Manajemen Keuangan Residen

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Looking back

First and foremost, jangan beranggapan bahwa saya adalah seseorang yang berhasil melakukan manajemen keuangan dengan baik semasa residen. Teman-teman yang dekat dengan saya pasti mengetahui bahwa saya bukanlah orang yang paling bijak perihal keuangan di masa-masa itu. Namun justru karena menapak tilas masa-masa itu dengan kacamata finance yang saya miliki sekarang maka saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk “memperingatkan” sejawat yang masih menjalani masa residen/PPDS.

Mengapa saya menggunakan kata “memperingatkan?” Apakah artinya ada sesuatu yang berbahaya yang perlu residen tahu? Well, not exactly. Namun ada beberapa hal mengenai kedewasaan keuangan yang menurut saya jika tidak dipersiapkan sedari kita masih menjalani residensi, bisa menjadi titik lemah kita saat menjadi seorang spesialis nantinya.

Psikologi keuangan seorang residen

Sekarang saya akan memaparkan mengapa menurut saya dengan cara atau “adat” kita di dalam belajar kedokteran dijalankan, seorang residen yang merupakan calon dokter spesialis akan menjadi sangat mudah terjebak di dalam rat race di masa bekerjanya nanti. Rat race macam apa? Let me walk you through it.

Mengapa saya bilang ini seakan-akan adalah sebuah “adat?” Karena apa yang kita alami sebagai residen di Indonesia sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh residen di negara lain (terutama negara maju di mana residennya mendapat gaji). Perbedaan antara seorang residen dan seorang dokter spesialis konsultan seringkali ibarat langit dan bumi.

Dari segi keuangan, mayoritas residen (yang bukan dari keluarga kaya 7 turunan) biasanya akan mengalami masa-masa keuangan tersulitnya dalam hidup. Apalagi yang semasa residen melalui perubahan penting di dalam kehidupan pribadinya seperti menikah, punya anak, dsb.

Kontrasnya, saat residen menjalani masa pendidikan, dia akan selalu melihat dokter-dokter spesialis konsultan di sekelilingnya yang sudah memiliki gaya hidup dengan segala kemewahan yang biasa dimiliki oleh seorang dokter spesialis (jam tangan mewah, mobil mewah, tas dan baju branded, dll). Sehingga, tanpa disadari, alam bawah sadar seorang residen akan berpikir bahwa “tidak apa-apa saya menderita sekarang, sesegera mungkin setelah lulus, seperti itulah gambaran kehidupan yang akan saya miliki.”

Subconsciously, your surrounding is setting you up slowly for a certain lifestyle creep.

Sehingga apa yang terjadi setelah residen tersebut lulus sebagai dokter spesialis sudah saya tuangkan sebelumnya dalam artikel “Kesalahan Terbesar Dokter Spesialis.”

Now that you realize that life as a resident messes with your psyche towards money, now we can start to do something about it.

Latihan manajemen keuangan untuk residen

Saya sebut sebagai “latihan” karena biar bagaimanapun, seorang residen belum memiliki pendapatan yang tetap (kecuali jika Anda memang sudah punya pendapatan tetap dari side gig), jadi semua yang saya jabarkan mungkin hanyalah sebagai persiapan untuk Anda menjalani awal-awal masa berpraktik sebagai spesialis nanti.

Berikut ini adalah hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk melatih kesadaran Anda tentang pentingnya pengaturan keuangan untuk seorang dokter.

1. Catat pengeluaran setiap bulan

Latihlah hal ini, sebagai yang utama dan yang terutama. Terlalu banyak saya jumpai di luar sana sejawat yang sudah memiliki pendapatan tinggi, namun sama sekali tidak mengetahui berapa pengeluaran persisnya setiap bulan. No no, jika jawaban Anda masih seperti “yaaahh pengeluaran saya setiap bulan sekitar 10-12 juta,” itu artinya Anda belum mengetahui berapa pengeluaran rutin Anda per bulan, karena Anda masih melaporkannya dalam range.

Pencatatan pengeluaran ini terkesan remeh-temeh, but I dare you to try to do it routinely for 3 consecutive months! Mungkin Anda akan semangat di bulan pertama, dan sudah mulai kendur di bulan kedua. Try to prove me wrong. Konon residen dikenal sebagai dokter-dokter yang tangguh, kan?

