Ilusi Sukses Melalui Bisnis

The ones who are left behind

Sebagai peringatan di awal, jika Anda adalah seseorang yang merasa dan masih meyakini bahwa membangun/memiliki sebuah bisnis adalah satu-satunya cara untuk sukses, untuk membangun kekayaan dan mencapai financial independence, maka artikel ini bukanlah untuk Anda. You’re not going to like what I’m going to say.

Karena di artikel ini saya akan mengemukakan mengapa menurut saya pencapaian kesuksesan melalui membangun sebuah bisnis – seumur hidup hanya akan menjadi sebuah ilusi bagi kebanyakan orang. Apalagi orang-orang yang “buta” dan tidak memiliki “otak bisnis” seperti saya.

Coba lihat di sekitar Anda, berapa banyak teman atau keluarga yang bisa dibilang sukses melalui bisnis yang dibangunnya sendiri? Kemungkinan akan ada, tapi jika dibandingkan dengan keseluruhan jumlah teman kita, pasti tidak bisa dibilang banyak, hanya sebagian kecil.

Then people will start saying that it was because they were brave enough to follow their dream and take risks, blablabla..

Dan kitapun tertinggal dengan pemikiran-pemikiran:

“Mengapa saya tidak memiliki keberanian untuk berpetualang ke arah bisnis?”

“Apakah artinya saya tidak akan pernah sukses apabila saya tidak memulai bisnis sendiri?”

And while we’re thinking about these, those success-through-business guys will do nothing about it. So in their eyes, we’re just the ones who are “left behind.”

Saya ada di sini untuk memberitahu Anda bahwa Anda tidak ketinggalan apa-apa sama sekali. Cara untuk dapat membangun kekayaan tidak hanya melalui bisnis. You can even be richer than them in your net worth someday. Terkadang mereka hanya pura-pura kaya anyway.

Bisnis belum tentu mengantarkan Anda ke financial independence

Sudah mulai bosan mendengar saya membicarakan hal ini? Saya akan terus mendengungkannya di telinga Anda, agar Anda menyadari bahwa sebetulnya banyak sekali hal dalam membangun kekayaan yang dapat Anda lakukan sekarang, dan bahkan tidak memerlukan ide bisnis sama sekali.

Namun pada artikel kali ini saya hanya akan mengungkapkan beberapa alasan mengapa menurut saya membangun/memiliki sebuah bisnis tidak serta-merta membuat jalan Anda menuju financial independence semakin mulus, seperti banyak salah ditafsirkan oleh orang-orang. If anything, you only need one wrong move in a business to take you back to the point where you started, if not further back.

Literasi keuangan yang tidak mumpuni

Setiap kali saya mengemukakan bahwa dokter tidak dibekali dengan literasi keuangan yang cukup, hampir semua sejawat akan menyetujuinya. Lalu bagaimana caranya seseorang yang tidak memiliki bekal literasi keuangan sama sekali kemudian berharap akan bisa mengatur corporate/business finance dengan baik? Itu tidak ada bedanya dengan mengharapkan seorang co-ass untuk operasi open reduction and internal fixation (ORIF) mandiri di hari pertamanya jaga malam.

Pengaturan keuangan pribadi/personal finance saja kebanyakan dari kita belum sehat, bagaimana jika kita harus bertanggung-jawab terhadap gaji orang-orang di dalam bisnis kita?

Just because you have the money, doesn’t mean you have to start a business.

Tingkat risk dan reward yang tinggi

Dari dulu yang selalu digadang-gadangkan oleh orang yang mau menjadi sukses melalui bisnis adalah karena bisnis memiliki high risk-high return.

Which is exactly the reason why you’d be stupid to try to build a business without the proper knowledge and/or experience.

Why would you want an instrument with the highest risk on your first attempt to be financially successful? Karena iming-iming bahwa reward-nya adalah yang paling besar? That’s a decision based on greed, not wisdom.

