Belajar dari Itaewon Class

Photo by The Creativv on Unsplash

Belajarlah dari drama Korea (drakor)

Saya sendiri bukanlah seorang penggemar drama Korea sebelumnya, karena saya pikir akan terlalu condong ke membahas masalah percintaannya. Itaewon Class adalah drama Korea pertama yang saya tonton dari awal hingga tamat, dan sepertinya cukup mengubah pandangan saya mengenai drama Korea secara keseluruhan, karena ternyata banyak sekali hal-hal dan nilai-nilai kehidupan di luar percintaan yang bisa kita pelajari.

Dalam hal finance khususnya, Itaewon Class sangat menarik perhatian saya karena beberapa konten di media sosial sudah menunjukkan sebelumnya bahwa banyak hal mengenai finance yang dapat kita pelajari dari drama ini. I have to say there’s so much truth in it, dan saya akan coba jabarkan berikut ini nilai-nilai krusial mengenai personal finance yang saya dapatkan dari Itaewon Class. Tanpa perlu dibilang, pastinya artikel ini banyak mengandung spoiler, sehingga mungkin tidak cocok bagi sejawat yang belum menonton serial ini.

So please don’t laugh if I post Korean drama stuff, ’cause I’m really looking for something to study, not just to fill my leisure time (yeah right, good luck defending that reason, oppa).

Pentingnya asuransi jiwa

Cerita serial ini diawali dengan terbunuhnya ayah dari sang pemeran utama (Park Saeroyi) akibat sebuah peristiwa tabrak-lari. Yang menarik adalah, dengan berjalannya cerita, kita mengetahui bahwa ternyata ayah Park Saeroyi memiliki asuransi jiwa, sehingga dengan meninggalnya ayahnya, Park Saeroyi mendapatkan lump sum uang pertanggungan yang jumlahnya cukup besar (tidak disebutkan berapa). Akibat percobaan pembunuhan karena ingin balas dendam terhadap orang yang menabrak ayahnya, Park Saeroyi harus masuk penjara untuk waktu yang cukup lama (saya lupa berapa tahun).

Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa ada risiko-risiko di dalam hidup yang harus kita persiapkan, di mana salah satunya adalah kematian di saat kita masih memiliki tanggungan (orang yang hidup dari pendapatan kita). Tentu, semua orang akan bilang bahwa hidup-mati itu di tangan Tuhan. Namun, mempersiapkan biaya hidup untuk orang-orang yang masih kita tanggung di saat kita masih memiliki pendapatan adalah sebuah keputusan yang ada di tangan kita.

Menariknya, saya melakukan sedikit riset tentang literasi keuangan orang-orang di Korea Selatan, dan ternyata mereka memiliki literasi keuangan yang tingkatnya hanya sedikit di bawah warga Amerika Serikat. Beberapa sumber menyatakan bahwa mereka belajar banyak dari krisis ekonomi Asia-Pasifik tahun 1997. Jadi merupakan hal yang sangat menarik untuk saya saat melihat di serial ini, keluarga Park Saeroyi yang hanya dari golongan menengah, tetapi sudah memiliki literasi keuangan yang cukup untuk menyadari pentingnya memiliki asuransi jiwa.

Di serial ini bahkan Park Saeroyi bisa mencairkan uang pertanggungan tersebut, yang artinya di suatu waktu saat ayahnya masih hidup, ayahnya sudah pernah mengajarkan ke anaknya bahwa beliau memiliki polis asuransi jiwa, letak buku polisnya di mana, dan bagaimana proses untuk mencairkannya. Mungkin Anda akan tertawa mendengar hal ini, tetapi kebanyakan orang yang memiliki asuransi jiwa bahkan tidak mengetahui bahwa buku polis tersebut harus diketahui oleh termaslahat (yang akan menerima uang pertanggungan) dan diajarkan bagaimana cara mencairkannya. Kenapa? Karena tertanggung (kita yang memiliki asuransi jiwa) sudah meninggal dan tidak bisa lagi mengajarkannya pada saat uang tersebut hendak dicairkan.

