Cara Berinvestasi secara Pasif

Artikel ini sebenarnya merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya mengenai FIRE Movement.

Jika Anda sudah mengetahui dan sudah mulai mempelajari mengenai apa itu FIRE Movement, maka Anda akan menyadari bahwa gaya investasi yang diterapkan adalah dengan cara yang pasif.

Baru pernah dengar bahwa ada cara pasif untuk berinvestasi? Saya pun baru mendengarnya di usia 33 tahun.

And I wish I had known it from back when I was 20 years old.

Apa yang dimaksud dengan investasi pasif?

Investasi aktif adalah seperti memulai sebuah bisnis start-up, makanan/minuman, kos-kosan, jual-beli properti dsb, dimana Anda diharuskan untuk meluangkan pikiran, waktu dan tenaga yang cukup banyak (yang menurut saya cukup sulit untuk dilakukan sambil praktik sebagai dokter).

Sementara investasi pasif jauh lebih sederhana dari itu, dan cocok untuk orang-orang yang tidak punya dasar otak marketing atau bisnis seperti saya, atau orang-orang yang tidak punya waktu untuk menganalisa pergerakan pasar, ekonomi negara, dan sebagainya.

To put it simply, the steps are:

  • Lakukan penganggaran/budgeting
  • Tetapkan kemampuan menabung (savings rate) setiap bulan
  • Susun portfolio investasi
  • Masukkan tabungan bulanan ke instrumen investasi yang telah ditetapkan
  • Biarkan compound interest bekerja
  • Lakukan keseharian Anda seperti biasa

Yup, that’s it!

Jika Anda perhatikan, intinya hanya 2, yaitu: tetapkan portfolio dan rutin menabung! Tentunya menabung di sini dalam arti tabungan yang dijadikan aset dalam instrumen investasi, bukan tabungan uang tunai di bank. Maka ketika sudah ada cara semudah ini untuk bisa perlahan membangun kekayaan, kenapa harus cari yang rumit dan mau cari “uang cepat” terus?

Masalah utama: mental manusia

Yang seringkali menjadi penghalang utama kenapa banyak orang tidak menyadari atau tidak menggemari cara berinvestasi ini adalah karena mental manusia memang tidak didesain untuk sabar jika berhubungan dengan uang. Dari blueprint kita diciptakan, sudah ada di dalam benak kita bahwa keuntungan yang dapat dirasakan adalah keuntungan yang besar dan tiba-tiba.

Sehingga tidak masuk di akal kebanyakan orang bahwa cara untuk membangun kekayaan justru adalah dengan mengesampingkan sejumlah uang yang kita punya, dan menjadikan uang tersebut menjadi aset atau uang yang bekerja untuk kita dalam mencari uang lagi. Untuk mereka it doesn’t make sense! How can you gain more money by putting it aside???

Untuk sebagian yang membaca artikel ini, mungkin ini hanyalah jadi sebuah bacaan yang sambil lalu.

Namun untuk yang betul-betul merenungkannya, mengetahui hal ini akan merubah hidup Anda dan bagaimana cara Anda memandang uang selama ini.

Because it sure changed me and my view on money.

Cara berinvestasi secara pasif

Tentunya sekarang yang menjadi pemikiran Anda adalah bagaimana tepatnya cara berinvestasi secara pasif. Caranya adalah dengan sebuah metode investasi yang dikenal dengan nama indexing/indeksasi.

Apa itu indexing? Indexing adalah berinvestasi pada reksa dana (RD) indeks (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai index fund), yang berarti manajer investasinya akan mengelola uang dengan cara yang pasif. Mereka hanya akan melakukan tracking terhadap sebuah indeks saham, dan tidak akan melakukan hal-hal yang bersifat spekulatif (seperti trading, dll). Oleh karena itu, management fee-nya pun biasanya cukup rendah (walau belum serendah index fund di AS). Detil management fee ini dapat Anda lihat di prospectus/fund fact sheet, atau di aplikasi supermarket RD yang dirangkumkan sebagai angka expense ratio (setelah memperhitungkan fee-fee lainnya juga).

Namun perlu diketahui bahwa index fund yang ada di Indonesia tidaklah sama dengan yang di AS, karena mereka memiliki index fund yang betul-betul melakukan tracking terhadap keseluruhan saham yang beredar. Indonesia belum memiliki RD indeks yang melakukan tracking terhadap IHSG  atau seluruh emiten yang beredar di pasar saham, namun hanya ke beberapa indeks yang berisi emiten yang kinerjanya bagus seperti IDX30 atau LQ45.