Baru setelah Anda melakukan ini, Anda memiliki helicopter view pengeluaran Anda setiap bulannya, apa saja kira-kira hal yang sebenarnya masih merupakan pengeluaran yang tidak esensial (tidak ada pengeluaran itu pun Anda masih bisa hidup nyaman sebagai residen). Dengan melakukannya selama 3 bulan, maka harapan saya Anda sudah dapat point out mana hal-hal yang tidak penting yang tidak perlu jadi pengeluaran rutin, sehingga Anda mengetahui dengan pasti sebenarnya berapa nominal pengeluaran untuk kebutuhan rutin yang Anda butuhkan setiap bulan.

2. Mulai latihan budgeting

As always. Saya tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan Anda untuk mulai melakukan penganggaran/budgeting. Jika Anda belum mengetahui caranya, subscribe untuk e-mail newsletter Dissecting Money dan akan saya kirimkan video tutorial budgeting sederhana menggunakan Microsoft Excel.

Jika Anda sudah memiliki pendapatan tetap namun Anda tidak memiliki file Microsoft Excel untuk budgeting setiap bulannya, menurut saya mungkin Anda memang tidak sebegitu seriusnya mau mengatur keuangan dengan baik, dan tidak mau mempersiapkan masa pensiun Anda dengan seksama. Maka itu, biasakanlah untuk melakukan budgeting bulanan ini sedini mungkin.

Dari manapun sumber pendapatan Anda (uang jajan dari orangtua, hasil dari bekerja sebagai dokter umum sebelumnya, pendapatan dari kerja sampingan, pendapatan suami/istri) mulailah belajar untuk betul-betul mengetahui setiap sen dari uang Anda keluar ke mana pada bulan tersebut. Selain itu, yang lebih penting adalah dengan melakukan budgeting artinya Anda sudah mendapatkan berapa rasio tabungan/savings rate Anda setiap bulannya. Pengetahuan tentang savings rate Anda ini merupakan salah satu kunci untuk membangun kekayaan.

If you can already tell how much your savings rate is each month, you’re halfway there!

3. Mulailah mempelajari instrumen-instrumen investasi

Sembari melakukan kedua hal di atas, mulailah mempelajari jenis-jenis instrumen investasi yang ada. Apabila Anda merasa bahwa opsi yang ada terlalu banyak, minimal kuasailah mengenai saham dan obligasi, karena kedua instrumen ini merupakan instrumen kunci dalam penyusunan portfolio investasi seseorang.

Jika Anda memiliki waktu luang di tengah-tengah masa pembelajaran, daripada menonton film serial di televisi, cobalah untuk membaca buku-buku atau bahkan film-film mengenai finance. Terus terang ini adalah hal yang saya pribadi sangat sayangkan, karena saya sendiri tidak melakukan itu dan merasa terlambat memiliki literasi keuangan yang memadai.

4. Perlu/tidak mengumpulkan dana darurat?

Idealnya memang dana darurat ini dipersiapkan sebelum Anda berinvestasi. Namun mayoritas residen biasanya belum memiliki pendapatan tetap, sehingga saya kembalikan lagi ke Anda: apakah Anda mau memrioritaskan pengumpulan dana darurat dulu agar nanti lebih ringan beban pengumpulannya saat sudah bekerja, atau menunda mulainya pengumpulan dana darurat setelah nanti lulus saja dan tabungan yang sementara ada diinvestasikan dulu.

Mengapa opsi yang kedua? Karena komponen terbesar untuk mencapai kekayaan melalui efek compound interest adalah waktu. Semakin dini Anda menaruh uang di sebuah instrumen investasi, imbal hasil yang Anda dapatkan dalam jangka panjangnya akan lebih besar.

