Manusia selalu mengharapkan saat memasuki periode baru di dalam kehidupannya semua akan berjalan baik-baik saja, meskipun kekhawatiran pasti sedikit (baca: banyak) mewarnai isi pikiran kita. Residency, based on my own experience, is a very frightening period of time to be welcomed in one’s life. Namun visus retrospektif selalu 20/20, sehingga pada artikel kali ini saya akan membagikan 5 hal yang saya andaikan sudah saya ketahui sebelum menjadi seorang residen.
Saya berharap dengan membaca ini, maka sejawat sekalian yang belum/baru akan memasuki residensi/program pendidikan dokter spesialis (PPDS) bisa memiliki ketenangan batin di dalam menyambut periode yang konon dikenal sebagai periode terkelam di dalam hidup seorang dokter tersebut (hanya untuk dikenang, tidak untuk diulang).
1. Everyone’s under pressure
I am going to tackle this point first and foremost, because I know this is what most of you are afraid about:
Jangan terlalu takut menghadapi senioritas atau hierarki di dalam residensi.
It’s not about you.
Everyone’s under pressure.
Don’t judge anyone before you sit on their position, with a lot of pressure pressing down on you. Imagine how you yourself will behave then.
Jangan salah mengerti, saya bukan secara otomatis menyetujui bahwa dengan dalih tersebut maka semua instruksi dari senior adalah benar. No, I just want you to take the pressure off your shoulder.
Pada saat seorang residen senior meminta bantuan untuk sebuah tugas tulisan diselesaikan secepat mungkin, mungkin beliau sedang tertekan dengan beban pelayanan pasien dan tidak sempat sama sekali memikirkan tentang hal itu, sementara tugas tersebut merupakan sebuah syarat untuk naik tingkat.
Pada saat seorang residen senior memaki Anda karena kesalahan yang Anda buat di hadapan umum, mungkin beliau sedang dipusingkan dengan anaknya yang sedang sakit, sementara beliau tertahan di rumah sakit dengan mengemban tanggung jawab untuk pelayanan pasien.
It’s not about you. Take it easy.
Saya sepenuhnya paham bahwa di luar sana tetap saja ada praktik senioritas yang disalahgunakan dan jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan kehidupan akademis sama sekali. But even then: don’t pity yourself, pity them for having such a low quality of life that they’d need your help to make their life somewhat more bearable.
2. Skill comes later
Satu hal yang paling saya benci di pendidikan kedokteran (S1) dulu adalah fenomena “berebut tindakan” antar co-ass. Rebutan tindakan mengambil akses intravena, rebutan kesempatan untuk intubasi pasien untuk log book, dan lain sebagainya. Dalam prosesnya, biasanya akan jelas terlihat ego dari orang-orang di sekitar kita yang bisa menghalalkan segala cara supaya sehingga diri masing-masing “aman” di dalam proses penilaian.
Hal inipun ternyata berlanjut ke pendidikan dokter spesialis.
“Saya belum pernah mencoba melakukan tindakan A, jadi berikutnya ada kesempatan, saya akan melakukan segala cara untuk mendapatkan tindakan tersebut.”
“Saya masih belum mahir melakukan tindakan B, jadi residen yang lain seharusnya mengalah dan memberikan kesempatan lebih untuk saya.”
Mengapa terjadi fenomena ini? Biasanya karena seseorang berpikir bahwa jika dia tidak mendapatkan kesempatan itu, maka dia tidak akan memiliki keahlian untuk tindakan tersebut saat sudah bekerja kelak. Padahal kenyataannya apakah dengan ngegas untuk mendapatkan tindakan tersebut berarti sama dengan skill kita akan bagus pada saat bekerja nanti? Sama sekali tidak.
Skill comes later.
Itulah mengapa saya selalu mengedepankan pentingnya memiliki mentor di dalam kehidupan pekerjaan selepas kita lulus dari pendidikan, agar kita selalu dinilai dan didorong untuk selalu menjadi lebih baik. Keahlian (soft maupun hard skill) tidak terbentuk serta-merta karena kita “mendapat kesempatan tersebut lebih banyak di zaman pendidikan,” tetapi karena konsistensi menjalankannya dengan niat bahwa kita akan selalu mencoba untuk lebih baik dibandingkan sebelumnya.
So take it easy, docs.
Tidak perlu rebutan tindakan, it won’t guarantee you’ll have a great skill, anyway.
Be kind, give the opportunity to the ones who need it the most.