Siapa bilang memiliki bisnis artinya jadi punya passive income?

Ini adalah satu konsep paling omong-kosong yang selalu disuarakan oleh orang-orang: kalau punya bisnis, artinya kita punya passive income di samping pekerjaan utama yang menjadi active income kita.

Business is a full-time job!!!

Membangun/memiliki sebuah bisnis di bidang yang Anda geluti itu adalah sebuah full-time job yang mengharuskan Anda untuk meluangkan waktu, pikiran dan tenaga yang cukup banyak. Tidak mungkin Anda bisa memiliki sebuah bisnis yang baru saja dibentuk dan kemudian berharap semuanya akan bisa berjalan sendiri dan Anda langsung mendapatkan “passive” income darinya.

Bahkan jikalau Anda mempercayakannya kepada seseorang yang Anda sangat percayai (sebuah konsep yang entah mengapa dipegang banyak orang untuk bisa mendapatkan “passiveincome tadi), tinggal tunggu waktu sebelum Anda terdepak dari bisnis tersebut karena orang-orang di bisnis Anda mulai berpikir bahwa Anda tidak bekerja namun meraup untung dari kerja keras mereka.

Tidak akan menghasilkan pendapatan pasif 3-5 tahun pertama

Jika Anda mendengar seseorang bicara bahwa keuntungan dari memiliki bisnis yang running dengan baik adalah bisa mencapai titik balik modal atau break even point setelah 3-6 bulan, I’d say that it’s too good to be true. Karena pernyataan tersebut mengasumsikan bahwa bisnis Anda langsung laku dan diketahui oleh semua orang di sekitar Anda, dan semua hal termasuk manajemen keuangannya berjalan dengan baik.

Apakah semua bisnis yang baru dimulai akan mengalami hal yang mulus seperti demikian? Ternyata data menunjukkan bahwa rerata waktu untuk bisa mencapai break even point adalah 3 tahun (dengan catatan semua berjalan mulus). So, not as good as it was promised, right?

Bagaimana jika tiba-tiba dihantam krisis seperti sekarang? Statistik menyatakan bahwa mayoritas usaha kecil dan menengah rata-rata hanya bisa bertahan selama 27 hari dalam kondisi krisis dan tidak mendapatkan profit sebelum akhirnya harus gulung tikar. Dan inilah yang saya maksud dengan “kembali ke titik awal atau bahkan lebih jauh” tadi. Pada saat bisnis Anda kandas, Anda tidak dapat mengharapkan imbal hasil apa-apa lagi, dan Anda harus mulai dari nol atau bahkan minus (karena utang usaha akan terus berjalan).

Lalu ada juga sebagian orang yang berpikir bahwa memiliki sebuah bisnis itu enak karena “keuntungannya bisa diatur sendiri.” Menurut saya justru sebaliknya: fakta bahwa untuk mendapatkan keuntungan kita harus mengatur segala sesuatunya sendiri menurut saya seharusnya justru menjadi hal yang paling menakutkan. Orang yang mengeluarkan pernyataan tersebut bisa saya pastikan tidak mengerti apa perbedaan antara personal finance dan corporate/business finance. Kalau Anda berpikir bahwa karena Anda yang memulai bisnis maka semua profit-nya akan langsung masuk ke kantong Anda, think again. Think again hard.

Mental kebanyakan orang tidak dipersiapkan untuk iklim bisnis

Sedikit kembali ke poin pertama: jangan lupa bahwa kebanyakan orang yang memiliki mimpi untuk membangun bisnis biasanya tidak memiliki latar belakang pengetahuan keuangan yang mencukupi. Sekarang akan saya bahas sedikit sisi behavioral economics atau sisi dari keuangan yang akan menghantam kita secara psikologis.

Seperti sudah disetujui tadi, sebuah bisnis sejatinya adalah suatu kendaraan untuk mencapai tujuan investasi yang memiliki imbal hasil paling tinggi, tetapi juga dengan risiko yang paling tinggi.

