Sedihnya Jadi Dokter Spesialis

Bicara dari segi finansial

Apa sedihnya jadi dokter spesialis? Memegang strata tinggi di masyarakat maupun di tempat bekerja, gajinya besar, hidupnya terlihat mewah, anak-anaknya bisa disekolahkan ke luar negeri? Jika dibandingkan dengan dokter umum, harusnya dokter spesialis tidak boleh merasa kasihan sama sekali.

I can almost hear you saying all that.

Namun, perlu diingat bahwa yang saya bicarakan murni mengenai aspek kesehatan personal finance dari seseorang, bukan taraf hidupnya maupun nominal gajinya yang sedang saya bicarakan.

Hidup dokter vs nondokter

Jadi bagian mana yang menurut saya patut dikasihani dari perjalanan finansial seorang dokter spesialis? Untuk memperlancar penyampaiannya ke pembaca sekalian, saya akan menceritakan sebuah cerita pengandaian mengenai seorang sarjana teknik dan seorang dokter spesialis berikut ini:

Sarjana teknik

Anto adalah seorang lulusan teknik kimia dari salah satu fakultas negeri terkemuka di kota besar. Dia menyelesaikan pendidikannya tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-22, dan karena kegigihannya langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan.

Karena menyadari pentingnya menabung dan berinvestasi, maka Anto rutin menabung sebanyak 3 juta IDR setiap bulan dan menginvestasikannya pada sebuah instrumen investasi dengan return 10% per tahun. Kegiatan menabung rutin ini diteruskan olehnya selama 8 tahun, tetapi karena satu dan lain hal tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-30 dia berhenti menabung.

Artinya jumlah uang yang ditabung oleh Anto (tanpa memperhitungkan return) adalah sebesar 288 juta IDR.

Tabungan selama 8 tahun itu tidak disentuh-sentuh oleh Anto dan dibiarkan compounding terus dengan return 10% per tahun.

Anto memutuskan untuk pensiun di usia 65 tahun dan mengecek berapa jumlah dana pensiun yang dia miliki dari tabungannya saat muda dulu, dan ternyata hasil akhirnya adalah:

12.726.502.396 IDR

Dua belas miliar tujuh ratus dua puluh juta sekian rupiah. Not bad.

Dokter spesialis orthopaedi

Anto memiliki seorang sahabat, namanya Jeff. Jeff adalah seorang lulusan fakultas kedokteran ternama di ibukota, langsung melanjutkan ke pendidikan spesialis dan lulus sebagai seorang spesialis orthopaedi pada usia 30 tahun.

Karena sibuk dengan pendidikan dan tidak memiliki pendapatan sama sekali sebelumnya, maka dia baru memulai menabung dan investasi di usia 30 tahun. Jumlah yang ditabung sama dengan Anto, yaitu 3 juta IDR per bulan. Instrumen investasinya pun sama, memiliki return 10% per tahun.

Namun, berbeda dengan Anto yang berhenti menabung di tengah-tengah, Jeff sangat teliti dan rutin dalam menabung dan ini dilakukannya terus-menerus hingga saat dia berencana untuk pensiun bersama-sama dengan Anto pada usia 65 tahun.

Artinya jumlah uang yang ditabung oleh Jeff (tanpa memperhitungkan return) adalah sebesar 1,3 miliar IDR.

Setelah menutup praktiknya di hari terakhirnya bekerja, Jeff mengecek berapa dana pensiun yang berhasil dia akumulasi dari hasil investasinya dan mendapatkan jumlah sebesar:

10.768.564.992 IDR

Sepuluh miliar tujuh ratus enam puluh juta sekian rupiah.

Eh?

Mengapa Anto yang “hanya” seorang sarjana teknik memiliki dana pensiun hampir 2 miliar IDR lebih banyak daripada Jeff yang lebih banyak menabung dan lebih banyak mengorbankan waktu tidurnya karena ditelepon untuk kasus-kasus emergency yang tidak terhitung banyaknya selama bekerja?

The power of compound interest

Jawabannya sederhana:

Anto mulai menabung lebih dini.

Masalah utamanya adalah waktu.

That is the real power of compound interest.

Sehingga dapat Anda sadari bahwa kerugian dari terlambat memulai investasi itu sangat fatal:

Karena waktu tidak bisa dibeli atau diputar balik.

Jadi apakah sejawat masih bisa berbangga hati karena memiliki gaji tinggi walaupun timing memiliki gajinya terlambat 10 tahun?

NOTE: perhitungan di tabel di atas tidak memperhitungkan inflasi, pajak ataupun biaya-biaya sama sekali, dan tidak pernah ada instrumen investasi yang menawarkan fixed return 10%.

Tapi nominal gaji dokter kan “menyusul?”

Mungkin sejawat akan berpikir “ah itu kan hanya contoh yang diekstrimkan.” Pasti seorang dokter spesialis sanggup menabung lebih dari 3 juta IDR setiap bulannya. Gajinya saja bisa ratusan juta per bulan, tidak akan masih sebanding dengan lulusan S2 sekalipun.

Ok, legit objection.

