markus-spiske-LVieFk4bJSo-unsplash
Dissecting Money

Dissecting Money

Kesalahan Terbesar dalam Investasi Reksa Dana

Photo by Markus Spiske on Unsplash

Tidak tahu apa itu reksa dana

Terlalu sering saya melihat/mendengar pertanyaan: “Lebih baik investasi di reksa dana atau di saham?”

Pertanyaan tersebut sebenarnya sangat mencerminkan ketidaktahuan sang penanya akan apa itu reksa dana (RD) dan di mana posisinya di antara instrumen-instrumen investasi lain. Detil mengenai reksa dana sendiri dapat Anda baca lebih mendalam di artikel lain yang berjudul “Reksa Dana untuk Pemula.”

Even worse, saya pernah mendengar seorang sejawat bertanya kepada sejawat lain mengenai apa itu RD, dan dijawab dengan: “Yah, seperti saham tapi lebih aman.”

What kind of explanation is that???

Dalam pengertiannya yang paling sederhana, berinvestasi di RD artinya Anda sedang menitipkan uang Anda untuk diinvestasikan oleh pihak lain secara legal (manajer investasi = MI), membayar biaya pengelolaan, dan berhak menerima imbal hasil apabila hasil dari pengelolaan investasi itu memberikan keuntungan.

That’s it.

Tidak tahu perbedaan jenis dan tipe reksa dana

Memiliki RD bukan serta-merta Anda langsung memiliki sekeranjang saham seperti yang dipercaya kebanyakan orang, karena tidak semua produk reksa dana merupakan produk di mana portofolio investasinya terdiri dari saham-saham.

  • Jika kita berbicara mengenai RD saham, maka barulah bisa dibilang bahwa sang investor akan mendapatkan untung/rugi sesuai dengan performa sekeranjang saham di dalam portofolio MI.
  • Namun jika yang dibicarakan adalah reksa dana pendapatan tetap (RDPT), maka portofolio MI terdiri dari instrumen-instrumen surat utang/obligasi, tidak ada komponen sahamnya sama sekali.
  • Terakhir, yang disebut sebagai reksa dana pasar uang (RDPU) maka artinya portofolio MI hanya akan terdiri dari deposito atau instrumen-instrumen yang setara dengan deposito.

Jadi bisa dipahami bahwa tidak semua RD memiliki komponen saham di dalamnya, tergantung dari jenis RD itu sendiri.

Lalu, khusus untuk RD saham, kebijakan MI dalam mengelola uang yang kita titipkan tadi pun terbagi dalam 2 jenis lagi:

  • RD aktif: MI akan secara aktif menganalisa pasar dan mencoba untuk mengalahkan rerata return market (biasa disebut dengan alpha/α) dengan komponen portofolio saham yang bebas diatur oleh MI sendiri.
  • RD pasif (indeks): MI tidak akan melakukan analisa pasar, dan hanya akan melakukan mimicking terhadap rerata return market (biasa disebut dengan beta/β), portofolionya terdiri hanya dari emiten yang sesuai dengan indeks yang diikuti (misal: IDX30).

Sedikit info statistik: data menunjukkan bahwa 94% dari RD aktif gagal mengalahkan return market dalam jangka panjangnya.

Tidak punya tujuan investasi yang jelas

Jika seseorang bertanya: “Kapan waktu yang tepat untuk mencairkan investasi saya,” biasanya artinya orang tersebut tidak memiliki tujuan investasi.

Karena satu-satunya waktu yang paling tepat untuk mencairkan investasi kita adalah saat tujuan kita sudah tercapai. Bagaimana kita dapat mengetahui waktu tersebut kalau tujuannya saja belum pernah ditetapkan?

Seperti mengendarai mobil, berjalan terus tanpa memiliki tujuan hanya akan membuang-buang bensin dan artinya membuang-buang uang. Berinvestasi tanpa tujuan sama pointless-nya dengan itu, dan hanya akan menjauhkan kita dari return maksimal yang kita dapatkan akibat efek compound interest.

Jadi, pastikan Anda memiliki tujuan investasi yang tertulis dan terarah.

Mencari keuntungan jangka pendek

Karena RD bukanlah sebuah instrumen investasi yang Anda perlu pantau pergerakan harganya setiap hari, atau bahkan setiap bulan. Jadi kalau Anda berinvestasi di RD dan masih mengecek berapa return investasi Anda hari ini, you’re not doing it right.

Dengan mengecualikan RDPU (yang sesuai untuk investasi jangka pendek dan dapat dicairkan kapan saja), RD merupakan instrumen investasi yang membutuhkan waktu sebagai komponen terpenting dalam berinvestasi agar compound interest dapat bekerja dan mengantarkan kita ke nominal tujuan investasi yang sudah kita tetapkan. Atau dengan kata lain: setelah menetapkan tujuan dan rencana investasi kita, maka instrumen ini tinggal “dibiarkan” saja dan tidak kita sentuh-sentuh lagi sampai tujuan tersebut tercapai.

Jadi bila Anda berinvestasi di RD saham dan masih melakukan pencairan saat bursa saham sedang meroket, atau melakukan pencairan saat merugi karena takut akan makin merugi, itu tidak ada bedanya dengan mencoba menggunting kertas dengan obeng – instrumennya salah, dan akibatnya tujuan utama dari penggunaan instrumen tersebut tidak akan tercapai.