Jika Anda belum pernah mengalami suatu situasi di mana portfolio investasi saham Anda minus sebanyak 15% (ini pun hanya unrealized loss), dimana seseorang biasanya akan mulai putus asa dan cenderung akan mengambil keputusan untuk jual rugi, apakah menurut Anda, Anda bisa bertahan jika ternyata secara perhitungan, bisnis Anda mengalami kerugian? Apalagi di bulan-bulan pertama bisnis tersebut berjalan? Kira-kira berapa bulan Anda memperkirakan mental Anda dapat bertahan – sambil tetap berpraktik setiap harinya – sebelum akhirnya Anda mulai berpikir bahwa “this is not going to work?”

Lanjut ke poin saya berikutnya. Anda pasti sering membaca/melihat konten bahwa para pebisnis yang terkenal sukses biasanya tidak langsung sukses pada bisnis pertamanya dan harus melewati beberapa kegagalan terlebih dahulu. Dari kegagalan-kegagalan tersebutlah oknum-oknum tersebut banyak belajar mengenai business finance dan mengubah cara-cara mereka dalam menjalankan bisnis.

Apakah Anda yakin Anda memiliki waktu, tenaga dan pikiran untuk melewati beberapa kegagalan tersebut – sambil praktik, sambil mengatur keuangan keluarga – sebelum akhirnya bisnis Anda menjadi suatu hal yang mengantarkan Anda ke kesuksesan?

Belum lagi untuk bisa memajukan bisnis secara berkala, mungkin Anda harus mengambil utang usaha untuk dijadikan leverage atau pengungkit untuk membawa bisnis Anda ke level selanjutnya. Apakah mental Anda siap untuk menghadapi cicilan bulanan untuk usaha di luar cicilan-cicilan pribadi/keluarga?

Think very hard. I’m not here to scare you. I’m just here to stimulate your brain to think.

You want the prestige, not the actual wealth

Hal terakhir yang mau saya ungkapkan adalah: pada saat Anda bermimpi untuk sukses melalui memiliki sebuah bisnis, yang Anda inginkan mungkin lebih ke image atau citra seorang businessman/woman:

  • Mengenakan jas atau blazer tailored-fit yang berbeda setiap hari
  • Diantar sopir dan turun dari mobil mewah
  • Terbang naik business class (supaya bisa post di Instagram)
  • Rapat di kantor yang berlantai tinggi dengan background pemandangan kota
  • Liburan dengan menyewa atau bahkan memiliki yacht pribadi

Maybe, just maybe: when you’re thinking about “having a business,” you’re not actually thinking of financial independence?

You just want the prestige it brings.

Karena menurut saya, itu bukanlah inti dari mencapai financial independence, dan Anda tidak harus membangun/memiliki sebuah bisnis untuk mencapainya.

Bagaimana cara membangun kekayaan dan mencapai financial independence TANPA BERBISNIS sudah saya ungkapkan di beberapa artikel berikut ini:

Oh, and by the way, if you’re investing in stocks (especially index funds), you LITERALLY own all the top companies with their business anyway.

Jadi ada cara yang jauh lebih mudah, untuk apa pilih jalan yang sulit?


Apakah pikiran Anda masih berkutat seputar kesuksesan atau kekayaan hanya bisa dicapai dengan membangun/memiliki sebuah bisnis?
Tinggalkan komentar Anda di kolom di bawah ini.

2 thoughts on “Ilusi Sukses Melalui Bisnis”

  1. Akhirnya ada penjelasan yang mungkin paling masuk akal (bukan untuk membela diri yang basic-nya mungkin bukan bisnis), bahwa ada step yang bisa dibilang mesti dilewati sebelum ke bisnis yang ternyata masuk high risk high return. Bisa saja tidak semua orang sependapat, tapi data menyatakan bahwa bisnis tidak semuanya langsung sukses.
    Thaks a lot doc..

    Reply

Leave a Comment