Jika dan hanya jika Anda sudah melakukan budgeting yang teratur dan dana darurat sudah terkumpul, baru Anda boleh mulai untuk berinvestasi, karena di titik ini Anda sudah memahami bahwa uang yang Anda investasikan adalah “uang nganggur” yang tidak akan Anda butuhkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

5. Pelajari mengenai asuransi

Menurut saya jika Anda menunggu sampai menjadi dokter spesialis untuk mulai mempelajari atau bahkan membeli asuransi, itu sudah sangat terlambat. Bukan hanya terlambat, namun akibatnya saat Anda memiliki pendapatan (yang harus diakui cukup tinggi), apabila Anda tidak memiliki pengetahuan yang baik mengenai asuransi Anda akan menjadi sasaran empuk para agen asuransi. Sudah terlalu banyak cerita sejawat yang “salah” membeli asuransi karena membeli produk-produk yang tidak mereka ketahui.

Sementara, asuransi itu bukanlah sebuah pilihan, namun suatu kewajiban untuk dimiliki bahkan sebelum Anda mulai berinvestasi, karena fungsi utamanya adalah sebagai proteksi aset-aset yang Anda miliki.

Jenis-jenis asuransi yang harus dimiliki oleh seorang dokter sudah pernah saya bahas di sini.

Berdasarkan dari informasi yang saya dapatkan terakhir, sudah sangat baik bahwa peserta didik (residen) sekarang diwajibkan untuk memiliki BPJS Kesehatan dan BPJamsostek (tapi untuk BPJamsostek ini silakan cek lagi ke program studi, karena masih relatif baru kebijakannya). Artinya, minimal jika amit-amit Anda menderita suatu penyakit atau kecelakaan semasa pendidikan, Anda memiliki BPJS Kesehatan untuk perawatan penyakit dan BPJamsostek untuk menanggung biaya kecelakaan kerja (dari dan menuju RS), sehingga Anda tidak perlu mengeluarkan dana pribadi yang diutamakan untuk kelangsungan residensi itu sendiri.

Sebagai tambahan, BPJamsostek selain menjamin risiko kecelakaan kerja, di dalamnya juga terdapat potongan rutin untuk jaminan pensiun dan jaminan hari tua, sehingga perlahan-lahan Anda pun dapat mulai belajar mengenai pentingnya perencanaan untuk dana pensiun dari detik pertama Anda memiliki pendapatan tetap nantinya.

Beberapa tips dan trik

Apa yang saya jabarkan di atas adalah fondasinya, yang akan menjadi dasar dalam Anda mengatur keuangan Anda sebagai seorang residen. Namun, berikut ini adalah beberapa hal yang menurut saya layak untuk Anda pikirkan dan perhitungkan.

1. Biaya transportasi ke RS

Jikalau memungkinkan, carilah tempat tinggal yang jarak menuju RS dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik sepeda. Mengapa? Karena hal ini akan sangat menghemat biaya, karena pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan bermotor, perawatannya, dan biaya parkir (ini seringkali tidak kita perhitungkan) jika Anda menggunakannya untuk pulang-pergi sehari-hari akan membuat pengeluaran Anda bengkak. Tentunya tidak apa-apa untuk tetap memiliki kendaraan bermotor, namun sifatnya hanya standby untuk keperluan-keperluan tertentu di mana Anda perlu berkendara.

Jika Anda memiliki rumah (atau masih tinggal di rumah orangtua) meskipun agak jauh dan tidak ingin menyewa indekos karena menjadi tambahan biaya, pastikan hal ini Anda perhitungkan benar-benar: lebih besar pengeluaran rutin jika pulang-pergi dari rumah, atau jika Anda menyewa indekos murah di sekitar RS?

Semua ini tentunya karena Anda akan menghabiskan mayoritas waktu Anda di RS, sehingga opsi tinggal dekat dengan RS akan sangat memudahkan Anda dari segi biaya dan juga penghematan waktu, serta akan sangat membantu Anda dalam manajemen stres (bayangkan mengalami seluruh beban pendidikan atau bahkan jaga malam dan Anda masih harus mengendarai kendaraan bermotor 30 menit sampai 1 jam lagi sebelum sampai di rumah).

2. Kurangi jajan yang tidak penting

Satu hal yang paling sering saya lakukan semasa residen dulu dan saya sesali sekarang adalah membeli makanan/minuman jajanan yang kurang penting. Mungkin terlalu banyak uang saya di masa-masa itu terbuang percuma untuk minuman botolan di mana tidak ada bedanya untuk melepas dahaga dengan sebotol air putih (plus lebih sehat tentunya).