But I am telling you, (too) many doctors live within their means and not below their means. Percuma seorang dokter spesialis memiliki gaji 100 juta IDR per bulan apabila uang keluarnya pun sejumlah demikian. You’d be surprised how many doctors (specialists included) don’t actually save a significant amount of their money, biasanya karena:

  • Cicilan terlalu banyak (rumah, mobil, dll) sehingga gaji setiap bulan langsung habis ke sana
  • Terlalu banyak membeli barang-barang untuk gaya hidup, sehingga uangnya tidak ada yang menjadi aset produktif

Lebih fenomenalnya lagi, seringkali dokter-dokter yang “bergaji tinggi” ini biasanya bahkan tidak memiliki sebuah penganggaran/budget setiap bulannya. Sehingga bisa dibayangkan berapa banyak uang yang keluar tanpa disadari (bocor halus) karena tidak dipagari melalui budgeting.

Jadi jangan berargumen “tidak mungkin dokter spesialis hanya bisa menabung 3 juta per bulan.” Pikirkan betul-betul apa yang menjadi pesan yang mau saya sampaikan melalui cerita pengandaian di atas.

Dan bukan hanya itu, banyak sekali sejawat yang tidak betul-betul memahami bahwa compound interest adalah teman terbaik dokter yang hampir selalu terlambat dalam hal memulai investasi. Akhirnya mereka “berinvestasi” hanya untuk mengambil return yang mereka dapat (return tidak dimasukkan kembali ke dalam pokok dana), sehingga return tersebut tidak compounding sama sekali dan tidak akan mengantarkan mereka ke tujuan investasi mereka lebih cepat.

Contoh-contoh cara “berinvestasi” yang tidak akan mengaktifkan efek compound interest:

  • Investasi di deposito, namun bunga depositonya tidak digulung ke dalam pokok dana investasi.
  • Beli surat berharga negara (SBN) dan kuponnya untuk dibelanjakan.
  • Investasi foreign exchange (forex) atau logam mulia.

Jangan terjebak dalam “rat race

Tujuan saya menuliskan ini bukanlah untuk mendiskreditkan status dokter spesialis, atau untuk membuat Anda merasa sedih. But this is a fact that we must realize.

“Pengorbanan waktu” yang dokter berikan untuk terus-menerus meningkatkan keilmuan dan pada akhirnya melayani masyarakat ternyata merupakan pedang bermata dua yang menyayat kehidupan kita dari segi personal finance: di satu sisi kita tidak mendapatkan pengajaran keuangan sama sekali dan di sisi lainnya kita rugi waktu banyak sebelum akhirnya mulai berinvestasi (baca: mengubah uang jadi aset).

Faktanya memang semua investor ternama menyatakan bahwa doctors are poor investors. Jangan sampai kita menjadi terlalu gengsi untuk mengakui hal ini, dan terus menerus menutup mata akan kebutuhan literasi keuangan di kalangan dokter.

Jangan sampai sejawat kita terus-menerus meningkatkan keilmuan, lulus sebagai spesialis, lanjut menjadi subspesialis atau bahkan menjadi guru besar, tetapi ditilik dari segi personal finance ternyata berantakan dan terlalu sedikit menyisihkan uang dari gajinya yang “besar” untuk dijadikan aset.

Personal finance yang baik akan lebih pasti mengantarkan seorang dokter ke masa pensiun/financial independence yang menyenangkan. Tidak hanya semata-mata mengenai mencapai masa pensiun, tetapi menurut saya dengan personal finance yang baik, seorang dokter akan menjalani pekerjaannya sehari-hari dengan lebih objektif, dan pada akhirnya pasti meningkatkan kualitas pelayanan pasien.

Be humble financially, and I’m 120% sure you’re going to get there!


Apakah Anda juga merasa “tertinggal” dalam hal menabung dan berinvestasi?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

9 thoughts on “Sedihnya Jadi Dokter Spesialis”

  1. Dok, sepertinya ada saltik dikit, tertulis dalam artikel “10.768.564.992 IDR Sepuluh juta tujuh ratus enam puluh juta sekian rupiah.” , seharusnya “Sepuluh milyar tujuh ratus enam puluh juta sekian rupiah”.

    Reply
  2. Yes.. fakta .. baru2 ini salah seorang senior spesialis senior terkena musibah,, lalu menyatakan kekurangan cash yg liquid krn bnyk ambil cicilan rumah, tanah, mobil yg masi on going.. bukan bermaksud buruk, namun ini pelajaran bagi saya bahwa sedini mungkin menabung di intrumen investasi yg kita pahami itu “krusial” .. serta dasar utama ilmu “budgeting” juga penting.. bukan brrtinsama sekali tidak menikmati hingar bingAr dunia loh ya..

    Reply
  3. Thankyou doc!
    Membaca tulisan2 dokter benar2 membuka pengetahuan saya dan sangat relevan karena saya dan suami sama2 baru memulai karir sbg dr.spesialis. Jadi, disiplin unt budgetting, setting goal, then choosing instrument! And we believe that it is not always about the amount that we get every month but how to manage it, right?

    Reply

Leave a Comment