Membongkar Mitos-mitos mengenai Finance

If you spend too much time thinking about a thing, you’ll never get it done

Bruce Lee

Penghalang untuk mulai berinvestasi

Ketakutan terbesar yang seringkali menghalangi seseorang untuk mulai investasi adalah takut rugi/kehilangan uang. Namun sudah sangat sering saya ungkapkan bahwa seringkali yang membatasi kita dari mengambil langkah pertama tersebut adalah ketidaktahuan. Ilmu finance yang banyak orang dapatkan biasanya adalah ilmu “katanya:”

“Menurut mertua saya katanya jangan investasi di instrumen itu.”

Kata orang bank saya investasi instrumen A tidak akan untung.”

“Teman baik saya kasih info ke saya bahwa katanya investasi di instrumen B itu lama cuan nya.”

Mungkin menurut saya mirip dengan pasien yang sudah memulai pengobatan sendiri karena menuruti kata temannya sebelum berobat ke dokter.

When are you gonna stop listening to them, stop whining and start studying it for yourself?

Yang cukup sering menemani ketakutan ini adalah mitos-mitos yang seringkali diungkapkan oleh orang-orang di sekitar kita (bukan tidak mungkin bahkan keluarga kita) yang membuat kita bahkan tidak mau memulai untuk mempelajarinya.

Saya bukan hendak menjadi orang yang sok tahu, tapi saya mengutarakan ini karena dulu saya pun ada di posisi tersebut: sangat skeptis dan penuh keraguan dengan dunia finance yang penuh tipu muslihat.

Berikut ini adalah kompilasi mitos-mitos yang dulu saya takuti, namun setelah saya mempelajarinya, ternyata merupakan omong-kosong dan hanya membuat orang semakin jauh dari prinsip-prinsip investasi dan cara membangun kekayaan yang sebenarnya.

1. Menabung pangkal kaya

Bukankah ini yang diajarkan selama kita sekolah? Well, mungkin tidak sepenuhnya salah karena mental untuk tidak menghabiskan seluruh uang yang kita miliki adalah konsep dasar yang sangat baik. Namun dari kacamata investor, tentunya menabung di dalam bentuk rekening tabungan biasa tentunya adalah sebuah kebodohan.

Mengapa? Karena uang yang Anda simpan dalam jangka panjangnya akan termakan inflasi. Bunga yang ditawarkan sudah pasti tidak akan mengalahkan inflasi. Bahkan dengan biaya administrasi saja sudah kejar-kejaran. Saya tekankan lagi: uang yang Anda tabung di dalam rekening tabungan adalah uang yang Anda tahan dari bekerja dan Anda biarkan terkurung dan termakan oleh inflasi suatu saat nanti.

Sehingga menabung dalam hal membangun kekayaan sejatinya berarti adalah tabungan yang diinvestasikan di dalam sebuah instrumen investasi. Biarkan uang Anda bekerja untuk mencari uang lagi untuk Anda.

2. Budgeting/penganggaran hanya untuk orang yang pemasukannya pas-pasan

Latar belakang dari pernyataan ini adalah pemikiran bahwa semakin banyak gaji yang kita terima maka pengaturan keuangan akan semakin mudah karena tidak perlu pusing dengan pengeluaran. Namun ternyata kenyataannya adalah sebaliknya: justru semakin banyak uang yang kita miliki biasanya gaya hidup akan cenderung naik mengikuti, cicilan akan semakin banyak dan tidak terpantau, sehingga hidup seseorang jadi lebih mudah terdikte oleh uang.

Before you know it, you have been living paycheck to paycheck.

Why? Because you didn’t have a budget.

3. Budgeting itu dibuat nanti saat pemasukan sudah berlebih

Berkebalikan dengan poin nomor 2, orang-orang yang berpikir seperti ini biasanya menjadikan pemasukan yang masih pas-pasan menjadi alasan untuk tidak melakukan budgeting.

Padahal, penyusunan budgeting di saat uang kita masih pas-pasan justru dalam jangka panjang akan lebih mendewasakan kita dalam pengaturan keuangan pribadi, terutama dari segi behavioral finance.