3. There’s always time to study
Cerita ini sudah seringkali saya ungkapkan baik di dalam blog ini maupun di podcast, tetapi saya tidak akan ragu untuk mengulangnya berkali-kali untuk sejawat sekalian.
Seringkali di dalam pendidikan spesialis (residensi) kita terlalu mengedepankan realita bahwa beban pelayanan yang diberikan kepada kita terlalu berat, sehingga kita seakan-akan tidak memiliki waktu untuk belajar.
Suatu hari, di dalam pendidikan spesialis yang saya jalani, saya bertanya kepada seorang senior saya yang terbilang “sangat pintar” pada waktu itu, baik di mata konsulen maupun di mata para residen: “Bang, bolehkah saya mengetahui cara belajar Abang, agar saya dapat mencoba mempraktikkannya juga?”
Di saat jawaban yang saya harapkan pada saat itu adalah semacam kiat praktis, textbook rahasia ataupun semacam jadwal harian yang dapat saya susun, jawaban beliau justru sangat menghenyakkan, membuat saya terdiam, dan bahkan jawaban tersebut terngiang-ngiang di telinga saya sampai sekarang:
“Kalau loe punya waktu untuk boker pagi-pagi, loe punya waktu untuk belajar.”
Quite explicit, I know, but somewhat very profound.
Semua orang mendapat jatah waktu yang sama dalam 1 hari, yakni 24 jam.
Tidak akan ada program studi yang memberikan jadwal khusus kepada kita untuk belajar mandiri 2 jam per hari.
So, the question becomes: what are we doing in our own 24 hours?
There’s ALWAYS time to study, we just need to find it within those 24 hours.
Find it.
Because nobody else is going to do it for you.
4. Bad results will come
Ada satu hal yang selalu dibicarakan di kalangan spesialis perihal outcome yang kurang baik atau bahkan buruk dalam menatalaksana suatu penyakit:
If someone always have good outcome of a specific treatment method, he/she just hadn’t done it enough times.
Jika seseorang selalu memiliki outcome yang baik dari penatalaksanaan sebuah penyakit, maka dia belum menatalaksana penyakit tersebut cukup sering.
Atau dengan kata lain: hasil buruk PASTI akan menghampiri kita suatu hari.
It’s just a matter of “when,” not “if.”
Jadi, waspadalah justru ketika hasil-hasil dari penatalaksanaan kita terhadap pasien cenderung “lancar-lancar saja” dalam beberapa waktu ke belakang, karena biasanya justru di situlah kelengahan akan masuk.
On the flip side, tentunya bukan berarti kita pasrah saja dan bekerja asal-asalan karena “toh nanti hasil buruk akan datang,” tetapi kita seharusnya justru semakin bersiap-siap dengan baik setiap kali melakukan suatu tindakan yang terkesan seperti “mudah” atau terkesan jadi sebuah “rutinitas” saking seringnya kita lakukan. Pelajari ulang sebelum mengerjakannya, lihat video-video di YouTube, minta arahan dari mentor atau bahkan minta waktu mentor untuk mengawasi kita.
Pernahkah Anda bertanya mengapa konsulen-konsulen di sentra pendidikan hampir selalu merupakan orang-orang yang paling ahli di dalam bidangnya? Karena mereka memiliki mentor/supervisor yang selalu standby baik di kamar operasi maupun di ruang diskusi untuk menilai, mengoreksi, menambahkan dan mendorong mereka untuk selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Learn not only from your mistakes, but also from other people’s.
5. Save and invest whatever money you can save
Tentunya blog ini bukan merupakan sebuah blog physician finance jika tidak membahas mengenai dinamika keuangan saat menjalani residensi.
Hampir semua orang yang terbuka matanya dan menjadi financially literate di dalam satu titik kehidupannya, hampir semua akan berpikir “I wish I had known this earlier.” Saya pun demikian, setelah mempelajari dan mengetahui bagaimana dengan gaya berinvestasi secara pasif dan mengandalkan kekuatan matematis dari compound interest sebenarnya sudah cukup untuk mengantarkan saya ke tahap financial independence kelak, maka saya berpikir:
Masakan menabung dan menginvestasikan 200 ribu IDR saja per bulan semasa residen dulu saya tidak bisa?
Yang mungkin hanya memerlukan pengorbanan seharga 1 kali makan di Sushi Tei atau 1 helai baju di Uniqlo setiap bulannya.