Mengetahui tujuan uang pertanggungan dari asuransi jiwa

Seiring dengan berkembangnya jalan cerita, kita mengetahui bahwa sepeninggalan ayahnya, Park Saeroyi tetap hidup mengembara dan berjuang keras di dalam kehidupannya, dan kita pun menganggap bahwa seorang anak muda ini telah hancur kehidupannya karena harus hidup seorang diri setelah kematian ayahnya. Baru belakangan kita mengetahui bahwa ternyata ada sejumlah uang pertanggungan asuransi jiwa ayahnya yang berhasil dicairkan setelah kematian ayahnya.

Lalu, kenapa Park Saeroyi tidak bisa hidup layak dari uang pertanggungan tersebut? Di sinilah lagi-lagi saya menyadari bahwa salah satu titik yang mengubah jalannya cerita menjadi mengenai perjalanan kesuksesan Park Saeroyi adalah karena dia mendapatkan bantuan dari teman sekolahnya yang pernah dibantu saat sedang di-bully bernama Lee Ho-Jin, yang ternyata merupakan sebuah finance geek dan memiliki mimpi untuk membangun sebuah perusahaan manajemen aset.

Lee Ho-Jin inilah yang kemudian mengajarkan Park Saeroyi mengenai finance, sehingga uang pertanggungan yang cair sewaktu dia masih mendekam di dalam penjara dikelola oleh Lee Ho-Jin. Sehingga bisa dibayangkan, Park Saeroyi tidak mengeluarkan sepeser pun uang untuk hidup karena dia hidup di dalam penjara, namun sejumlah uang dalam jumlah besar sedang bekerja untuknya di luar penjara.

Banyak sekali orang mengetahui nominal uang pertanggungan asuransi jiwa yang dimilikinya seberapa besar, namun tidak mengetahui uang ini akan digunakan untuk apa oleh tanggungan (keluarga kita) nantinya saat kita sudah meninggal. Cara yang paling sering digunakan adalah untuk menggantikan pendapatan kita yang sudah meninggal (income-based value). Dengan metode perhitungan ini, maka jika uang pertanggungan tersebut saat cair langsung dimasukkan ke sebuah instrumen investasi dengan imbal hasil tetap (biasanya deposito/obligasi), maka imbal hasilnya sudah cukup untuk menggantikan biaya hidup bulanan keluarga kita. Ini hanya salah satu dari beberapa cara memanfaatkan uang pertanggungan dari asuransi jiwa.

Dalam Itaewon Class, ternyata uang pertanggungan ini sebagian diinvestasikan oleh Park Saeroyi dan Lee Ho-Jin selama belasan tahun, sehingga compound interest bekerja dan menghasilkan imbal hasil yang eksponensial. Sebagian besar lain dibelikan saham perusahaan oknum yang membunuh ayahnya (Jangga Group). Kedua aset inilah yang akhirnya menjadi pendorong utama berjalannya bisnis Park Saeroyi yang pada akhirnya bisa mengalahkan Jangga Group.

Bisnis dan investasi adalah dua hal yang berbeda

Banyak orang yang salah berpikir bahwa berinvestasi itu artinya berbisnis, dua hal yang menurut saya sama sekali berbeda dan jika kita tidak menyadarinya, maka mimpi untuk dapat sukses melalui bisnis ini hanya akan menjadi sebuah ilusi kesuksesan. Investasi dapat kita jalankan tanpa memiliki sebuah bisnis, dan sebaliknya, berbisnis pun bisa berjalan tanpa investasi yang baik.

Dapat kita lihat melalui serial Itaewon Class ini bahwa meskipun Park Saeroyi memiliki dana pokok investasi yang besar, dia tidak kemudian mempertaruhkan semuanya langsung di dalam mimpi bisnisnya, yang banyak sekali dilakukan oleh orang di luar sana, yang melanggar prinsip utama dalam berinvestasi: don’t put all your eggs in one basket. Sebaliknya, Park Saeroyi membiarkan dana investasinya bekerja, sembari tetap bekerja untuk mengumpulkan uang untuk membangun bisnisnya. Bukan sebuah pengorbanan yang kecil, karena bahkan dia harus merelakan cinta pertamanya (bucin alert!) dan pergi bekerja di kapal nelayan yang mengharuskan dia untuk ada di laut selama berbulan-bulan.

Tidak ada mimpi yang dapat dicapai dengan hidup foya-foya

There’s no such thing as “fake it ’til you make it.”

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda adalah seorang pemuda berusia 18 tahun dan tiba-tiba Anda mendapat uang pertanggungan sebesar 5 miliar IDR karena ayah Anda meninggal dunia akibat kecelakaan? What would you do with the money?