Mengejar performa masa lalu

Ini merupakan salah satu kesalahan yang paling umum dalam berinvestasi di RD: memilih MI berdasarkan return 1 atau 5 tahun terakhir yang terpampang di aplikasi/fund fact sheet.

Jangan pernah lupa bahwa di setiap fund fact sheet MI selalu tertulis kalimat ajaib berbunyi: “Performa/kinerja masa lalu tidak mencerminkan performa/kinerja di masa mendatang.”

Dengan kata lain:

Even the investment managers themselves are telling you not to believe what you see there.

So why on earth would you believe it?

Memilih MI dan produk reksa dana harusnya didasarkan kepada pengetahuan kita yang mendalam akan:

  • Apa isi portofolio di dalam produk tersebut? Apakah emiten-emitennya memiliki performa yang baik? Atau malah isinya kebanyakan saham gorengan?
  • Jika RDPT – isi portofolionya surat utang pemerintah atau perusahaan?
  • Bagaimana kebijakan investasinya? Apakah akan mengejar return setinggi-tingginya sehingga akan cenderung mengambil risky investment, atau tidak terlalu berambisi dan hanya akan menyamai return pasar?
  • Berapa biaya yang akan dibebankan kepada investor sehingga mengurangi keseluruhan return kita (expense ratio)?

Now, how are you going to master these if you won’t even read the fund fact sheet or prospectus?

Tidak melakukan diversifikasi kelas aset

Beberapa investor RD berargumentasi bahwa kalau sudah memiliki suatu produk RD saham, karena di dalamnya sudah terdiri dari banyak emiten, maka mereka sudah merasa melakukan diversifikasi.

Namun yang tidak banyak disadari adalah bahwa diversifikasi di dalam satu produk RD tersebut hanyalah diversifikasi dalam satu kelas aset (saham) – well okay, mereka selalu menyisakan biasanya 20% dari keseluruhan portofolio untuk instrumen pasar uang, tetapi itu untuk cash reserve MI, bukan sebuah upaya diversifikasi.

Diversifikasi yang lebih penting untuk dilakukan adalah di kelas aset. Artinya untuk setiap tujuan investasi yang sudah Anda tetapkan, Anda harus melakukan diversifikasi kelas aset (misal: 70% di RD saham, 30% di RDPT).

Dengan demikian, risiko investasi Anda overall akan menurun. Jangan lupa bahwa rahasia utama investor-investor ternama bukanlah memaksimalkan return, tetapi meminimalisir risiko.

Tidak “menabung” rutin

Kata “menabung” saya taruh dalam tanda kutip karena yang dimaksudkan bukanlah menabung rutin, tetapi justru “mengubah” uang menjadi aset (RD) secara rutin.

Karena menggunakan RD sebagai instrumen investasi tidak bisa hanya dengan menaruh sejumlah uang sekali (lump sum) dan selesai begitu saja (kecuali dana yang Anda taruh memang sudah miliaran). Agar compound interest bekerja dengan lebih efektif, maka Anda perlu menaruh uang di instrumen RD secara rutin (misalnya setiap habis gajian), atau yang sering dikenal dengan cara dollar-cost averaging (DCA).

Kebanyakan orang berinvestasi di RD hanya jika sedang ada uang berlebih, sehingga efektivitas dari menggunakan RD sebagai instrumen investasi dalam membangun kekayaan pun jadi tidak optimal. Jika Anda sudah rutin melakukan budgeting setiap bulan, maka porsi yang sudah ditakdirkan untuk suatu tujuan investasi seharusnya langsung diubah menjadi aset RD.

Tidak melakukan portfolio rebalancing

Sebelum saya meluncurkan episode podcast mengenai portfolio rebalancing, banyak sekali yang kebingungan mengenai apa itu portfolio rebalancing dan mengapa seorang investor harus melakukannya. So, do listen to that podcast episode for details.

Penyeimbangan portofolio atau portfolio rebalancing akan menyeimbangkan kembali keseluruhan risiko dari portofolio kita ke proporsi yang sudah kita tetapkan semula (misal: 50% saham, 50% obligasi).

Jika Anda tidak rutin melakukan penyeimbangan (biasanya tiap 6 atau 12 bulan sekali), maka biasanya portofolio Anda akan tergeser akibat porsi di kelas aset yang sedang memiliki performa baik menjadi lebih besar. Alhasil, risiko keseluruhan portofolio tersebut akan bergeser, dan biasanya investor yang tidak melakukan portfolio rebalancing akan terpapar risiko kerugian yang lebih tinggi.


Mudah-mudahan apa yang saya tuliskan di atas memberikan Anda jalan keluar dari kesalahan-kesalahan tersebut.

And they say investing in mutual funds is for beginners?

Think again.


Apakah Anda masih terjebak dalam kesalahan-kesalahan ini?
Ataukah Anda masih bingung dengan istilah-istilah di atas?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Weekly newsletter

Suntikan literasi keuangan (dan kehidupan) mingguan di tengah kesibukan Anda!