Memang mungkin sejawat sekalian akan berpikir hasil dari compound interest dari 200 ribu IDR per bulan selama 4-5 tahun masa residensi tidak akan seberapa. Namun, semua orang yang sudah mencoba menjalaninya pasti memahami bahwa investasi tidak hanya mengenai nominalnya, tetapi juga sarat dengan unsur psikologis di kepala sang investor.
Jika seorang residen yang notabene sedang menjalani “periode terkelam” di dalam kehidupannya sebagai dokter saja selalu bisa menyisihkan sebagian dari uang jajannya setiap bulan untuk berinvestasi, akan mudah baginya untuk menabung dan menginvestasikan lebih banyak setiap bulannya pada saat gajinya sebagai dokter spesialis sudah mencapai nominal puluhan juta.
Jika seorang residen sudah dapat menyadari bahwa dengan menunda gratifikasi untuk dirinya sendiri akan mengantarkannya ke kemapanan finansial 20-30 tahun lagi, maka sebagai dokter spesialis dia tidak akan terjebak dengan inflasi gaya hidup dan bisa menjadi dokter yang biasa-biasa saja.
So make sure as a resident you save and invest whatever amount of money you can.
Demikianlah 5 hal yang saya andaikan sudah saya ketahui sebelum saya menjadi seorang residen.
Mudah-mudahan artikel ini dapat membantu teman-teman sejawat yang sedang atau baru akan menjalani masa residensi.
Relax, you’ll get through it just fine.
Hal lain apa yang Anda harap sudah Anda ketahui sejak masa residen?
Apakah ada hal yang berkaitan dengan keuangan dan investasi?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.
Photo by felipepelaquim on Unsplash
4 thoughts on “Andai Saya Mengetahui 5 Hal Ini sebelum Jadi Residen”
senioritas ada bukan tanpa sebab, pada akhirnya sampai di titik itu, dulu berusaha baik (cenderung terlalu baik dengan junior), yang ada malah ada yg agak kelewatan (bukan berarti senioritas adalah segalanya)
menjadi lebih bijak terkait senioritas adalah salah 1 hal yang dialami dalam residensi, ada yang dapat diajak kerjasama, ada yang terpaksa dikesampingkan (biasa saja), dijalani saja seperti tulisan senior
suatu pengalaman yang patut dicoba dan diusahakan (jika memang ada keinginan)
Terima kasih dokter sudah membuat blog ini dan wadah untuk berbagi… Sukses selalu..
*dari subscriber yang masih hilang timbul membaca rutin blog atau denger podcast
Sama-sama dok, thanks for reading and listening!
selamat pagi dok ijin bertanya dok, sy sangat suka oberolahraga yaitu lari pagi terutama ketika lagi stress, namun di sela kesibukan saya sebagai seorang residen terutama residen semster 1…sy d hadapkan pada jadwal yang dimana sy tidak menemukan waktu yang tepat untuk berolahraga terutama lari pagi. Bagaiaman caranya dok agar sy bisa tetap berolahraga, mohon arahannya dokter mengenai bagaimana sy bisa teteap berolahraga di antara kesibukan sy. terimakasih dokter
Saya dulu juga mengalami hal yang sama, dari rutin berolahraga kemudian dengan jadwal baru selama residensi jadi “kacau” jadwal olahraganya. Yang bisa saya lakukan waktu itu adalah mengubah jadwal olahraga jadi malam hari sebelum tidur. At one point saya ingat bahkan ada waktu dimana jam 10 malam saya baru mulai melakukan olahraga. Meskipun demikian, memang ada beberapa periode semasa residensi dimana kita akan sangat sibuk dengan pelayanan pasien dan tidak sempat berolahraga sama sekali. Saya baru bisa kembali berolahraga secara rutin setelah mencapai semester 7 residensi. Menurut saya hal ini memang tidak mengenakkan, tetapi faktanya memang dalam hidup tidak semuanya akan bisa berlangsung sebagaimana kita ingini. Tantangan ini pun akan kita hadapi nanti setelah lulus jadi dokter spesialis: bagaimana bisa mengatur waktu untuk berolahraga jika sedang ada banyak pasien, banyak konsul, dan banyak operasi? Tentunya kita harus beradaptasi dengan setiap perubahan di dalam keseharian kita ini. So I guess life is not a straight line dan memang kita yang harus bisa beradaptasi terhadap setiap perubahannya. I’m still doing it now, every day, every week. Yang paling penting adalah kebiasaan/habit untuk selalu mau mencari waktu untuk berolahraga itu jangan sampai hilang. Hope that helps!