Dengan melalukan budgeting di masa uang Anda masih terbatas, Anda dapat mengetahui dengan pasti seberapa banyak pengeluaran Anda terbuang untuk kebutuhan lifestyle yang seringkali lebih tinggi dari kemampuan kita sebenarnya.

Dengan mengetahui bahwa pada tahap awal pengaturan keuangan pribadi kemampuan Anda untuk menabung dalam rangka berinvestasi masih kecil, maka di masa depan ketika pendapatan Anda sudah bertambah, Anda akan semakin menghargai kelebihan uang tersebut dan cenderung untuk lebih mempertahankan lifestyle di posisi stabil dan tidak melonjak, dan lebih senang jika Anda memiliki kemampuan untuk menabung lebih banyak.

4. Membuat budgeting itu susah dan lama

Kemungkinan penjelasan pemikiran orang yang berpikir seperti ini hanya ada dua: malas atau tidak tahu harus bagaimana. Kalau Anda termasuk opsi yang pertama, might as well stop reading now, you’re not getting anywhere anyhow anyway. Namun kalau Anda tidak tahu harus bagaimana, maka berbahagialah karena saya sudah membuat sebuah tutorial budgeting sederhana dengan Microsoft Excel yang dapat Anda dapatkan dengan subscribe untuk Dissecting Money Newsletter di sini.

Video tersebut berdurasi sekitar 30 menit, dan waktu itu jugalah yang Anda butuhkan untuk membuat sebuah rencana budgeting sederhana. Tidak mungkin Anda tidak memiliki 30 menit untuk diluangkan dalam sebulan.

NOTE: Budgeting tidak mungkin bisa langsung sempurna setelah satu kali dijalankan. Rata-rata, Anda akan membutuhkan waktu 3 bulan untuk melakukannya secara rutin dan menemukan pola budgeting yang terbaik sesuai dengan skema pendapatan bulanan Anda.

5. Investasi hanya untuk orang kaya

Biasanya pemikiran ini disebabkan karena iliterasi finansial. Ya, jika Anda adalah seseorang yang pernah buta finansial, maka Anda akan mengetahui bahwa all it takes is just the proper knowledge. Masalahnya adalah, kebanyakan orang berhenti di situ dan tidak memulai untuk belajar finance sama sekali.

Contoh gampangnya: jika Anda adalah seseorang yang buta finansial, maka Anda akan menganggap bahwa bunga 7%  per annum hanya akan menguntungkan untuk orang yang punya uang 1 miliar atau lebih, karena imbal hasil yang Anda dapatkan akan lebih besar dari yang punya uang sedikit. Pemikiran ini tentunya ada karena Anda tidak memiliki dasar pengetahuan mengenai konsep compound interest, time value of money, dll.

It’s not how much money you make.

It’s how much you save.

6. Financial planning itu hanya untuk orang kaya

Saya kira kenyataannya justru sebaliknya: orang kaya adalah orang biasa (dari segi kekayaan) yang pada suatu titik kehidupannya menjadi melek finansial dan mulai melakukan financial planning.

Bukan karena seseorang itu kaya maka dia melakukan financial planning.

Namun karena dia melakukan financial planning maka dia menjadi kaya.

7. Asuransi murni = sobek uang

Saya pun dulu beranggapan seperti ini. Namun semakin saya mempelajari seluk-beluk finance, semakin saya menyadari bahwa produk asuransi yang dibalut dengan investasi bukanlah cara berinvestasi yang baik, dan bahkan bukan cara yang baik untuk memahami konsep asuransi sebenarnya. Semua buku yang menginginkan pembacanya untuk lebih cerdas finansial akan menganjurkan untuk mengambil asuransi murni, yang seringkali disalahartikan oleh “pemula” sebagai “menyobek uang.”

Logikanya seperti ini: anggaplah Anda membayar uang keamanan lingkungan di kompleks rumah Anda untuk periode satu tahun. Apakah artinya dalam setahun tersebut rumah Anda harus mengalami perampokan yang digagalkan dulu oleh satuan keamanan baru Anda merasakan manfaatnya? Tentu tidak.

Asuransi murni pun seperti itu. Pada akhir dari periode sebuah polis, apabila Anda tidak melakukan klaim apa-apa, bukan artinya Anda rugi. Perasaan aman yang “memayungi” Anda selama satu tahun tersebut, itulah yang Anda telah bayarkan.