Emiten-emiten yang dapat Anda lihat di dalam indeks tersebut mayoritas merupakan emiten-emiten saham yang sering disebut sebagai saham blue chips. Mudahnya, saham-saham blue chips adalah saham perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar (baca: duitnya banyak). Karena, untuk menjadi sebuah emiten yang dimasukkan ke kedua indeks di atas tersebut beberapa syaratnya antara lain memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas yang tinggi. Adapun likuiditas tinggi artinya aktivitas jual-beli saham perusahaan tersebut tinggi di pasar saham. Mudahnya: kapanpun Anda mau beli pasti ada yang jual, dan sebaliknya kapanpun Anda mau jual pasti ada yang mau beli.

Mengapa ini penting dalam hubungannya dengan indexing?

Karena dengan melakukan indexing atau membeli unit RD indeks, maka Anda tidak perlu lagi pusing-pusing memilih saham perusahaan mana yang harus Anda beli, menganalisa laporan keuangan secara mendalam, membeli beberapa saham berbeda dalam rangka melakukan diversifikasi, dsb.

You basically own them all!

Warren Buffet, sosok investor yang paling terkenal di dunia pun mengakuinya:

“A low-cost index fund is the most sensible equity investment for the great majority of investors,”

“By periodically investing in an index fund, the know-nothing investor can actually out-perform most investment professionals.”

Pada saat orang terbesar di dunia finance pun mengatakan bahwa investor pasif yang “tidak tahu apa-apa/know-nothing investor” dapat mengalahkan kebanyakan profesional di dunia investasi, Anda mau berargumen apa lagi?

Harus dilakukan secara rutin

Yang menjadi kunci dalam membangun kekayaan secara pasif adalah konsistensi. Setelah Anda menetapkan portfolio investasi dan mengetahui kemampuan menabung/savings rate Anda setiap bulan berapa, maka tinggal satu hal yang perlu dilakukan, yaitu menginvestasikan uang yang ditabung setiap bulan tersebut ke dalam portfolio investasi Anda secara rutin.

Strategi ini dikenal dengan nama dollar cost averaging (DCA), yang definisinya dapat Anda baca di sini. Dengan “menyebar” masuknya uang kita ke sebuah instrumen investasi, maka secara tidak langsung kita menghindari kerugian dari penurunan nilai investasi kita, terutama saat memasuki/menuju sebuah periode bear market.

Di sini biasanya beberapa orang akan “bernegosiasi” dengan dirinya sendiri untuk tetap mencoba melakukan market timing, biasanya dengan melakukan strategi DCA namun tetap mencoba memilih-milih saat untuk membeli di harga terendahnya. Hal ini menurut saya pointless, karena menjadi tidak ada bedanya dengan berinvestasi secara aktif, yang sudah kita bahas di atas. So make sure you don’t do this stupid thing.

Mudah namun sulit

Untuk dapat menginvestasikan tabungan bulanan kita rutin ke instrumen-instrumen investasi yang sama merupakan hal yang sangat mudah, namun juga sangat sulit untuk dilakukan.

Mengapa sulit? Karena seiring dengan perjalanan Anda berinvestasi, maka Anda akan sering mempertanyakan apakah portfolio Anda sudah optimal, terutama jika mayoritas portfolio Anda di instrumen saham dan melihat gejolak naik-turunnya harga saham secara keseluruhan.

Namun tenang saja, karena berdasarkan modern portfolio theory, sebuah teori yang dikemukakan oleh Harry Markowitz, penyusunan sebuah portfolio yang tetap dan terkalkulasi dapat memberikan kepada investor imbal hasil yang maksimal dengan risiko yang serendah mungkin. Banyak perhitungan matematis di belakang pernyataan ini dan mungkin tidak akan saya bahas mendetil, namun yang jelas beliau mendapatkan Nobel Prize untuk teori ini. I guess it’s enough to prove to you that the mathematics work.

Mengenai bagaimana cara menyusun sebuah portfolio untuk investor tidak ada yang 100% tepat, artinya sebenarnya Anda memiliki kebebasan untuk menyusunnya berdasarkan profil risiko Anda. Hal ini akan saya ulas di dalam blog post yang lain.

Sudah siap menjadi investor pasif?


Apakah ini pertama kali Anda mendengar mengenai investasi pasif?

Tinggalkan komentar di kolom di bawah atau melalui ikon chat di kanan bawah.

Leave a Comment