirement goals, while only having your job and no side-business at all?

Maka dari itu, di dalam mencoba mempelajari sesuatu, kita harus kembali ke definisinya terlebih dahulu. Untuk yang belum sempat membacanya, bacalah dahulu artikel mengenai istilah-istilah finance yang perlu anda pahami di sini.

Investasi:
Pengalokasian uang dengan harapan untuk menerima keuntungan di masa depan.

Berdasarkan pengertian ini, maka investasi tidak selalu artinya berbisnis. Seluruh dana yang anda alokasikan dengan harapan memberikan keuntungan adalah investasi.

Sehingga tentu pertanyaan berikutnya adalah: Apa saja yang termasuk di dalam jenis-jenis investasi? Berikut ini adalah instrumen-instrumen investasi yang umum:

  • Deposito
  • Komoditas (emas, minyak bumi, gas, dsb)
  • Surat hutang/obligasi
  • Reksa dana
  • Surat berharga/saham
  • Properti/real estate

Dengan masing-masing instrumen memiliki persentasi imbal hasil atau return yang berbeda-beda. Instrumen mana yang paling tepat untuk anda? Untuk menjawab ini maka anda memerlukan tujuan investasi yang jelas (bahkan tertulis). Sehingga anda bisa menyesuaikan, kira-kira anda membutuhkan persentase imbal hasil berapa untuk dapat mencapai tujuan investasi tersebut. Baca lebih dalam mengenai tujuan investasi di sini.

Kontras antara bisnis dan investasi

Saat anda memutuskan untuk berbisnis, maka secara langsung anda sudah berkomitmen untuk meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dengan porsi yang cukup besar. Hal inilah yang mendasari mengapa saya berpikir bahwa untuk memulai sebuah bisnis mungkin bukanlah cara yang mudah dilakukan oleh mayoritas dokter. Waktu, tenaga dan pikiran yang kita habiskan untuk visit pasien, praktek, tindakan sudah cukup menguras diri kita secara pribadi. Tentunya bukan artinya saya mau mengubur mimpi mereka yang sudah berharap untuk memiliki bisnis dan sudah mempersiapkan konsep-konsepnya. By all means, if you think starting up a side-business is for you, go ahead! I will even support you! (Serius, Telegram/Whatsapp saya melalui icon chat di kanan bawah dan ceritakan mengenai bisnis anda)

Tapi jika anda adalah kebanyakan dokter, seperti saya, yang sama sekali “buta” bisnis start up dan sama sekali tidak mengerti mau memulai dari mana, maka anda memerlukan cara investasi lain dan perlu membaca terus artikel ini.

Investasi aktif vs pasif

Jika berbisnis adalah suatu kegiatan yang aktif (karena anda harus mengatur segala sesuatunya), maka investasi yang justru lebih lazim dilakukan oleh mayoritas investor di luar sana adalah investasi yang pasif. Contoh: untuk deposito anda hanya tinggal menaruh sejumlah uang dengan perjanjian imbal hasil dalam persentase tertentu, dan anda tidak usah melakukan apa-apa lagi, tinggal membiarkan waktu dan suku bunga yang bekerja melipatgandakan uang tersebut. (Baca mengenai bunga berbunga/compound interest di sini) Catatan kecil: Saya tidak akan pernah menganjurkan anda untuk berinvestasi dalam deposito, karena imbal hasilnya tidak dapat menandingi inflasi. Ini hanya sebagai contoh yang sederhana saja.

Begitu pun halnya dengan investasi dalam instrumen-instrumen lainnya di atas. Anda tinggal mengatur strategi berdasarkan tujuan investasi anda, memilih instrumen investasi dengan persentase imbal hasil yang sesuai, dan lanjut berpraktik di RS dan membiarkan waktu dan suku bunga bekerja.

Inilah konsep yang dikenal oleh investor-investor di seluruh dunia sebagai: Make your money work for you.

Para dokter, sebaliknya, sudah terbiasa seumur hidupnya dengan konsep: We have to work for money. Ayah saya sering bilang ini seperti ideologi tukang becak (dengan segala hormat terhadap seluruh abang becak): Kalau menarik becak ya dapat uang. Kalau tidak sedang menarik becak ya tidak dapat uang.

Jadi sadarilah bahwa investasi itu bisa dan bahkan lazimnya dilakukan secara pasif, membiarkan uang kita bekerja untuk kita. Sehingga semua dokter yang memiliki gaji dapat, dan bahkan sudah seharusnya berinvestasi.

Investasi memang seharusnya membosankan

Bagi anda yang kemudian berpikir investasi pasif itu membosankan: Ya, memang investasi yang benar itu sudah seharusnya “tumpul” dan membosankan. Mulailah membaca buku-buku finance dan anda akan mengerti bahwa fakta ini benar adanya.

Jadi jika anda masuk ke sebuah instrumen investasi karena merasa “seru” melihat naik-turunnya nilai investasi anda, anda sedang berada di tempat yang salah. Karena alasan inilah makanya instrumen seperti valuta asing (foreign exchange/forex) dan trading cryptocurrency seperti Bitcoin tidak saya sebutkan di atas. Karena mereka memang tidak dan tidak akan pernah saya anggap sebagai sebuah instrumen investasi. Komponen utama di dalam trading valas dan cryptocurrency adalah spekulasi, bukan investasi.

Oh and by the way, ini berlaku juga untuk day trading dan swing trading: THEY’RE NOT INVESTMENTS

Orang-orang di dunia finance selalu menyuarakan bahwa investasi itu memang seharusnya membosankan dan lama (Kenapa harus lama? Baca dulu artikel mengenai compound interest). Jika anda ingin sesuatu yang mendebarkan, lebih baik naik rollercoaster atau berjudi poker saja, jangan berinvestasi.

As a high income professional you’ve already won the game.  You don’t need to invest in speculative instruments like Bitcoins to reach all of your financial goals.  Don’t run risks you don’t need to run.

James M. Dahle, MD (The White Coat Investor)

Jadi bagaimana dengan anda?
Berencana untuk berbisnis atau berinvestasi?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Leave a Comment