8. Punya kartu kredit dijamin jadi boros

Bukan kartu kreditnya yang membuat Anda menjadi boros. Isi kepala Anda yang selalu membuat Anda menjadi boros.

Kartu kredit gunanya bukan untuk membeli/mencicil hal-hal yang kita inginkan, namun hanya sebagai kemudahan. Ya, kemudahan karena kita tidak perlu membawa uang tunai ataupun mengambil uang di ATM terlebih dahulu. Kalau kemudian Anda menggunakan fasilitas ini untuk membeli hal-hal yang ternyata di luar kemampuan keuangan Anda, itu adalah diri Anda yang corrupted jika dipandang dari segi psikologi finance.

Penggunaan kartu kredit yang bijak (selalu dibayar full setiap tagihannya, tidak hanya pembayaran minimum) bahkan dapat memberikan Anda reputasi (skor kredit) yang baik, yang dapat memudahkan Anda jika suatu saat memerlukan pinjaman uang dari bank.

9. Menabung artinya harus hidup pelit dan tidak bisa menikmati hidup

Sedihnya, argumen ini selalu keluar dari seseorang yang tidak menyadari bahwa dia sedang hidup boros. Pernyataan ini dijadikan sebagai pembelaan diri untuk financial behaviour yang buruk.

Pertama-tama harus kita bedakan dulu antara hidup hemat (frugal) dan hidup pelit. Analogi mudahnya:

  • Jika Anda BAB setiap hari di kantor/RS agar bisa menghemat penggunaan tisu toilet di rumah, Anda sedang hidup hemat.
  • Jika Anda membawa pulang segulung tisu toilet dari kantor/RS agar bisa mengelap bokong Anda jadi bersih di rumah, Anda sedang hidup pelit.

Intinya jika sikap Anda merugikan orang lain di sekitar Anda, itu namanya pelit, bukan hemat.

Lagipula, ada banyak cara untuk tetap menikmati hidup selagi menjalankan praktik hidup hemat. Salah satu contoh adalah mempraktikkan yang biasa disebut sebagai the 10% rule untuk menikmati sebagian dari kenaikan gaji Anda. Akan saya bahas lebih mendalam mengenai ini dalam sebuah blog post lain.

Ini adalah masalah perspektif. Dibandingkan membeli segelas jus buah di restoran sekarang, saya lebih memilih untuk membawa air putih dari rumah agar saya dapat membeli segelas jus buah di masa pensiun nanti. Jika Anda kemudian mencoba meng-counter dengan argumen “tapi kan besok belum tentu kita masih hidup,” seriously? That’s how long you expect yourself to live? How shallow.

10. Terjun ke investasi berarti sudah memulai financial planning

Nope, nekat terjun dan berinvestasi tanpa belajar dan melakukan financial planning sebelumnya adalah sebuah kebodohan. Namun sayangnya mayoritas orang, generasi ke generasi tetap melakukan kesalahan yang sama, seperti dibuktikan oleh banyak sekali buku-buku mengenai finance.

Financial planning atau perencanaan keuangan itu justru merupakan dasar sebelum Anda mulai berinvestasi. Artinya kalau Anda sudah memulai dan langsung berinvestasi, Anda sudah melewatkan satu langkah awal yang vital. Apa arti dari sebuah organ tubuh manusia yang “vital?” Artinya kalau organ tersebut tidak ada, Anda MATI!

Begitupun kehidupan finansial Anda, jika Anda melewatkan langkah dasar perencanaan keuangan sebelum mulai berinvestasi, Anda sedang melangkah menuju “kematian” secara finansial.

If you fail to plan, you plan to fail.


Sekian mitos-mitos yang beredar dalam keseharian kita mengenai finance.

Saya berharap Anda sudah belajar sedikit lebih banyak lagi melalui pembacaan ini, dan sekali lagi saya ingatkan: Jangan puas dengan mendapatkan ilmu keuangan dari keluarga atau teman atau broker atau bankir.

Find it out for yourself.


Apakah Anda pernah mempercayai salah satu atau lebih mitos di atas? Tinggalkan komentar, saran ataupun pertanyaan di kolom di bawah ini.

Leave a Comment