Mungkin jiwa muda kita akan bergejolak dan langsung membelanjakan semua barang yang kita inginkan selama ini. Fenomena yang sama yang dirasakan oleh orang yang menang lotere, karena statistik menunjukkan bahwa rerata pemenang lotere hanya perlu waktu beberapa tahun untuk menghabiskan uang kemenangannya dan mulai hidup dari nol lagi.

Tetapi Park Saeroyi tidak jatuh dalam jurang ini dan, di samping kepemilikannya akan uang pertanggungan yang sangat besar nominalnya, tetap dengan sabar menginvestasikan uang tersebut sambil dia sendiri bekerja keras untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari dan mengumpulkan modal perlahan-lahan untuk bisnisnya. Di sepanjang cerita pun tidak pernah digambarkan dia memiliki hidup yang foya-foya, seluruh hidupnya dijalani dengan sederhana.

Apabila Anda sudah terbiasa hidup dengan 2 juta IDR per bulan, akan mudah jika suatu saat Anda memiliki 10 juta IDR per bulan. Namun jika Anda sudah terbiasa hidup dengan 10 juta per bulan, akan sulit sekali untuk tiba-tiba harus hidup lagi dengan 2 juta IDR per bulan.

No dream can be achieved through living lavishly.
The only excuse for living a lavish life is having your dream(s) achieved already.

Kegagalan adalah tanda utama pertumbuhan

Di dalam ceritanya membangun Danbam dan akhirnya Itaewon Class, Park Saeroyi harus melewati kegagalan beberapa kali (restoran dilarang beraktivitas, gagal membangun franchise, dll). Justru melalui kegagalan-kegagalan tersebutlah dia dan bisnisnya bertumbuh. Seringkali kita melihat kegagalan seakan-akan itu adalah akhir dari segalanya dan artinya kita tidak layak/tidak dapat mencapai mimpi kita. Padahal sebenarnya kegagalan adalah tanda yang paling utama dan paling jelas bahwa ada sesuatu yang salah dan harus kita perbaiki. It’s the clearest sign for the need of growing. Ini hanya masalah sudut pandang.

Begitupun halnya di dalam finance dan investasi. Terutama jika Anda pernah merasakan jatuh ke dalam investasi bodong, salah membeli produk asuransi, merasa salah dalam pengaturan alokasi aset, salah menyusun portfolio, dsb. Jangan kemudian jadikan itu sebagai pengalaman pahit yang membuat Anda tidak mau lagi mengatur keuangan atau bahkan tidak mau lagi berinvestasi. Itu justru merupakan tanda bahwa Anda perlu mempelajarinya lebih dalam lagi, agar perlahan-lahan Anda semakin menuju kesempurnaan dalam hal strategi berinvestasi, sesuatu yang betul-betul tailored for your needs dan bukan sekedar “ikut-ikutan” orang lain.

Dendam tidak akan berujung kebahagiaan

Memang tidak berhubungan dengan finance, tapi menurut saya ada pentingnya ditekankan. Sangat baik sekali digambarkan oleh penulis cerita bahwa setelah melalui 16 episode yang panjang, toh pada akhirnya Park Saeroyi tidak mendapatkan kebahagiaan apapun dari keberhasilannya membalas dendam. Setelah meraih kesuksesannya pun, baru dia menyadari bahwa yang lebih berharga adalah prosesnya menuju ke sana, dan dia sudah membuang begitu banyak waktu terbutakan oleh dendam sehingga tidak bisa menikmati prosesnya.

So, if you’re reading this and still has a grudge on something/someone:

Let it go.
Enjoy the climb.


Apakah Anda menyadari juga bahwa ada banyak hal yang dapat dipelajari dari drama Korea?
Atau selama ini hanya konsentrasi ke cerita cintanya?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

 

2 thoughts on “Belajar dari Itaewon Class”

  1. setuju dok dengan kisah ini . berada di lingkungan netijen julid, nyinyir, tumbuh dengan kegagalan, kesalahan yang langsung di hakimi, membuat kita perlu belajar lagi, butuh proses yang panjang untuk saya untuk bangkit dan bisa di level ” let it be” enjoy the climb .. terima kasih dok asupannya

    Reply

Leave a Comment