Pelajari hal-hal lain yang seringkali membuat Anda bangkrut tanpa Anda sadari di sini.

Saya yakin apabila saya sudah memiliki mindset seperti sekarang, pasti dulu semasa residen saya sanggup menabung minimal 200-500 ribu IDR setiap bulannya. Berapa uang 500 ribu IDR per bulan jika diinvestasikan secara rutin selama 5 tahun (asumsi waktu sampai lulus) di instrumen investasi dengan imbal hasil 7% setelah dikurangi inflasi?

34.504.434 IDR

Well, mungkin jumlah yang tidak sesuai harapan Anda, but still quite a nice amount of money to have upon graduation. Jumlahnya memang tidak seberapa, namun jika kebiasaan berinvestasi rutin ini Anda biasakan sejak zaman residen, you’d be a lot wiser when you have a huge payday in the future. And that wisdom alone, is priceless.

3. Cari income tambahan

Yes, yes, I know. Menjalani residensi saja sudah susahnya setengah mati, apalagi jika harus memiliki pekerjaan sampingan? But it’s not impossible. So all I’m saying is just keep an eye out for opportunities.

Jangan lupa poin yang sudah seringkali saya ungkapkan: di zaman ini, suatu skill bisa dengan mudah Anda dapatkan hanya dengan 1-2 jam sehari nonton video tutorial di YouTube. Pelajarilah cara sound editing, video editing, web design, dsb. Jika Anda sudah memiliki skillset ini dan memiliki waktu yang cukup, maka mungkin saja ini dapat menjadi income tambahan, karena banyak sekali yang memerlukan jasa-jasa ini di luar sana. Sudah beberapa kali saya ceritakan bahwa banyak sekali mahasiswa kedokteran dan dokter umum yang mendapat uang tambahan dari menyediakan jasa-jasa semacam ini.

Meskipun skillset ini belum tentu bisa membantu Anda menghasilkan uang, tapi akan sangat terpakai untuk perjalanan Anda menjadi seorang residen atau bahkan seorang dokter spesialis.

In fact, why not make a blog/podcast/vlog about your journey being a resident? That would be interesting. Think early about building your personal brand as a #disruptivedoctor!

Mulailah pelajari apa itu domain dan hosting untuk membuat sebuah website. Saya sendiri membeli domain dan hosting di Domainesia. Biaya untuk hosting per tahun hanya sekitar 200-400 ribu IDR. Seorang residen yang sepatu sehari-harinya Onitsuka Tiger tentunya mampu meluangkan uang sejumlah demikian untuk beli domain dan hosting.

Sekian dari saya, mudah-mudahan bermanfaat untuk sejawat saya tercinta yang sedang menjalani program residensi.

Keep your chin up!

You got this, future disruptive doctors..


Apa yang menjadi kesulitan utama Anda dalam mengatur keuangan selagi menjalani residensi?
Tinggalkan komentar di kolom di bawah.

16 thoughts on “Manajemen Keuangan Residen”

  1. Thank you doc. Sebagai residen yang mau persiapan ujian board dalam 6 bulan ke depan.. blog/IG/YouTube nya dissectingmoney benar2 membuka wawasan luas.

    Reply
  2. Cocok d berikan pada residen level mandiri/ advanced di mana dia sudah bisa aga bernapas, karena jari jemarinya sakti, serta ada yg dpt kesempatan jd “supir tembak” / gantijn praktek .. asal mau buka pikiran hehehe ini yg sulit.. karena ada yg terlahir dari latar belajang liberal ada yg konvensional..

    Reply
  3. In fact, why not make a blog/podcast/vlog about your journey being a resident? That would be interesting. Think early about building your personal brand as a #disruptivedoctor!
    >>> kayanya mendapat jawaban gimana memulai keinginan nulis yang masih tertunda..

    Thx udah share cerita dan pengalaman dokter..

    Reply
  4. ide untuk blogging menarik juga dok.
    sudah pernah terpikir untuk menulis blog, kendalanya hanya di niat yang hilang timbul
    terima kasih dok untuk insightnya.

    Reply

Leave a Comment